Duta yang harus bekerja, bukan sekadar menerima gelar
Duta antihoaks adalah pelajar yang membantu teman sebaya mengenali informasi menyesatkan, memeriksa fakta, dan membangun kebiasaan bertanggung jawab sebelum membagikan konten. Peran itu menjadi inti pengukuhan Winda dari SMAN 68 Jakarta dan Muhammad Ibrahim Gumay dari SMAN 71 Jakarta sebagai Duta Antihoaks Jakarta 2026. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengukuhkan keduanya di Balai Agung, Balai Kota, pada Senin, 2 November 2026. Penghargaan ini akan bernilai jika berubah menjadi kerja nyata: pelajar lebih terbiasa berhenti sejenak, memeriksa sumber, lalu memutuskan apakah informasi layak diteruskan. Di tengah derasnya hoaks di media sosial, pendekatan melalui sesama pelajar masuk akal karena pesan literasi digital lebih dekat ketika disampaikan dalam bahasa dan lingkungan pergaulan mereka sendiri.

Program luas dengan proses yang tidak berhenti pada seleksi
Program yang dimulai pada Juli 2026 ini melibatkan 356 siswa dari 119 SMA negeri di Jakarta. Seleksi administrasi dan tahapan berikutnya diikuti pembinaan melalui pelatihan serta pembekalan untuk menyusun kampanye literasi digital. Sepuluh finalis kemudian menjalankan proyek kampanye pada 28 Agustus hingga 25 September dan mempresentasikan hasilnya kepada dewan juri pada 29 September 2026. Skala partisipasi ini penting: literasi digital pelajar tidak semestinya diperlakukan sebagai urusan dua pemenang saja. Rangkaian kegiatan memberi peserta ruang untuk mempraktikkan cara menyampaikan pesan, sementara proyek kampanye menguji apakah pemahaman soal cek fakta dapat diterjemahkan menjadi komunikasi yang berguna. Namun, ukuran keberhasilan berikutnya bukan banyaknya peserta atau finalis, melainkan apakah kebiasaan kritis itu bertahan di sekolah setelah acara selesai.

Menghubungkan cek fakta dengan kebiasaan sehari-hari
Tugas kedua duta dirancang melampaui seremoni. Mereka akan menjadi mitra Jakarta Lawan Hoaks (Jalahoaks) untuk memperluas edukasi dan budaya cek fakta melalui sekolah, komunitas, ruang publik, serta kanal digital. Selama satu tahun ke depan, mereka juga dijadwalkan mengadakan edukasi interaktif di sekolah bersama Diskominfotik DKI Jakarta dan Kementerian Komunikasi dan Digital. Rencana lain mencakup kampanye digital bulanan, pembentukan agen antihoaks di sekolah, dan edukasi berdasarkan isu aktual di Jakarta. Susunan ini menghubungkan pengetahuan dengan tindakan: siswa belajar menguji klaim, lalu menyebarkan kebiasaan itu kepada teman dan komunitas. Bagi masyarakat, layanan Jalahoaks dapat digunakan untuk memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya.
Kemajuan digital perlu disertai sikap kritis
Jakarta mencatat skor Indeks Masyarakat Digital Indonesia sebesar 50,50 pada 2024 dan 56,97 pada 2025, tetapi kemajuan akses dan keterampilan digital tidak otomatis membuat orang kebal terhadap disinformasi. Pramono mengingatkan bahwa hoaks dan informasi menyesatkan menyebar semakin cepat, sehingga kemampuan digital harus disertai kebiasaan berpikir kritis, memeriksa informasi, dan bertanggung jawab sebelum membagikannya. Inilah alasan program yang menyasar pelajar patut dinilai dari dampaknya di ruang pergaulan, bukan hanya dari gelar yang diberikan. Pelajar Jakarta bukan sekadar penerima konten; mereka juga ikut membentuk percakapan dan opini di lingkungannya. Jika para duta mampu membuat cek fakta terasa praktis dan relevan, program ini dapat menumbuhkan pertahanan sehari-hari terhadap hoaks. Tanpa tindak lanjut yang konsisten, gelar duta berisiko menjadi simbol yang cepat dilupakan.






