Kuliner Perayaan Keagamaan: Lebih dari Sekadar Hidangan
Kuliner perayaan keagamaan adalah rangkaian makanan Maulid Nabi dan momen keagamaan lain yang disiapkan, dibagikan, dan dinikmati bersama sebagai simbol syukur, kasih sayang, serta pengikat solidaritas sosial lintas kelompok dan keyakinan. Di banyak daerah, menu khas seperti jarangan sapi, nasi kebuli, hingga aneka jajanan tradisional bukan hanya pengisi perut, tetapi bahasa kebersamaan yang mudah dipahami semua orang. Menolak melihat makanan ini sebatas tradisi kuliner adalah kesalahan; di balik setiap porsi tersimpan pesan tentang gotong royong, penghormatan pada tokoh-tokoh agama, dan toleransi lintas agama yang tumbuh dari pengalaman makan bersama. Pertanyaannya bukan lagi apakah tradisi kuliner ini perlu, tetapi apakah kita berani membiarkannya pudar.
Weh-wehan Kaliwungu: Warisan Berbagi yang Menyentuh Semua Lapisan
Tradisi weh-wehan di Kaliwungu, Kendal, adalah contoh paling terang bagaimana makanan Maulid Nabi bisa mengikat warga dan pemimpin dalam satu lingkaran kebersamaan. Tradisi weh-wehan adalah kebiasaan saling berbagi makanan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW di Kaliwungu yang kian meriah dari tahun ke tahun. Pada mulanya, setiap 11 Rabiul Awal, setiap rumah membagikan jajanan atau minuman tradisional seperti klepon, ketan, sumpil, kolak, dan lainnya. Kini, tradisi weh-wehan bahkan dilombakan di area parkir Alun-alun Kaliwungu, dengan peserta dari desa, pondok pesantren, dan madrasah, dan lomba dibuka oleh Bupati Kendal Dyah Kartika Permanasari pada 21 Agustus 2026.
Kehadiran bupati di tengah lomba bukan sekadar seremonial; ia mengirim sinyal bahwa gotong royong dan saling berbagi adalah agenda bersama, bukan urusan masyarakat saja. Bupati menegaskan bahwa tradisi weh-wehan harus dipertahankan karena merupakan warisan leluhur yang bernilai, sebagai bentuk kepedulian sosial, wujud syukur, dan cinta kepada Nabi, sekaligus sarana silaturahmi antarwarga. Di sisi lain, warga seperti Zumronah dan Malihah yang datang bersama rombongan ibu-ibu Desa Mororejo untuk mendukung peserta desa mereka menunjukkan bahwa tradisi ini relevan bagi akar rumput, terutama perempuan yang selama ini menjadi tulang punggung dapur dan ruang sosial kampung.

Jarangan, Wadai Papari, dan Nasi Kebuli: Identitas Rasa Tiap Daerah
Setiap daerah punya cara sendiri merayakan Maulid Nabi lewat makanan khas daerah, dan di situlah kekayaan kuliner perayaan keagamaan terlihat paling jelas. Di Kecamatan Tebing Tinggi, tradisi baandak digelar sehari sebelum maulid; warga berkumpul menikmati hidangan jarangan, masakan berkuah berbahan dasar daging sapi yang disajikan di rumah-rumah yang saling dikunjungi. Selain jarangan, warga menantikan wadai papari, kue khas yang identik dengan suasana maulid di wilayah tersebut, dan masyarakat bebas menaiki rumah siapa saja untuk menikmati kedua hidangan itu. Tradisi baandak dengan jarangan dan wadai papari menjadi gambaran kuat budaya gotong royong dan silaturahmi masyarakat Tebing Tinggi dalam menyambut kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Di kota lain, nuansa rasa berbeda, tapi ruhnya sama. Dalam Festival Maulid Nusantara di sebuah kota, kirab gunungan berisi hasil bumi dan makanan diarak menuju masjid agung sebagai bagian dari tradisi muludan tiga masjid. Puncaknya, 3.000 porsi nasi kebuli disajikan dan dinikmati bersama oleh masyarakat sebagai bentuk syukur sekaligus mempererat tali silaturahmi antarwarga. Pernyataan resmi menegaskan, “Sebanyak 3.000 porsi nasi kebuli disajikan dan dinikmati bersama-sama oleh masyarakat yang hadir sebagai bentuk rasa syukur serta mempererat tali silaturahmi antarwarga,” menunjukkan betapa makan bersama diakui sebagai strategi menyatukan warga. Ketika pemerintah terlibat aktif, seperti dinilai Maryono, keikutsertaan mereka adalah wujud nyata kehadiran negara dalam merawat tradisi keagamaan yang berakar di masyarakat.
