Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Festival Kuliner UMKM: Dari Stan Sederhana ke Omzet Miliaran

Festival Kuliner UMKM: Dari Stan Sederhana ke Omzet Miliaran
Minat|Makanan Kaki Lima

Festival kuliner UMKM: mesin percepatan omzet, bukan sekadar keramaian

Festival kuliner UMKM adalah ajang tematik yang mempertemukan puluhan hingga ratusan pedagang makanan lokal dengan ribuan pengunjung dalam ruang terkurasi, lengkap dengan fasilitas pembayaran digital, promosi terpusat, dan dukungan pemerintah sehingga menjadi akselerator penjualan, uji pasar, dan ekspansi jaringan pelanggan bagi pelaku usaha kecil.

Itu sebabnya festival seperti Hulonthalo Art & Craft Festival (HARFEST) menjadi lebih penting dari sekadar panggung hiburan. Di Kota Gorontalo, 75 UMKM kuliner ikut ambil bagian dalam Festival Kuliner HARFEST, yang digelar bersama oleh otoritas moneter daerah dan pemerintah kota maupun provinsi. Dengan catatan transaksi sekitar Rp3,3 miliar pada penyelenggaraan tahun sebelumnya, angka itu sekarang menjadi tolok ukur seberapa besar peluang yang akan kembali diperebutkan oleh para pedagang kecil. Jika ada bukti nyata bahwa pedagang lokal bisa naik kelas melalui festival, maka HARFEST adalah salah satu laboratorium paling konkret.

HARFEST: 75 pedagang kuliner mengincar pasar lebih luas

Kekuatan utama HARFEST adalah fokusnya pada ekspansi pasar, bukan sekadar stan penuh pengunjung. Sebanyak 75 pelaku UMKM kuliner Gorontalo menjadikan festival ini kesempatan untuk memperkenalkan produk sambil membuka akses pasar yang lebih luas. Mereka tidak berdiri sendiri; total sekitar 165 UMKM binaan otoritas moneter ikut mengisi keseluruhan pameran. Yang menarik, pesertanya tidak hanya UMKM binaan rapi berlogo, tetapi juga pelaku street food di kawasan Jalan Andalas yang sehari-hari berjualan di trotoar kota. Di sini, istilah pedagang lokal naik kelas menemukan bentuk konkret: dari gerobak di jalan ke hall ber-AC dengan ribuan pengunjung.

Satu kawasan street food di kota yang sama pernah mencatat perputaran usaha sekitar Rp1,8 miliar hanya dalam beberapa bulan. Angka ini menunjukkan bahwa sektor kuliner mikro bukan ekonomi pinggiran, melainkan sirkuit uang nyata bagi warga. Seperti disampaikan Bambang Satya Permana, pertumbuhan kuliner, munculnya wirausaha muda, dan kawasan ekonomi baru menandakan peluang pelaku usaha lokal masih terbuka lebar. Pertanyaannya bukan lagi apakah festival kuliner UMKM bermanfaat, tetapi bagaimana memaksimalkan momen empat hingga lima hari ini menjadi loncatan omzet jangka panjang.

Transaksi digital kuliner: dari QRIS ke 5G sebagai tulang punggung

Tidak ada festival kuliner UMKM modern tanpa transaksi digital kuliner yang lancar. Di Gorontalo, pelaku usaha didorong memperbaiki kualitas produk dan kemasan sekaligus memanfaatkan pembayaran digital hingga pengelolaan usaha yang lebih profesional. QRIS dan dompet digital menjadi kunci agar antrean pendek, pencatatan rapi, dan uang berputar lebih cepat. Ini sekaligus melatih UMKM memasuki ekosistem non-tunai, yang pada akhirnya mempermudah akses permodalan karena data transaksi mulai terekam.

