DXOMARK 164: Saat Ponsel Lipat Berhenti Berkompromi Soal Kamera
Motorola Razr Fold adalah ponsel lipat flagship bergaya book-style yang menggabungkan layar besar, baterai jumbo, dan sistem kamera kelas atas yang dinilai dengan DXOMARK skor 164, menjadikannya klaim kuat sebagai ponsel lipat dengan kualitas kamera terbaik di kelasnya untuk pengguna yang ingin gaya tanpa mengorbankan hasil foto dan video profesional.
Inti cerita Razr Fold sederhana: ini adalah ponsel lipat yang menolak kompromi kamera. DXOMARK menempatkannya sebagai smartphone lipat dengan kamera terbaik dengan skor 164, mengungguli seluruh perangkat foldable maupun flip yang pernah dirilis global. Bagi industri, ini penting karena selama ini ponsel lipat identik dengan desain futuristis tetapi kamera "cukup bagus" saja. Menurut Zulfahmi, Product Portfolio Head Motorola, pencapaian ini menjadi modal percaya diri untuk membawa Razr Fold ke pasar dan membuktikan bahwa form factor lipat kini bisa berdiri sejajar dengan kamera flagship non-lipat dalam hal kualitas hasil gambar.

Sistem Kamera Flagship: Tiga 50MP dan Gelar Emas DXOMARK
Jika harus menunjuk satu alasan utama Razr Fold layak menyandang gelar ponsel lipat flagship di ranah fotografi, jawabannya ada di modul kameranya. Motorola Razr Fold kamera belakang mengusung konfigurasi tiga sensor 50 MP: kamera utama Sony LYTIA 828 dengan bukaan f/1.6 dan OIS, ultrawide 50 MP dengan sudut 122 derajat sekaligus makro, serta telefoto periskop 50 MP dengan 3x optical zoom dan hingga 100x pembesaran digital. Motorola juga menambahkan kamera depan 32 MP di layar utama dan 20 MP di layar cover, yang membuat mode selfie dan vlog fleksibel tanpa harus selalu membuka ponsel.
Kekuatan sistem ini tidak hanya berhenti di foto. Kamera utama mampu merekam hingga 8K 30fps, dan 4K 60fps dengan dukungan Dolby Vision pada kamera utama dan telefoto. Menurut data internal, kombinasi sensor Sony LYTIA 828 dan Dolby Vision memberi dynamic range hingga enam kali lebih luas dibanding sistem kamera pada umumnya, membantu mempertahankan detail di area terang dan gelap. Tidak mengejutkan jika sistem ini meraih peringkat DXOMARK nomor satu untuk kategori smartphone foldable dan menyabet DXOMARK Gold Label untuk imaging excellence.

Fitur AI Ponsel: Dari Zero Shutter Lag sampai moto ai
Keunggulan kamera Razr Fold tidak hanya bertumpu pada hardware; fitur AI ponsel ini agresif dan terasa dirancang untuk pengguna yang ingin hasil mirip fotografer tanpa ribet pengaturan manual. Di sisi imaging, Motorola menyematkan Zero Shutter Lag, AI-powered Portrait, AI Action Shot, dan AI Photo Enhancement Engine. Zero Shutter Lag membantu menangkap momen tanpa jeda yang sering terjadi saat memotret anak, hewan, atau aksi cepat. AI Action Shot mengoptimalkan pengambilan gambar objek bergerak, sementara mesin peningkatan foto berbasis AI memoles detail, warna, dan pencahayaan agar foto siap unggah tanpa edit panjang.
Di luar kamera, moto ai memperluas fungsi kecerdasan buatan ke produktivitas sehari-hari. Fitur Catch Me Up merangkum notifikasi menumpuk menjadi ringkasan singkat, sehingga layar besar Razr Fold tidak berubah menjadi lautan notifikasi tak terbaca. Fitur Pay Attention menyalin percakapan secara real-time, berguna untuk meeting atau kuliah. Motorola juga membuka akses ke beberapa asisten AI seperti Microsoft Copilot, Google Gemini, dan Perplexity AI tanpa mengunci pengguna ke satu ekosistem. Pendekatan ini menarik: AI bukan sekadar gimmick kamera, tetapi tulang punggung pengalaman produktivitas di perangkat lipat.

Desain Book-Style, Layar Besar, dan Baterai Jumbo untuk Produktivitas
Keunggulan DXOMARK skor 164 akan terasa sia-sia jika dibungkus perangkat yang tidak nyaman dipakai harian. Di sini Razr Fold cukup meyakinkan. Ini adalah foldable bergaya book-style pertama dari keluarga Razr, dengan layar utama 8,09 inci 2K LTPO yang dirancang untuk multitasking, menggambar, atau editing foto dan video panjang, serta layar cover 6,6 inci yang cukup luas untuk aktivitas cepat tanpa membuka lipatan. Bodi ditopang engsel teardrop berbahan baja tahan karat dan pelat titanium di balik layar untuk menjaga kerapian lipatan jangka panjang, sementara bagian luar memakai Corning Gorilla Glass Ceramic 3 yang diklaim lebih tahan benturan dibanding generasi sebelumnya.
Di sektor daya, Motorola tidak main aman. Kapasitas baterai 6.000 mAh disebut sebagai yang terbesar di kelas smartphone foldable saat ini, dipadukan pengisian 80W TurboPower kabel dan 50W nirkabel. Konsekuensinya, Razr Fold menjelma perangkat yang bukan saja kuat memotret seharian, tetapi juga sanggup menjadi kanvas produktivitas: menjalankan beberapa aplikasi sekaligus, streaming, hingga gaming berat berkat chipset Snapdragon 8 Gen 5, RAM 12GB dengan RAM Boost, serta sistem liquid cooling untuk menjaga performa tetap stabil. Kombinasi ini menjadikannya ponsel lipat flagship yang relevan bukan hanya untuk hobi foto, tetapi juga kerja mobile.

Harga Rp25 Juta dan Paket Pre-Order: Rasional atau Sekadar Gengsi?
Pertanyaan krusial: dengan harga sekitar Rp25 juta, seberapa masuk akal Razr Fold untuk konsumen? Motorola membuka masa pre-order dengan harga spesial Rp25.499.000, menjadikannya foldable book-style termurah yang resmi dirilis sepanjang tahun ini, di bawah pesaing yang dibanderol lebih tinggi. Untuk ponsel lipat flagship dengan kamera berpredikat nomor satu DXOMARK di kategori foldable, layar besar, baterai 6.000 mAh, dan fitur AI ponsel yang matang, banderol ini relatif agresif dibanding posisi fitur yang ditawarkan.
Lebih menarik lagi, paket benefit pre-order mencapai nilai hingga Rp10,7 juta, termasuk bundling Moto Watch dan Moto Buds Loop, cashback hingga Rp1,5 juta, serta berbagai manfaat dari mitra operator dan layanan digital. Pre-order tersedia melalui Shopee, Erafone, dan Digiplus dengan pilihan warna Pantone Blackened Blue dan Pantone Lily White. Dalam konteks ini, Razr Fold tampak seperti strategi Motorola untuk masuk agresif ke segmen premium: memberi sistem kamera yang bisa menantang flagship non-lipat, sambil menjaga harga Rp25,499 juta tetap terasa "masuk" bila memperhitungkan bonus ekosistem. Bagi pengguna yang mengutamakan kamera dan produktivitas di satu perangkat lipat, nilai yang ditawarkan sulit diabaikan.






