Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

12 Pengaba Asia Tenggara Persembahkan Harmoni di Manado

12 Pengaba Asia Tenggara Persembahkan Harmoni di Manado
Minat|Menyanyi

Manado Menjadi Panggung Harmoni Vokal Asia Tenggara

Konser penutup kelas master pengaba paduan suara internasional di Aula Mapalus, Kantor Gubernur Sulawesi Utara, adalah sebuah pertunjukan paduan suara yang mempertemukan 12 pengaba dari lima negara Asia Tenggara dengan dua paduan suara lokal, menampilkan standar vokal tinggi, kolaborasi lintas negara, dan ekspresi musik kolektif di hadapan ratusan penonton yang antusias. Konser musik Manado ini bukan sekadar acara penutup program pelatihan; ia menjelma menjadi manifesto kecil tentang bagaimana harmoni vokal Asia Tenggara layak diposisikan sebagai kekuatan budaya regional, bukan pelengkap di pinggir ekosistem musik populer. Ketika lima negara memusatkan perhatian pada satu panggung, pesan yang muncul jelas: paduan suara internasional dari kawasan ini siap menegaskan diri sebagai medium dialog dan kebanggaan bersama. Manado, dengan tradisi bernyanyi yang kuat, memberikan konteks yang tepat untuk pernyataan berani tersebut.

Dua Paduan Suara Lokal, 12 Pengaba, Satu Suara Kolektif

Di jantung konser, Gema Sangkakala Female Choir dan Manado Catholic Choir menjadi instrumen utama yang diolah 12 pengaba dari Indonesia, Malaysia, Myanmar, Vietnam, dan Filipina. Lebih dari 300 penonton menyaksikan bagaimana setiap pengaba memimpin satu repertoar, menerapkan pendekatan artistik yang diasah intensif selama sembilan hari kelas master. Deretan nama seperti Drake Allan Mokorimban, Ezra Clement Dario, Leo Hubertus Dimas Avianto, M. Inggita Belinda Siegers, Martin Andryas Littik, Roland David Enoch, Sandy Sumampouw, dan Steven Immanuel Angelo dari Indonesia berdialog musikal dengan Lee Jian Zhen dari Malaysia, Lian Deih Zaam dari Myanmar, Nguyễn Hải Yến dari Vietnam, serta Paolo Niccolo Piquero dari Filipina. Fakta bahwa semua pemimpin ini diberi ruang yang setara menunjukkan keberanian program untuk tidak menonjolkan satu tradisi tertentu, tetapi menekankan pada suara kolektif yang plural. Di sinilah paduan suara internasional terasa paling relevan: bukan sebagai label glamor, melainkan proses saling menyimak dan menyelaraskan perbedaan.

Kelas Master yang Menawarkan Standar Vokal Internasional

Konser ini mendapatkan bobot artistik karena berdiri di atas fondasi kelas master pengaba paduan suara yang digelar sejak 1–9 September di Manado. Dipimpin Kerstin Behnke, profesor kepemimpinan paduan suara dan ansambel di Universitas Musik FRANZ LISZT Weimar, program ini berfokus pada kemampuan memimpin latihan sebagai proses artistik sekaligus komunikatif: pengembangan ekspresi musikal, penyempurnaan suara ensambel, dan mengarahkan paduan suara menuju interpretasi yang meyakinkan sambil menjaga suasana latihan tetap efisien, positif, dan memotivasi. “Semoga hal ini dapat menyebar dan turut meningkatkan kualitas seni paduan suara, membawa paduan suara ke tingkat yang lebih tinggi, serta memperluas semangat bermusik bersama seperti ini,” kata Kerstin. Dalam konteks regional, kelas seperti ini adalah pernyataan tegas bahwa standar vokal internasional bukan monopoli pusat-pusat musik di luar Asia Tenggara. Dengan kurikulum yang terstruktur dan pemimpin kelas berpengalaman, kualitas teknis dan artistik pengaba asal kawasan ini diangkat ke tingkat yang setara dengan panggung global.

Repertoar Klasik sebagai Bahasa Bersama Lintas Budaya

Pilihan repertoar dalam konser penutup memperlihatkan ambisi untuk menempatkan harmoni vokal Asia Tenggara di percakapan musik dunia. Konser dibuka dengan Kyrie, Gloria (from Missa Brevis) karya Knut Nystedt dan ditutup dengan There Is an Old Belief (from Songs of Farewell) karya Hubert Parry. Dua karya dari tradisi Eropa ini menjadi bahasa bersama yang memungkinkan para pengaba dari berbagai latar budaya berdiri di satu titik referensi yang sama. Alih-alih mengaburkan identitas lokal, repertoar klasik ini menantang pengaba dan paduan suara untuk mengisi ruang interpretasi dengan sensibilitas masing-masing. Program seperti ini, yang telah diinisiasi sejak edisi pertama kelas master di Salatiga pada 2016 dan berlanjut di Malang 2018 serta Medan 2022, menunjukkan komitmen jangka panjang terhadap pengembangan repertorium dan kemampuan membaca tradisi yang lebih luas. Di sini terlihat jelas bahwa pertunjukan paduan suara bukan hiasan seremonial, melainkan latihan aktif dalam literasi musik global.

Manado dan Masa Depan Harmoni Vokal Asia Tenggara

Yang membuat konser musik Manado ini istimewa adalah konteks kota yang telah lama hidup dengan budaya bernyanyi bersama. Koordinator program budaya menyebut Manado sebagai persimpangan Nusantara yang melahirkan lanskap musikal antargenerasi lintas komunitas dan tradisi, di mana menyanyi bersama merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Dalam atmosfer seperti itu, paduan suara internasional dari Asia Tenggara menemukan rumah yang alami, bukan sekadar lokasi acara. Kepala program budaya regional menegaskan bahwa perjumpaan 12 konduktor dengan dua komunitas lokal paduan suara adalah ruang dialog lintas budaya yang menunjukkan bagaimana musik mampu menyatukan dalam satu harmoni. Jika kawasan ini serius dengan gagasan integrasi budaya, format pertunjukan paduan suara semacam ini ideal untuk terus diperluas: ia minim sekat bahasa, menekankan kerja kolektif, dan mengundang pendengar berpartisipasi secara emosional. Konser di Manado menutup kelas master, tetapi secara simbolik membuka bab baru: harmoni vokal Asia Tenggara sebagai proyek bersama yang pantas dirawat melampaui durasi program sembilan hari.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!