Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

83 Persen Siswa Gagal Numerasi Dasar: Alarm dari PISA

83 Persen Siswa Gagal Numerasi Dasar: Alarm dari PISA
Minat|Pendidikan Usia Sekolah

Data PISA Terbaru: Krisis Numerasi yang Tak Bisa Diabaikan

PISA 2025 Indonesia adalah hasil ujian internasional yang menilai kemampuan matematika, membaca, dan sains siswa berusia 15 tahun, yang menunjukkan bahwa lebih dari tiga perempat peserta belum mencapai kompetensi numerasi dasar, mengindikasikan krisis matematika siswa yang mengancam kualitas partisipasi mereka dalam kehidupan sosial dan ekonomi di masa depan. Temuan ini bukan sekadar angka; ini adalah cermin brutal atas mutu pembelajaran di ruang kelas. Sekitar 83,1 persen peserta berada di bawah Level 2 matematika, sehingga hanya satu dari enam siswa yang mampu menggunakan pengetahuan matematis untuk situasi sederhana sehari-hari. Pada titik ini, perdebatan tentang metode pengajaran atau model kurikulum menjadi kurang relevan jika sistem gagal memastikan keterampilan minimum yang sangat mendasar. Peringkat 73 untuk matematika dengan skor 364 poin, jauh di bawah rata-rata OECD 476, menegaskan bahwa persoalan kita bukan sekadar tertinggal, melainkan terjebak di zona rendah yang menetap.

83 Persen Siswa Gagal Numerasi Dasar: Alarm dari PISA

Di Bawah Tetangga Regional: Bukan Sekadar Kalah Skor

Ketika hasil PISA 2025 Indonesia ditempatkan dalam peta global, posisi urutan 73 untuk matematika dan 74 untuk literasi dari 91 negara membuat jarak ketertinggalan terlihat sangat jelas. Lebih menyakitkan lagi, perbandingan dengan negara tetangga ASEAN menunjukkan kita berada di bawah Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan Filipina dalam membaca serta matematika; hanya dalam sains, posisi kita sedikit lebih baik dibanding Filipina dan Kamboja. Ini bukan kompetisi gengsi, melainkan penanda bahwa ekosistem pendidikan di kawasan lain mampu menghasilkan fondasi numerasi yang lebih merata. Rata-rata skor sains 389 dan membaca 365 memang naik beberapa poin, sementara matematika turun tipis menjadi 364. Namun kenaikan kecil itu tidak mengubah fakta bahwa sekitar 72,9 persen siswa masih di bawah Level 2 membaca dan 63,2 persen di bawah Level 2 sains. Secara regional, kita semakin berjarak dari standar kemampuan dasar yang dibutuhkan remaja untuk hidup produktif.

Level 2: Batas Minimum yang Belum Tercapai

Inti persoalan PISA 2025 Indonesia bukan hanya skor rata-rata, tetapi distribusi kemampuan yang timpang di bawah kompetensi numerasi dasar. OECD mendefinisikan Level 2 sebagai batas minimum agar siswa dapat menggunakan pengetahuan dalam situasi sederhana dan berpartisipasi secara bermakna dalam masyarakat. Di bawah Level 2, siswa belum konsisten menafsirkan situasi sederhana secara matematis, memilih prosedur dasar yang tepat, atau menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia. Dengan 83,1 persen peserta berada di kategori ini, kita berhadapan dengan generasi yang rapuh dalam mengambil keputusan berbasis data, memahami risiko, atau membaca informasi kuantitatif dalam kehidupan sehari-hari. Pada membaca, 72,9 persen siswa belum mampu menemukan informasi penting, memahami gagasan utama, atau mengaitkan bacaan dengan tujuan tertentu. Sementara di sains, 63,2 persen peserta masih belum sampai pada kemampuan menggunakan pengetahuan ilmiah untuk menjelaskan fenomena sederhana. Ini bukan sekadar kelemahan akademik, melainkan keterbatasan fungsional.

Ilusi Kemajuan: Sains Naik, Mutu Pembelajaran Tetap Tertinggal

Kenaikan skor sains dari 383 menjadi 389 sering dibaca sebagai sinyal bahwa pembelajaran mulai membaik. Namun jika 63,2 persen siswa masih berada di bawah Level 2, sementara rata-rata negara OECD hanya sekitar 26 persen di kategori tersebut, jelas bahwa peningkatan ini belum menyentuh akar persoalan pemerataan kualitas. Skor membaca yang naik dari 359 menjadi 365 pun tidak menutup fakta bahwa hampir tiga perempat siswa belum mencapai kompetensi minimum. Bahkan pada matematika, penurunan skor dari 366 menjadi 364 menguatkan kesan bahwa reformasi yang ada belum mampu mengangkat kemampuan dasar secara sistemik. Pernyataan UNESCO bahwa melek huruf 97 persen penduduk tidak otomatis berujung pada literasi yang baik memperjelas jarak antara akses dan kualitas. “Kita juga harus mempertimbangkan apakah seseorang memiliki keterampilan untuk memahami informasi, berpikir kritis, memecahkan masalah,” menjadi pengingat bahwa angka partisipasi sekolah tanpa peningkatan kedalaman belajar hanyalah ilusi kemajuan.

Dari Alarm ke Agenda: Mengapa Kebijakan Harus Berubah Arah

Hasil ujian internasional PISA 2025 Indonesia memaksa kita mengakui bahwa fondasi numerasi dan literasi belum dibangun dengan serius. OECD mengingatkan skor yang masih rendah meski tingkat melek huruf tinggi, dan ini menunjukkan bahwa orientasi kebijakan pendidikan selama ini lebih mengejar akses ketimbang kualitas pemahaman. Ketika hanya 16,9 persen siswa mencapai Level 2 atau lebih tinggi dalam matematika, sistem pendidikan sedang menghasilkan mayoritas remaja yang lemah dalam keterampilan dasar yang diperlukan untuk pekerjaan modern dan partisipasi demokratis. PISA bukan penilaian sempurna atas seluruh kualitas pendidikan, tetapi cukup kuat untuk menunjukkan pola bahwa pembelajaran di kelas-kelas awal belum membekali siswa dengan kompetensi numerasi dasar yang berkelanjutan. Alarm ini seharusnya direspons dengan agenda konkret: menata kembali prioritas pembelajaran di fase awal, mengukur keberhasilan bukan dari kelulusan semata, tetapi dari seberapa banyak siswa yang menembus batas minimum Level 2. Tanpa perubahan arah yang tegas, setiap siklus PISA berikutnya hanya akan mengulang berita yang sama: kita masih tertinggal, dan semakin jauh.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!