Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Mengapa Memuji Anak "Pintar" Bisa Merusak Mentalnya

Mengapa Memuji Anak "Pintar" Bisa Merusak Mentalnya
Minat|Pendidikan Orang Tua dan Anak

Masalah Utama: Pujian yang Terlihat Manis, Dampaknya Pahit

Dampak pujian anak adalah efek psikologis dan perilaku yang muncul dari cara orang dewasa memberi apresiasi, misalnya lewat kata-kata seperti “kamu pintar”, yang tanpa disadari dapat membentuk mindset anak berkembang atau justru mindset yang kaku, memengaruhi keberanian mengambil risiko, kesiapan menghadapi kegagalan, dan cara mereka menilai kemampuan diri di masa depan. Ketika orang tua mengucap “kamu pintar”, niatnya biasanya baik: membuat anak merasa disayang dan dihargai. Namun ucapan ini dapat berubah menjadi boomerang. Anak belajar mengikat harga dirinya pada label “pintar”, bukan pada proses belajar. Begitu mereka salah, pikirannya loncat ke kesimpulan, “Berarti aku tidak pintar, semua orang akan melihat aku bodoh”. Pola pikir seperti ini pelan-pelan membunuh keberanian mencoba dan membuat anak lebih takut gagal daripada tertarik belajar.

Pelabelan "Anak Pintar" dan Bahaya Mindset Tetap

Profesor Jo Boaler dari Stanford menekankan bahwa cara memuji mengubah cara anak memandang kemampuan dirinya sendiri. Ketika anak berkali-kali dipuji karena pintar, mereka menganggap keberhasilan sebagai bukti identitas statis: aku pintar sekarang, jadi aku harus selalu terlihat pintar. Akibatnya, anak-anak yang merasa dirinya “pintar” justru enggan membuat kesalahan, padahal kesalahan adalah bahan bakar utama belajar dan sukses jangka panjang. Mereka yang dilabeli sebagai “anak pintar” atau “berbakat” cenderung kurang berani menantang diri dibanding anak lain. Mereka memang membuat lebih sedikit kesalahan, tetapi hanya karena beroperasi di zona nyaman dan berhenti berkembang serta beradaptasi dengan tantangan baru. Menurut Boaler, mindset tetap yang dibentuk oleh pujian seperti ini bisa bertahan hingga dewasa dan paling merugikan anak perempuan berprestasi tinggi, terutama di bidang matematika dan sains.

Mengapa Memuji Anak "Pintar" Bisa Merusak Mentalnya

Ketika Fokus pada Hasil Membunuh Ketangguhan Mental Anak

Penelitian yang dilakukan Claudia Mueller dan Carol Dweck menunjukkan bahwa anak yang dipuji karena kecerdasan, bukan usaha, menjadi terlalu terobsesi dengan hasil. Mereka belajar bahwa nilai tinggi adalah tujuan utama, sementara proses dianggap kurang penting. Setelah mengalami kegagalan, kelompok anak ini kurang gigih, kurang menikmati proses, mengaitkan kegagalan dengan kurangnya kemampuan, dan berkinerja buruk dalam upaya pencapaian berikutnya. Inilah gambaran mindset anak berkembang yang terhambat: mereka tidak melihat kegagalan sebagai bagian normal dari belajar, melainkan sebagai vonis bahwa mereka tidak cukup pintar. Jim Taylor, pakar psikologi pengasuhan, menyebut “kamu pintar” sebagai pujian yang terlalu umum dan tidak memberi informasi tentang apa yang dilakukan anak dengan baik. Tanpa informasi tersebut, anak tidak tahu strategi apa yang harus diulang untuk mencapai hasil serupa di masa depan.

Memuji Anak dengan Benar: Alihkan Fokus ke Usaha dan Proses

Jika orang tua ingin membangun mental kuat, pujian efektif orang tua harus beralih dari label kemampuan bawaan ke penghargaan atas usaha, strategi, dan peningkatan. Alih-alih mengatakan “kamu pintar”, gunakan kalimat seperti, “Kamu melakukan pekerjaan yang hebat!” atau “Kamu bekerja keras, dan itu membuahkan hasil!”. Pujian seperti ini menegaskan bahwa yang penting adalah apa yang anak lakukan, bukan siapa mereka secara permanen. Boaler bahkan menyarankan agar orang tua menunjukkan empati ketika anak mendapat nilai sempurna, karena nilai sempurna berarti mereka tidak punya kesempatan belajar dari kesalahan. Di sisi lain, kesalahan perlu diposisikan sebagai hal baik: ketika anak menerima pesan bahwa orang sukses pun banyak membuat kesalahan, seluruh jalan hidup mereka bisa berubah. Di sinilah mindset anak berkembang: mereka melihat kemampuan sebagai sesuatu yang bisa dilatih, bukan hadiah tetap sejak lahir.

Mengapa Memuji Anak "Pintar" Bisa Merusak Mentalnya

Afirmasi Positif: Kalimat Konkret untuk Membangun Mental Tangguh

Untuk memuji anak dengan benar, orang tua perlu mengganti label dengan afirmasi yang mendukung proses. Afirmasi seperti “Ayo kita coba bersama, kemudian kamu bisa mencobanya sendiri nanti” membantu membangun kepercayaan diri sekaligus mendorong kemandirian anak dalam menghadapi tantangan. Kalimat “Aku ada di sini untukmu” membuat anak merasa tidak sendirian, sehingga mereka lebih berani menghadapi emosi sulit. Saat anak sedang berjuang, orang tua bisa bertanya, “Langkah kecil apa yang bisa kamu terapkan hari ini?” agar tantangan besar terasa lebih terpecah dan bisa diatasi sepotong demi sepotong. Dan ketika emosi memuncak, katakan, “Tidak apa-apa merasakan apa yang kamu rasakan. Emosi tidak ada yang benar atau salah”. Afirmasi seperti ini menunjukkan bahwa nilai anak bukan terletak pada seberapa pintar mereka, melainkan pada keberanian mereka untuk terus mencoba dan merasakan.

Mengapa Memuji Anak "Pintar" Bisa Merusak Mentalnya

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!