Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

9 dari 10 Perusahaan Belum Siap Pulih dari Serangan Ransomware

9 dari 10 Perusahaan Belum Siap Pulih dari Serangan Ransomware
Minat|Analisis Data AI

Kesenjangan Ransomware Recovery Readiness di Era AI

Ransomware recovery readiness adalah tingkat kesiapan organisasi untuk mempertahankan operasional dan memulihkan data secara cepat dan aman setelah serangan ransomware, termasuk memastikan infrastruktur data keamanan, sistem backup, dan prosedur business continuity mampu berfungsi meski sistem utama terenkripsi atau lumpuh. Dalam survei Synology, hanya 8,4 persen perusahaan yang merasa sangat siap bertahan dan pulih dari ancaman siber berbasis AI. Artinya, 9 dari 10 perusahaan mengakui belum siap menghadapi serangan yang makin canggih dan otomatis. Lebih mengkhawatirkan lagi, sekitar 43 persen menyatakan tidak terlalu siap atau sama sekali tidak siap, sementara ancaman terus berkembang. Fakta ini menunjukkan banyak organisasi menikmati manfaat adopsi AI Indonesia, tetapi mengabaikan fondasi: perlindungan data perusahaan dan rencana pemulihan yang matang ketika bencana digital datang.

Pertumbuhan Data Eksponensial dan Inefisiensi Infrastruktur Penyimpanan

Adopsi AI di dunia bisnis terus berkembang, dari pengelolaan data hingga kolaborasi tim. AI mempercepat penyusunan dokumen, pembuatan presentasi, penerjemahan, pencarian informasi, dan pengolahan spreadsheet, tetapi di balik itu volume data meledak. Hampir 88% responden mengkhawatirkan inefisiensi penyimpanan akibat meningkatnya data AI dan duplikasi data. Menambah kapasitas saja tidak cukup; tanpa strategi tiering, reduksi data, dan scale-out storage, perusahaan hanya menumpuk biaya dan kompleksitas. Ketika infrastruktur data keamanan tidak dirancang untuk tumbuh dan tetap efisien, setiap tambahan proyek AI menjadi bom waktu: performa turun, biaya naik, dan risiko kebocoran meningkat. Synology menekankan bahwa transformasi AI bukan sekadar memasang model cerdas, tetapi membangun fondasi penyimpanan yang efisien, mudah dikelola, dan siap menghadapi gangguan operasional.

Keamanan Data sebagai Penghambat Utama Adopsi AI

Di atas kertas, AI menjanjikan lonjakan produktivitas. Namun penggunaan AI untuk produktivitas membawa tantangan serius bagi perlindungan data perusahaan, terutama ketika informasi internal yang sensitif ikut diproses. Tantangan transformasi AI bukan hanya soal adopsi teknologi, tetapi bagaimana memastikan data tetap aman, sistem dapat berkembang, dan operasional bisnis tetap berjalan saat terjadi serangan digital. Survei menunjukkan hanya sekitar dua dari 10 perusahaan yang sangat yakin mampu memulihkan operasional dengan cepat setelah serangan ransomware dan menjaga backup tetap terlindungi dari perubahan, enkripsi, atau penghapusan. Ketidakpastian ini membuat banyak organisasi ragu memindahkan beban kerja kritikal ke solusi AI. Selama infrastruktur data keamanan belum memisahkan sistem produksi dan pemulihan, setiap proyek AI besar adalah taruhan berisiko tinggi terhadap kelangsungan bisnis.

Backup dan Business Continuity: Garis Pertahanan Terakhir yang Sering Diabaikan

Clara Hsu menegaskan bahwa backup adalah garis pertahanan terakhir, sehingga tidak boleh ditempatkan bersama sistem produksi. Jika produksi dan backup berada di satu sistem, sekali terenkripsi, semuanya tumbang. Survei Synology menunjukkan hanya sekitar 24 persen perusahaan yang sangat yakin dapat melakukan pemulihan cepat saat terserang ransomware. Sisanya, 76 persen, belum yakin dengan kemampuan recovery-nya. Tidak heran backup business continuity kini menjadi prioritas utama dengan 53,9 persen perusahaan menempatkannya di posisi pertama. Salah satu pendekatan yang disorot adalah strategi backup 3-2-1-1-0, termasuk satu salinan terisolasi dan tidak dapat diubah, serta pengujian pemulihan berkala. Memiliki backup saja tidak cukup; "Perusahaan harus memastikan data backup tetap aman dan benar-benar dapat dipulihkan saat terjadi serangan".

Menuju Infrastruktur Data Keamanan yang Siap AI dan Ransomware

Saat ini, banyak organisasi berlari mengejar adopsi AI Indonesia, tetapi berjalan lambat dalam membangun infrastruktur data keamanan yang layak. Synology memperkuat portofolio penyimpanan, perlindungan siber, dan produktivitas berbasis AI untuk membantu perusahaan membangun infrastruktur digital yang lebih tangguh. Ke depan, mereka mengembangkan teknologi scale-out storage agar kapasitas dan performa dapat meningkat fleksibel mengikuti kebutuhan operasional, serta ActiveProtect dan ActiveProtect Manager 2.0 untuk memusatkan pengelolaan backup yang terisolasi dari sistem produksi dan kompatibel dengan berbagai lingkungan virtualisasi. Namun arah perubahannya jelas: perusahaan harus berhenti menganggap keamanan sebagai biaya tambahan dan mulai melihatnya sebagai prasyarat inovasi. Tanpa perlindungan data perusahaan yang kuat dan rencana business continuity yang teruji, setiap inisiatif AI adalah eksperimen berbahaya dengan risiko downtime, kerugian reputasi, dan kehilangan kepercayaan pelanggan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!