Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Asosiasi Mebel Perluas Jaringan Internasional untuk Daya Saing Global

Asosiasi Mebel Perluas Jaringan Internasional untuk Daya Saing Global
Minat|Pertukangan Kayu

Kolaborasi lintas batas: dari produksi massal ke ekosistem pengetahuan

Kolaborasi industri mebel adalah strategi terencana yang menghubungkan asosiasi pelaku usaha, perguruan tinggi, dan lembaga jaminan sosial untuk mendorong inovasi kerajinan kayu, memperkuat perlindungan pekerja mebel, serta meningkatkan daya saing produk di pasar global melalui riset, pengembangan talenta, dan tata kelola kerja yang lebih manusiawi. Dalam beberapa hari di pertengahan Oktober, HIMKI menandatangani dua nota kesepahaman penting: dengan Universiti Teknologi MARA (UiTM) di Tangerang pada Kamis 15 Oktober 2026, dan dengan BPJS Ketenagakerjaan di ajang Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 pada Rabu 14 Oktober 2026 di ICE BSD City, Tangerang. Rangkaian MoU ini bukan sekadar seremoni; ia menandai pergeseran orientasi asosiasi dari sekadar mengurus produksi dan pasar menuju membangun ekosistem pengetahuan, perlindungan sosial, dan jejaring regional yang saling menguatkan.

Menggandeng Malaysia: riset dan inovasi sebagai poros baru industri

Langkah HIMKI menggandeng UiTM Malaysia menunjukkan bahwa kolaborasi industri mebel di kawasan bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan strategis. Abdul Sobur menegaskan bahwa kedua pihak memiliki bahan, keterampilan, tradisi kriya, dan kapasitas pendidikan yang saling melengkapi, dan MoU ini menjadi titik awal mempertemukan potensi tersebut. Fokusnya jelas: riset terapan, inovasi desain, penguasaan teknologi digital, ekonomi sirkular, dan keberlanjutan sebagai fondasi inovasi kerajinan kayu yang bernilai tambah. Program yang dijajaki mencakup kuliah tamu praktisi, pelatihan desain, magang, proyek berbasis kebutuhan perusahaan anggota, hingga penelitian bersama tentang material, proses produksi, kriya, dan pengembangan pasar. Menurut HIMKI, penguatan kolaborasi regional ini semakin relevan di tengah perubahan tren desain, tuntutan keberlanjutan, transformasi digital, dan pergeseran preferensi konsumen global.

Perlindungan pekerja mebel: dari beban biaya menjadi sumber produktivitas

Kerja sama HIMKI dengan BPJS Ketenagakerjaan mengirim pesan politik industri yang tegas: perlindungan pekerja mebel bukan beban, melainkan prasyarat produktivitas. MoU di TEI 2026 bertujuan memperluas akses jaminan sosial bagi tenaga kerja di sektor mebel dan kerajinan, termasuk pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah yang selama ini sering berada di luar jaring perlindungan formal. Pekerja yang terlindungi dari risiko kecelakaan kerja, kematian, dan ketidakpastian penghasilan lebih mungkin bekerja dengan rasa aman dan fokus, yang pada akhirnya mengangkat kualitas dan konsistensi produksi. HIMKI secara eksplisit menilai bahwa peningkatan produktivitas tidak dapat dipisahkan dari kondisi kesejahteraan tenaga kerja. Kutipan yang layak dicatat: “Industri mebel dan kerajinan tidak mungkin tumbuh kuat tanpa pekerja yang terlindungi, produktif, dan sejahtera,” ujar Abdul Sobur.

Asosiasi Mebel Perluas Jaringan Internasional untuk Daya Saing Global

Strategi multi-stakeholder: menyatukan kampus, pelaku usaha, dan lembaga sosial

Yang menarik dari langkah HIMKI adalah keberanian membangun strategi multi-stakeholder, bukan pendekatan tunggal yang hanya mengandalkan asosiasi dan pemerintah. Di satu sisi, MoU dengan UiTM menghubungkan keunggulan akademik dengan kebutuhan praktis perusahaan melalui riset terapan, pelatihan, magang, dan proyek berbasis kebutuhan industri. Di sisi lain, kemitraan dengan BPJS Ketenagakerjaan memperkuat tata kelola usaha melalui sosialisasi, edukasi, pendampingan, dan fasilitasi layanan kepesertaan jaminan sosial bagi pekerja. Setelah penandatanganan, kedua kerja sama ini akan ditindaklanjuti lewat penyusunan prioritas program, sosialisasi di berbagai daerah, pemetaan kebutuhan perlindungan tenaga kerja, dan fasilitasi kepesertaan. Pendekatan ini menempatkan mahasiswa, akademisi, perajin, pekerja, dan perusahaan dalam satu ekosistem yang saling membutuhkan, dengan tujuan akhir memperkuat posisi industri mebel dan kerajinan kawasan di pasar global.

Kesimpulan: daya saing global butuh pengetahuan dan keadilan sosial

Jika selama ini daya saing industri mebel sering diukur dari kapasitas produksi dan kemampuan menembus pasar ekspor, langkah HIMKI menunjukkan bahwa ukuran itu terlalu sempit. Kolaborasi industri mebel yang dibangun dengan UiTM dan BPJS Ketenagakerjaan memadukan tiga pilar: pengetahuan, inovasi kerajinan kayu, dan perlindungan pekerja mebel. Dengan riset dan desain yang terus berkembang, produk menjadi lebih relevan dengan tren global; dengan pekerja yang terlindungi, rantai produksi menjadi lebih stabil dan berkelanjutan. Ke depan, tantangannya adalah konsistensi pelaksanaan: apakah perusahaan anggota sungguh terlibat dalam pembelajaran dan penelitian, dan apakah pelaku usaha di daerah mau mengubah cara pandang terhadap jaminan sosial. Jika kedua hal itu dijawab dengan tindakan nyata, strategi multi-stakeholder HIMKI berpotensi menjadikan industri mebel bukan hanya kompetitif, tetapi juga adil bagi orang-orang yang bekerja di dalamnya.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!