Ruang promosi yang mempertemukan produk dan pembeli
Makassar Sunday Market adalah pasar akhir pekan yang digagas Pemerintah Kota Makassar sebagai ruang pemberdayaan UMKM, promosi ekonomi kreatif, dan pengembangan pariwisata melalui interaksi langsung antara pelaku usaha dan masyarakat. Program ini diluncurkan di Anjungan Tugu MNEK, Jalan Metro Tanjung Bunga, pada Minggu, 1 November 2026, sebagai bagian dari rangkaian HUT ke-419 Kota Makassar. Nilai terpentingnya bukan semata jumlah lapak, melainkan kesempatan bagi produk lokal untuk ditemukan di luar layar dan kanal penjualan yang biasa mereka gunakan. Sebanyak 31 tenant UMKM hasil kurasi mendapat ruang memperkenalkan sekaligus memasarkan produk secara langsung kepada pengunjung. Bagi UMKM Makassar, pertemuan tatap muka dapat menjadi cara untuk menjelaskan mutu dan keunikan produk, menerima tanggapan konsumen, serta membangun hubungan yang sulit tercipta lewat promosi daring saja.
Dari lapak menjadi pengalaman wisata
Ruang ini akan lebih bernilai bila pengunjung mendapat alasan untuk tinggal, bukan hanya mampir membeli lalu pergi. Pilihan kuliner, fashion, kriya, dan karya kreatif memberi pasar ini peluang menyatukan belanja dengan rekreasi serta interaksi warga. Kepala Dinas Pariwisata Makassar, Achmad Hendra Hakamuddin, menyebut kegiatan tersebut sebagai upaya memperkuat ekosistem ekonomi kreatif sekaligus menambah daya tarik destinasi wisata. Anjungan Pantai Losari dan anjungan mandiri, sebagai ruang publik sekaligus ikon pariwisata, dapat menjadi tempat yang tepat untuk mempertemukan kegiatan ekonomi dan kunjungan wisata. Karena itu, tenant UMKM Losari sebaiknya dipandang sebagai bagian dari pengalaman kawasan, bukan sekadar deretan penjual. Pasar yang tertata dan beragam dapat memperkaya wisata Losari, sementara arus pengunjung memberi pelaku usaha peluang bertemu pelanggan baru.
Konsistensi lebih penting daripada seremoni
Peluncuran yang bertepatan dengan rangkaian HUT kota memberi Makassar Sunday Market perhatian awal, tetapi keberhasilannya akan ditentukan oleh kelanjutan setelah perayaan usai. Pemerintah kota berharap pasar ini menjadi agenda rutin, bukan kegiatan temporer. Itu arah yang tepat: pelaku usaha perlu jadwal yang dapat diandalkan, sedangkan pengunjung perlu tahu kapan dan untuk apa harus kembali. Wali Kota Munafri Arifuddin juga mendorong evaluasi tata lapak, termasuk kemungkinan menempatkannya dalam satu area atau tenda besar agar interaksi lebih nyaman. Penataan yang baik bukan urusan kosmetik; akses, alur pengunjung, dan kedekatan antarlapak ikut menentukan apakah orang menjelajah lebih lama dan menemukan produk yang belum dikenal. Konsistensi, kurasi, dan kenyamanan akan lebih meyakinkan daripada peluncuran meriah yang tidak berlanjut.
Uji akhir pekan dapat memperluas manfaat
Pemerintah kota membuka peluang menguji pelaksanaan pada Sabtu dan Minggu, meski kegiatan ini memakai nama Sunday Market. Uji dua hari dapat membantu melihat kapan pengunjung datang, bagaimana kebutuhan tenant berubah, dan apakah kawasan mampu menampung aktivitas tanpa mengganggu kenyamanan ruang publik. Perluasan itu sebaiknya disertai evaluasi terbuka: jumlah pelaku usaha yang benar-benar berjualan, ragam produk, kemudahan akses, dan pengalaman pengunjung. Bagi masyarakat, manfaat yang dijanjikan juga lebih luas dari belanja—pasar dirancang sebagai tempat berkumpul, menikmati kuliner, berekreasi, belajar, dan berinteraksi. Jika unsur-unsur tersebut hadir secara konsisten, pasar akhir pekan dapat menghubungkan ekonomi kreatif dengan pariwisata secara nyata. Kesimpulannya, 31 tenant adalah awal yang menjanjikan; keberhasilan Makassar Sunday Market bergantung pada kemampuannya menjadi ruang rutin yang menguntungkan UMKM dan membuat orang ingin kembali ke Losari.






