Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Workshop Kolaboratif untuk Perencanaan Desa yang Lebih Kuat

Workshop Kolaboratif untuk Perencanaan Desa yang Lebih Kuat
Minat|Pelatihan Komprehensif

Perencanaan desa perlu berangkat dari kapasitas lokal

Perencanaan desa adalah proses menentukan prioritas pembangunan secara partisipatif, terukur, dan berkelanjutan agar keputusan pemerintah setempat menjawab kebutuhan warga. Karena itu, pelatihan yang menghubungkan aturan, tahapan kerja, dan potensi lokal lebih berguna daripada agenda yang berhenti pada pemaparan materi.

PT Bukit Asam (PTBA), anggota Holding Industri Pertambangan MIND ID, menggelar Workshop Penguatan Kapasitas Perencanaan Desa/Kelurahan Ring 1 di Diklat PTBA, Tanjung Enim, pada 27 Oktober 2026. Kegiatan ini ditujukan untuk membantu pemerintah desa dan kelurahan menyusun rencana pembangunan yang partisipatif, terukur, dan berkelanjutan. Langkah tersebut patut dinilai dari dampaknya bagi warga: apakah kebutuhan sehari-hari masuk ke prioritas, dan apakah rencana bisa diterjemahkan menjadi program yang dapat dilaksanakan.

Alasan pendekatan ini relevan juga tampak pada cara PTBA memaknai kinerja. Sekretaris Perusahaan Eko Prayitno menyatakan bahwa kinerja perusahaan tidak hanya diukur dari aspek keuangan dan operasional, tetapi juga dari kualitas pelayanan dan kontribusi kepada masyarakat. Ukuran itu menempatkan peningkatan kapasitas pemerintahan desa sebagai bagian penting dari hubungan perusahaan dengan lingkungan operasionalnya, bukan sekadar pelengkap program.

Workshop Kolaboratif untuk Perencanaan Desa yang Lebih Kuat

PTBA memperjelas jalur dari rencana ke anggaran

Kekuatan pelatihan PTBA terletak pada fokusnya terhadap perangkat perencanaan yang benar-benar dipakai pemerintah setempat. Peserta mempelajari tahapan RPJMDes, RKPDes, DU-RKPDes, hingga APBDes untuk periode 2026–2028; peserta kelurahan juga memperoleh pemahaman tentang musyawarah perencanaan pembangunan atau musrenbang. Susunan materi ini penting karena gagasan pembangunan hanya berpeluang diwujudkan ketika dapat bergerak dari dokumen rencana menuju pembahasan prioritas dan anggaran.

Materi keberlanjutan dan perencanaan pembangunan desa dipandu oleh tim PTBA bersama Yayasan Pusat Kegiatan Kepemudaan FISIP Universitas Indonesia. Forum itu mempertemukan perwakilan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Muara Enim, Kecamatan Lawang Kidul, unsur keamanan, serta pemerintah desa setempat. Kombinasi pengetahuan teknis dan partisipasi lintas lembaga memberi peluang agar tata kelola desa tidak berjalan terpisah dari konteks sosial dan kebutuhan wilayah.

Namun, pelatihan akan kehilangan nilainya bila dokumen berhenti sebagai administrasi. Penandatanganan nota kesepahaman PTBA dan Pemerintah Kecamatan Lawang Kidul memberi jalur tindak lanjut melalui penguatan program PPM yang inklusif dan berkelanjutan, meliputi pendidikan, kesehatan, kemandirian ekonomi, sosial budaya, lingkungan, serta infrastruktur penunjang. Ukuran keberhasilannya kelak bukan banyaknya materi, melainkan konsistensi pelaksanaan dan manfaat yang dirasakan warga.

Workshop Kolaboratif untuk Perencanaan Desa yang Lebih Kuat

PIM mengaitkan tata kelola dengan ekonomi keluarga

Program PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) mengambil jalur yang lebih luas daripada pembahasan dokumen perencanaan. Melalui TJSL, PIM mengadakan Pelatihan Peningkatan Kapasitas Geuchik di lingkungan perusahaan selama dua hari, 3–4 November 2026, di Banda Aceh. Pesertanya mencakup geuchik beserta istri atau Ketua TP-PKK, unsur kecamatan, dan para mukim. Fokus kegiatan menghubungkan kapasitas aparatur, kepemimpinan, pemberdayaan ekonomi, serta sinergi perusahaan, pemerintah, dan masyarakat.

Pada hari pertama, peserta menerima materi tata kelola dan pemberdayaan ekonomi gampong dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Gampong Provinsi Aceh, disusul pembekalan kepemimpinan dan transparansi pengelolaan dana desa. Sementara itu, para Ketua TP-PKK mengikuti kegiatan yang berfokus pada pemberdayaan ekonomi perempuan, termasuk kunjungan pembelajaran tentang usaha berbasis potensi gampong. Pelibatan TP-PKK memperluas pandangan tentang siapa yang ikut membangun ekonomi lokal: bukan hanya aparatur pemerintahan, tetapi juga keluarga dan kelompok perempuan.

Pada hari kedua, seluruh peserta mengikuti kegiatan lapangan. Kunjungan ke pengolahan ikan, praktik pemberdayaan masyarakat, usaha kelembagaan, serta destinasi wisata dan BUMG memperlihatkan beberapa cara potensi lokal dapat diolah menjadi sumber kegiatan ekonomi. Nilai pendekatan ini terletak pada pembelajaran yang dapat dilihat langsung; tantangannya ialah memastikan contoh tersebut disesuaikan dengan kemampuan, sumber daya, dan kebutuhan setiap gampong, bukan disalin begitu saja.

Workshop Kolaboratif untuk Perencanaan Desa yang Lebih Kuat

Dua pendekatan, satu tuntutan: tindak lanjut

Perbandingan kedua program menunjukkan fokus yang berbeda namun saling melengkapi. PTBA menekankan pelatihan perencanaan desa dengan alur formal dari RPJMDes hingga APBDes dan musrenbang. PIM menautkan tata kelola pemerintahan dengan kepemimpinan, pemberdayaan ekonomi, keterlibatan TP-PKK, dan pembelajaran lapangan. Yang pertama memperkuat peta kerja pemerintah; yang kedua memperlebar siapa yang terlibat dan bagaimana potensi ekonomi dapat dikembangkan.

Kolaborasi pemangku kepentingan akan berarti jika menghasilkan pembagian peran dan tindak lanjut yang jelas. PIM berharap sinergi perusahaan, pemerintah, dan masyarakat berkembang menjadi program yang memberi manfaat nyata serta memperkuat kemandirian ekonomi gampong. Harapan tersebut sejalan dengan nota kesepahaman PTBA dan Kecamatan Lawang Kidul, tetapi keduanya tetap perlu diuji melalui penerapan di tingkat lokal.

Kesimpulannya, peningkatan kapasitas pemerintahan desa tidak cukup ditempuh lewat satu jenis pelatihan. Pemahaman atas tahapan perencanaan perlu berjalan bersama keterlibatan warga, penguatan tata kelola desa, dan pengembangan ekonomi sesuai potensi setempat. PTBA menawarkan ketegasan proses; PIM menunjukkan luasnya kolaborasi. Jika keduanya diteruskan menjadi kerja nyata, warga berpeluang memperoleh pembangunan yang lebih terarah dan manfaat yang lebih tahan lama.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!