CHROMA: Ketika Warna Menjadi Ruang yang Dihuni
CHROMA adalah sebuah instalasi desain warna ruang yang menjadikan warna bukan sekadar elemen visual, tetapi fondasi untuk membentuk atmosfer, narasi emosional, dan cara pengunjung berinteraksi dengan ruang, melalui perpaduan seni, desain interior, dan arsitektur yang dihadirkan sebagai pengalaman imersif menyeluruh. Di area VIP Art Jakarta, The Lounge dengan tema CHROMA tampil sebagai eksperimen berani tentang bagaimana warna bisa mengatur ritme, intensitas, dan emosi dalam satu ruang terpadu. Digelar pada 2–4 Oktober di JIEXPO Kemayoran, instalasi desain interior ini memposisikan warna sebagai bahasa utama, bukan dekor pelengkap. Ide pentingnya: jika warna selama ini berhenti di mata, CHROMA memaksa kita untuk “tinggal” di dalam warna dan merasakan konsekuensinya pada tubuh, percakapan, dan perilaku.

Empat Studio Desain Lokal, Satu Peta Emosi Berbasis Warna
Yang membuat CHROMA menarik adalah keberanian menyerahkan satu VIP lounge kepada empat studio desain lokal dengan kebebasan tafsir penuh. Berangkat dari visual permainan papan Ludo, ruang dibagi menjadi empat konsep ruang kreatif: DECLARATION, EXPRESSION, DIMENSION, dan ILLUSION, masing-masing dikerjakan Studio Talk, K-Thengono Design Studio, Rumanara, dan Spatial Sonata. Secara kuratorial, keputusan ini cerdas. Satu tema diserahkan kepada empat perspektif, sehingga pengunjung tidak hanya “melihat karya” tetapi berpindah dari satu sudut pandang ke sudut pandang lain, merasakan bagaimana warna yang sama sekali berbeda bisa membentuk karakter ruang dan perilaku sosial yang berbeda pula. Menurut Managing Editor Raisa Benaya Ranti, kolaborasi ini dimaksudkan sebagai ruang eksperimen agar ide desainer bisa menjadi sesuatu “yang bisa dirasakan, bukan hanya dilihat”.

Merah, Kuning, Hijau, Biru: Warna Sebagai Cerita yang Dialami
Dalam DECLARATION, Studio Talk memanfaatkan merah sebagai pernyataan yang berani dan grafis; lantai checkerboard memecah ruang menjadi sudut makan, lounge, dan area anak yang family friendly namun tetap dramatis. Ini bukan sekadar pilihan warna tegas, tetapi strategi untuk menandai zona sosial dalam satu bidang lantai. Di EXPRESSION, K-Thengono Design Studio memakai kuning dan kain sisa dalam instalasi “Gravity as a Sculpture”, menciptakan benteng kain yang menggantung mengikuti gravitasi sebagai memori masa kecil. DIMENSION oleh Rumanara mengolah hijau, kedalaman, dan lapisan material menjadi taman dengan paviliun, terinspirasi dari backyard dan lukisan Green Wheat Field with Cypress karya Van Gogh. ILLUSION dari Spatial Sonata memilih kabinet sebagai objek eksplorasi, membongkar furnitur sehari-hari menjadi struktur arsitektural yang memanipulasi persepsi ruang.

Melampaui Estetika: Ruang Sebagai Pengalaman Holistik di Pameran Seni Jakarta
CHROMA terasa relevan bagi kolektor, seniman, dan pecinta desain yang mencari pengalaman pameran seni Jakarta yang lebih dari sekadar deretan karya di dinding. Di sini, warna memimpin pembentukan atmosfer, mengarahkan bagaimana tubuh bergerak, di mana orang duduk, dan jenis percakapan yang terjadi. Konsep CHROMA merujuk pada kemurnian dan intensitas warna; warna digunakan sebagai dasar bentuk, bukan lapisan terakhir dekorasi. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa instalasi desain interior yang baik harus berani mengganggu kebiasaan: kabinet yang dipecah, kain sisa yang diangkat menjadi skulptur, lantai yang menjadi penanda zona. Keempat studio membuktikan bahwa studio desain lokal mampu mengartikulasikan gagasan kompleks tentang warna menjadi ruang yang mudah dirasakan publik. Kolaborasi seperti ini patut dibaca sebagai pernyataan bahwa masa depan desain warna ruang adalah multisensori, dialogis, dan erat dengan ekosistem seni.






