Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Musik Hardcore ke Keramik: Eksperimen Seni Siswa SMK

Dari Musik Hardcore ke Keramik: Eksperimen Seni Siswa SMK
Minat|Tembikar

Tanah Liat, Musik Keras, dan Eksistensi Sekolah Seni

Pameran keramik siswa yang terinspirasi dari musik hardcore adalah ajang ketika generasi muda jurusan keramik di sekolah kejuruan seni menggunakan tanah liat sebagai medium utama untuk menerjemahkan emosi, kegemaran musik keras, dan imajinasi personal ke dalam bentuk tembikar yang tajam, gelap, serta berkarakter kuat, sehingga seni keramik muda tampil bukan sekadar tugas kelas, melainkan pernyataan identitas dan ekspresi artistik tembikar yang berani di ruang publik. Pameran Sijawara Sabakota Volume 2 yang digelar SMKN 14 Bandung di Bandung Creative Hub pada 1–2 September 2026 secara terang-terangan memposisikan diri sebagai panggung eksistensi sekolah seni rupa di Jawa Barat, dengan beragam karya siswa dari seluruh jurusan dipamerkan kepada warga kota dan publik luas. Di sini, sekolah tidak lagi hanya tempat belajar; ia menjadi etalase kreatif yang menggugah rasa ingin tahu dan mengubah cara kita memandang karya siswa SMK.

Hardcore di Dalam Tembikar: Studi Kasus Fachri Abdul Mughni

Jika ingin tahu seberapa jauh musik hardcore bisa merasuk ke dalam seni keramik muda, lihat karya Fachri Abdul Mughni, siswa kelas XI Jurusan Keramik SMKN 14 Bandung. Bentuk-bentuk berwarna gelap, bertonjolan tajam, dan terasa keras tertata di ruang pamer: wadah aksesori, tempat makan, bahkan asbak, semua memanggul jejak dentuman metal di kepala pembuatnya. Fachri mengaku tertarik pada keramik karena apa yang ia pikirkan dan rasakan—termasuk kesal dan gelisah—dapat ia tumpahkan ke dalam tanah liat sebagai ekspresi artistik tembikar. Ini bukan sekadar estetika muram; ini sikap. Ia membiarkan ide “langsung keluar” tanpa banyak referensi, lalu mematungkannya dalam keramik. Pilihannya untuk mengusung karakter gelap menunjukkan bahwa pameran keramik siswa tidak harus diam di zona aman: amarah, ketegangan, dan kegemaran musik keras pun punya tempat sah di atas meja pameran.

Pameran Sijawara Sabakota: Dari Ruang Kelas ke Ruang Publik

Pameran Sijawara Sabakota 2026 di Bandung Creative Hub adalah pernyataan lantang bahwa karya siswa SMK layak keluar dari belenggu ruang kelas dan masuk ruang publik. Beragam karya siswa SMKN 14 Bandung dari DKV, animasi, teknik perbaikan bodi otomotif, hingga program desain dan produksi kriya—batik dan tekstil, keramik, kulit, logam, kayu, dan rotan—dipilih melalui proses kurasi sebelum ditampilkan. Guru penggagas pameran, Raksa Griya Ramadan, menegaskan bahwa acara ini adalah cara memperkenalkan kepada warga kota bahwa ada sekolah seni rupa yang kuat dan hidup di sana. Pameran keramik siswa dengan sentuhan hardcore menjadi salah satu sorotan, karena ia membuktikan bahwa jurusan kriya keramik bukan hanya mengajarkan teknik, tetapi memberi ruang bagi seni keramik muda untuk tumbuh sebagai bahasa visual yang personal. Menurut Raksa, “menjadi seniman itu kalau konsisten dan tekun bisa menghasilkan lahan ekonomi, bahkan bisa menjadi bos dan membuka lapangan pekerjaan”.

Belajar Berkarya, Berani Gagal, dan Menyusun Mimpi Studio Keramik

Di balik setiap potongan tembikar, ada proses yang tidak manis. Fachri jujur mengakui bahwa menuangkan ide ke tanah liat bukan perkara mudah; tantangan paling besar adalah ketika ide tiba-tiba habis saat karya baru setengah jadi. Alih-alih memaksa, ia memilih berhenti, mendengarkan musik atau makan untuk menghindari stres dan hasil yang tidak maksimal. Sikap ini penting: pameran keramik siswa bukan hanya parade karya jadi, tetapi rekam jejak bagaimana anak muda belajar mengelola buntu kreatif. Salah satu karyanya bahkan dikerjakan dalam waktu sehari di sekolah, menunjukkan keberanian mengambil risiko visual dalam tempo singkat. Pameran ini memang dirancang untuk melatih keberanian, rasa percaya diri, dan kesiapan wirausaha siswa di industri kreatif. Meski masih pelajar, Fachri sudah melihat keramik sebagai jalur hidup, bercita-cita menjadi seniman keramik dengan studio sendiri, sejalan dengan semakin banyaknya workshop dan studio keramik yang bermunculan di luar sekolah.

Dari SMK ke Ekosistem Seni: Keramik sebagai Bahasa Generasi Muda

Pameran Sijawara Sabakota yang dibuka oleh Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah VII, Asep Yudi Mulyadi, memperlihatkan satu hal penting: seni keramik muda bukan sekadar pelengkap katalog sekolah, melainkan medium ekspresi diri generasi muda yang sah dan menjanjikan. Alumni SMKN 14 Bandung yang diundang membawa karya dan kisah kemandirian—mengelola UMKM, menerima berbagai proyek, hingga mengembangkan usaha keramik yang mendapat pesanan dari luar sekolah. Kehadiran mereka memberi konteks bahwa karya siswa SMK dapat berlanjut menjadi profesi. Bagi siswa seperti Arya Dira Winata, pameran tidak hanya memberi ruang apresiasi dan peluang menjual karya, tetapi juga latihan wirausaha sejak bangku sekolah. Jika tanah liat bisa menyimpan amarah hardcore, harapan ekonomi, dan pencarian identitas, maka sudah saatnya kita berhenti meremehkan ekspresi artistik tembikar di sekolah kejuruan. Keramik bukan hanya benda pakai; ia adalah bahasa baru generasi muda yang sedang menguji batas-batas seni di kota mereka.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!