Snack Gratis di Haul Kyai Hamid: Toleransi yang Turun ke Jalan
Jika di banyak tempat makanan Maulid Nabi menjadi perekat sesama muslim, di Pasuruan kita melihat bagaimana makanan yang sama logikanya melintasi batas iman. Dalam acara haul Kyai Haji Abdul Hamid ke-45 tahun 2026, umat Kristen di Pasuruan membagikan ratusan paket kue snack dan minuman gratis kepada jamaah muslim yang hadir sebagai wujud solidaritas dan toleransi. Dua gereja, GKI di Jalan Panglima Sudirman dan GSJA Betlehem di Jalan KH Abdul Hamid, sejak pukul 07.00 pagi menyambut jamaah dengan membagi paket tersebut. Ketua komisi kesaksian dan pelayanan GKI menyebut kegiatan sosial kemasyarakatan ini dilakukan untuk meningkatkan toleransi beragama dengan membagikan snack dalam haul KH Abdul Hamid ke-45.
Lebih dari itu, mereka konsisten: paket snack yang dibagikan tahun ini mencapai 500 paket dan kegiatan berlangsung lancar, ikut menyukseskan haul tersebut. Pendeta GSJA menambahkan, gerejanya membagikan 250 paket roti sebagai bentuk berbagi kasih kepada jamaah haul dan berharap kegiatan serupa terus dilakukan di tahun-tahun berikutnya. Bagian paling menarik adalah pengakuan jujur mereka bahwa gereja terlibat dalam acara haul sebagai bentuk toleransi sesama umat beragama, dan berbagi kasih seperti ini hampir rutin dilakukan setiap tahun. Ini bukan toleransi yang berhenti di pidato; ini toleransi lintas agama yang punya wujud nyata: snack di tangan, senyum di wajah, dan pengalaman positif yang sulit disangkal.

Menjaga Rasa, Menjaga Relasi: Mengapa Tradisi Kuliner Ini Harus Terus Hidup
Akar semua contoh di atas sama: kuliner perayaan keagamaan dipakai sebagai medium membangun relasi. Dari klepon, ketan, sumpil, dan kolak yang dibagikan dari rumah ke rumah dalam tradisi weh-wehan, jarangan dan wadai papari yang menjadi identitas baandak di Tebing Tinggi, hingga nasi kebuli yang disiapkan dalam 3.000 porsi untuk dimakan bersama di sebuah kota, kita melihat pola yang konsisten: ketika makanan khas daerah dihidangkan untuk banyak orang, batas sosial menjadi lebih lentur. Ditambah contoh umat Kristen yang membagi snack dan minuman gratis dalam haul Kyai Hamid sebagai bentuk toleransi lintas agama, jelas bahwa pembagian makanan gratis dalam perayaan keagamaan lintas iman adalah praktik solidaritas yang konkrit, bukan slogan kosong.
Di tengah zaman ketika ruang digital sering memecah kita ke dalam gelembung-gelembung kecil, tradisi seperti weh-wehan, baandak, dan berbagi snack di haul adalah penawar yang relevan. Ia memaksa kita hadir fisik, menatap muka, berbagi porsi yang sama, dan mendengar cerita satu sama lain. Mengabaikan tradisi kuliner ini demi kesibukan modern berarti menyerahkan ruang sosial kita pada algoritma, bukan pada sapaan tetangga. Itu sebabnya, mempertahankan makanan Maulid Nabi dan kuliner perayaan keagamaan lain bukan nostalgia romantis; ini strategi sengaja untuk menjaga jaringan sosial, merawat toleransi lintas agama, dan memastikan bahwa generasi berikutnya tahu: persaudaraan bisa dimulai dari sepiring makanan yang dibagi bersama.






