Riasan yang Membuat Teror Terasa Dekat
Makeup karakter horor adalah tata rias khusus yang mengubah penampilan pemain agar sosok menyeramkan terasa meyakinkan dan mendukung suasana cerita di layar. Dalam Hajatan Setan, keberhasilan riasan itu tampaknya bukan hanya urusan visual bagi penonton: Alika Jantinia mengaku takut saat menjalani syuting karena penampilan hantu yang ia hadapi terlihat begitu nyata. Alika bercerita bahwa ia nyaris menangis karena ketakutannya terasa sungguhan, bukan sekadar bagian dari akting. Ia menyebut efek dan riasan para hantu sangat jelas hingga membuat mereka tampak seperti sosok setan. Pengakuan itu menegaskan satu hal: rias hantu film yang efektif tak berhenti pada wajah yang seram. Riasan juga harus cukup meyakinkan untuk memengaruhi pemain yang berada dekat dengannya. Ketika pemain ikut merasakan ketegangan, suasana yang dibangun di lokasi berpotensi terasa lebih hidup di layar. Dalam konteks film horor, efek semacam itu bukan hiasan tambahan, melainkan bagian dari cara cerita menanamkan rasa takut.
Tantangan Alika semakin terasa dalam adegan di kawasan gumuk pasir. Ia harus berlari mengenakan kebaya dan jarik saat dikejar sosok menyeramkan, dengan situasi yang digambarkan seolah ancaman datang dari berbagai arah. Perpaduan kostum, gerak, dan penampilan hantu membuat adegan itu menuntut lebih dari sekadar ekspresi takut. Alika perlu bergerak dalam kondisi yang membatasi langkah, sambil menjaga intensitas akting dan merespons lawan main yang riasannya terasa nyata baginya. Pengalamannya memperlihatkan bahwa suasana horor di lokasi dapat merembes ke dalam proses kerja pemain. Itu pula yang membuat tata rias karakter patut dipandang sebagai unsur penceritaan: ketika wujud hantu terasa masuk akal, reaksi para pemain menjadi bagian dari ketegangan yang ditawarkan film.
Tiga Jam di Balik Adegan Kesurupan
Bagi Ari Irham, tantangan membangun horor dimulai sebelum kamera merekam adegan. Ia memerankan Gaung, anak Santoso yang mengalami sakit misterius bertahun-tahun dan tubuhnya rentan dirasuki makhluk tak kasatmata. Untuk menampilkan perubahan karakter itu, Ari menjalani makeup kesurupan dengan wajah pucat, lensa kontak, dan prostetik wajah. Persiapannya memakan waktu sekitar dua hingga tiga jam, menurut keterangannya saat ditemui di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, pada 27 Oktober 2026. Lamanya proses tersebut bukan sekadar detail di balik layar. Riasan perlu menyesuaikan kebutuhan adegan, sehingga Ari beberapa kali harus melepas makeup untuk tampil dengan wajah bersih, lalu dirias kembali. Pergantian berulang itu membuat prosesnya menyita waktu. Detail ini menunjukkan bahwa makeup karakter horor menuntut kesabaran sekaligus koordinasi, terutama saat satu karakter membutuhkan tampilan berbeda dalam rangkaian adegan. Hasil akhirnya harus mendukung akting, bukan menghambatnya.
Riasan hanyalah satu sisi dari beban yang dijalani Ari. Adegan kesurupan menuntut gerakan tubuh intens, dan setelahnya ia kerap merasakan nyeri di leher, badan, hingga tangan. Ia menggambarkan pengalaman itu sebagai tantangan yang menguras fisik sekaligus mental. Dengan demikian, penampilan menyeramkan yang tampak di layar lahir dari gabungan proses panjang: perubahan visual, pengulangan makeup, serta gerak tubuh yang berat. Menganggap adegan kesurupan hanya sebagai akting ekspresif akan mengabaikan kerja fisik di baliknya. Pengalaman Ari memperlihatkan bahwa riasan bukan jalan pintas menuju horor, tetapi salah satu perangkat yang membantu pemain membangun karakter sambil menjalani tuntutan adegan yang melelahkan.

Kerja Riasan, Kerja Ketakutan
Pengalaman Alika dan Ari memperlihatkan dua sisi dari fungsi riasan dalam film horor. Pada Alika, penampilan hantu yang meyakinkan memunculkan rasa takut saat syuting; pada Ari, riasan mengubah wajahnya untuk mendukung karakter yang mengalami kesurupan. Keduanya menunjukkan bahwa hasil tata rias tak berdiri sendiri. Ia bekerja bersama kostum, gerak, suasana lokasi, dan respons pemain untuk membangun dunia cerita yang terasa mengancam. Rias hantu film membuat sosok gaib lebih mudah dipercaya, sementara prostetik dan tampilan pucat membantu menandai perubahan pada karakter. Namun, keberhasilan makeup juga membawa konsekuensi praktis: prosesnya bisa lama, perlu diulang, dan harus selaras dengan kebutuhan adegan.
Karena itu, kerja tim tata rias layak mendapat perhatian yang sama dengan penampilan para pemain. Ketakutan Alika menjadi petunjuk bahwa wujud hantu yang dirancang dengan cermat dapat memberi tekanan emosional bahkan di lokasi syuting. Sementara itu, proses Ari menegaskan bahwa transformasi visual dan tuntutan fisik berjalan beriringan. Hajatan Setan dijadwalkan tayang di bioskop pada 3 Desember 2026. Saat film itu hadir, penonton dapat menilai bagaimana seluruh unsur tersebut berpadu di layar. Kesimpulannya, makeup horor bukan tempelan untuk mengejutkan penonton: ia membentuk karakter, menguatkan suasana, dan menuntut kerja nyata dari para pemain. Teror yang berhasil sering kali dimulai jauh sebelum adegan diputar.