Di kota lain, peran infrastruktur terlihat jelas. Pada Food Culture Festival bertema “Taste the Culture, Feel the Celebration” di Samber Park, Kota Metro, operator telekomunikasi menyiapkan pemantauan dan peningkatan kapasitas jaringan agar komunikasi dan pembayaran digital tenant tetap lancar selama festival berlangsung. Indosat Ooredoo Hutchison hadir sebagai penggerak di balik lancarnya ribuan transaksi digital para pelaku UMKM kuliner lokal. “Cakupan wilayah penetrasi jaringan di Kota Metro dan Bandar Lampung kini sudah mendekati 100 persen untuk populasi secara keseluruhan,” ujar M Andre Reinaldy, sembari menegaskan bahwa perluasan 5G terus berjalan bertahap hingga Lampung Selatan dan Bakauheni.

Festival Kuliner UMKM: Dari Stan Sederhana ke Omzet Miliaran

Ruang pamer cita rasa tradisional dan dampak ke ekonomi lokal

Ruang pamer dalam festival kuliner UMKM sering dianggap sekadar stan dan dekorasi, padahal substansi terpenting ada pada kurasi cita rasa. Di HARFEST, festival kuliner ini menjadi kesempatan bagi pelaku usaha memperkenalkan produk lokal sekaligus memperluas akses pasar. Campuran UMKM binaan dan pedagang street food membuat ragam rasa tradisional hadir apa adanya, dari jajanan kaki lima hingga olahan kemasan. Bagi 75 UMKM kuliner yang ikut, festival ini juga ruang pertemuan langsung dengan konsumen, tempat mereka menguji menu baru dan membaca respon pasar secara real-time.

Dampaknya melampaui tenda dan spanduk. Aktivitas usaha kuliner di satu kawasan street food saja sudah mampu menggerakkan perputaran usaha sekitar Rp1,8 miliar dalam beberapa bulan. Catatan ini menunjukkan bahwa transaksi antara pedagang dan pembeli ikut menggerakkan ekonomi masyarakat luas, dari pemasok bahan baku sampai pekerja harian. Bagi pemerintah dan Bank Indonesia, HARFEST menjadi salah satu cara mempertemukan produk lokal dengan pasar yang lebih luas. Inilah esensi pemberdayaan ekonomi lokal: bukan bantuan sesaat, tetapi menciptakan panggung rutin di mana uang, ide, dan rasa bertemu.

Kolaborasi BI–pemerintah–swasta: syarat pedagang lokal naik kelas

HARFEST diselenggarakan oleh otoritas moneter provinsi bersama pemerintah kota dan provinsi, menandakan bahwa festival kuliner UMKM serius dilihat sebagai instrumen kebijakan, bukan proyek seremonial belaka. Di sisi lain, pada Food Culture Festival di Metro, sektor swasta menghadirkan jaringan 4G dan 5G, plus ekosistem digital berupa akses ke layanan global seperti Google Gemini, Google Drive, dan Adobe Express bagi pengguna IM3 dan Tri untuk mendukung produktivitas pelajar, UMKM, dan kreator konten. Kombinasi ini membentuk ekosistem pemberdayaan ekonomi lokal yang lebih utuh: panggung fisik, konektivitas digital, dan dukungan kebijakan.

Namun kolaborasi saja tidak cukup jika pelaku UMKM berhenti di euforia ramai pengunjung. Bank Indonesia mengingatkan agar keikutsertaan UMKM tidak berhenti pada kenaikan penjualan selama festival; pelaku usaha didorong terus berbenah dari kualitas produk, kemasan, penggunaan pembayaran digital, hingga pengelolaan usaha yang lebih profesional. Selama festival kuliner HARFEST masih bisa dikunjungi hingga 13 September, para pedagang punya waktu terbatas untuk menyerap pelajaran ini dan mengubahnya menjadi strategi jangka panjang. Di titik inilah pedagang lokal naik kelas: bukan karena sekali tampil di festival, tetapi karena menjadikan festival sebagai titik awal perubahan cara berbisnis.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!