Keberatan MUI berhadapan dengan izin yang tetap berlaku
Izin konser Andrea Bocelli adalah persetujuan pemerintah dan Polri untuk menggelar pertunjukan di Borobudur dan Jakarta, yang kini dipersoalkan MUI karena dinilai bertentangan dengan sikap resmi lembaga tersebut. MUI menyesalkan keputusan untuk tetap mengizinkan konser dan meminta pemerintah meninjau kembali izin yang telah dikeluarkan Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto. Bagi MUI, persoalannya bukan semata pertunjukan musik, melainkan konsistensi pemerintah setelah ada pembicaraan mengenai arahan MUI. Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional MUI, Sudarnoto Abdul Hakim, menyebut keputusan itu tidak sejalan dengan komitmen yang, menurutnya, disampaikan Sekretaris Kementerian Pariwisata Bayu Aji untuk menghormati dan mengikuti arahan MUI. Keberatan tersebut layak dibaca sebagai tuntutan pertanggungjawaban atas proses pengambilan keputusan, bukan sebagai bukti bahwa izin sudah dicabut.

Alasan kemanusiaan menjadi inti penolakan
MUI mengaitkan penolakannya dengan rekam jejak Andrea Bocelli. Menurut Sudarnoto, berdasarkan informasi dari kelompok Zionis di Amerika Serikat, Bocelli pernah tampil dalam acara penggalangan dana untuk tentara Israel atau IDF pada 2010. MUI menilai keterlibatan itu cukup menjadi alasan keberatan, dengan menghubungkannya pada konflik Palestina dan tuduhan kejahatan kemanusiaan terhadap militer Israel. Sudarnoto menegaskan bahwa keberatan MUI dan sebagian masyarakat berangkat dari alasan kemanusiaan serta penolakan terhadap penjajahan. Ini adalah penilaian yang disampaikan MUI, bukan penetapan baru tentang sikap politik Bocelli. Lembaga itu juga menolak anggapan bahwa donasi sepatu yang dikaitkan dengan konser dapat menjawab keberatannya: promotor menyebut kontribusi 100 ribu pasang sepatu bagi anak-anak di Palestina dan wilayah lain terdampak perang, sedangkan MUI menganggapnya tidak sebanding dengan penderitaan warga Gaza.
Konser tetap dijadwalkan, manfaatnya menjadi pertimbangan promotor
Di sisi lain, Shoemaker Live memastikan konser Andrea Bocelli Romanza 30th Anniversary World Tour tetap berlangsung pada 31 Oktober 2026 di kawasan Borobudur, Magelang, dan 3 November di JIExpo Kemayoran, Jakarta. Promotor mengatakan keputusan itu diambil setelah mendengar berbagai masukan dan mempertimbangkan pariwisata, kebudayaan, serta ekonomi kreatif. Pertimbangan tersebut penting: promotor menilai acara berpotensi menggerakkan hotel, transportasi, UMKM, dan memberi ruang bagi musisi serta seniman lokal. Namun, manfaat ekonomi dan kesempatan berkarya tidak otomatis menutup pertanyaan MUI tentang konsistensi kebijakan dan pesan kemanusiaan. Promotor juga menyebut musik konser akan mengangkat perdamaian dan persatuan, termasuk melalui lagu yang didedikasikan bagi masyarakat terdampak perang. Rangkaian alasan itu menjelaskan mengapa acara dipertahankan, tetapi tidak menghapus desakan agar izin konser Bocelli ditinjau ulang.
Peninjauan ulang masih menjadi tuntutan
MUI meminta pemerintah meninjau kembali izin konser Borobudur dan Jakarta demi kemaslahatan umum serta keadilan bagi Palestina, meskipun waktu pelaksanaan sudah dekat. Sudarnoto juga meminta Bocelli dan manajemennya menyampaikan penyesalan secara terbuka atas penampilan dalam acara penggalangan dana IDF pada masa lalu. Untuk saat ini, sumber yang tersedia menyebut konser tetap dijadwalkan, sementara permintaan MUI belum diikuti pengumuman perubahan izin. Pemerintah perlu menjelaskan secara terbuka bagaimana komitmen yang disebut MUI dipertimbangkan dalam keputusan akhir. Tanpa penjelasan itu, perbedaan antara janji untuk menghormati arahan lembaga dan izin yang tetap berlaku akan terus memicu pertanyaan publik. Kesimpulannya, desakan MUI bukan sekadar meminta pembatalan acara: ia menuntut pemerintah memberi alasan yang terang, menimbang dampak kemanusiaan, dan menunjukkan bahwa keputusan publik dibuat secara konsisten.






