Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Kamera Tabungan hingga Potret Pasar, Pelajar Menang Fotografi

Dari Kamera Tabungan hingga Potret Pasar, Pelajar Menang Fotografi
Minat|Gaya Fotografi

Prestasi lahir dari cara melihat

Lomba fotografi pelajar adalah ajang yang menguji bukan hanya keterampilan memakai kamera, melainkan juga kemampuan menemukan sudut pandang dan menyampaikan cerita lewat gambar. Kisah Ichiro dan Hasna membuktikan bahwa jalan menuju gelar juara fotografi siswa tidak harus bermula dari kondisi atau inspirasi yang sama: yang menentukan ialah kesungguhan mengolah apa yang tersedia.

Fauzan Nur Ichiro Suki, siswa kelas XII SMAN 3 Kota Bekasi, mengikuti cabang fotografi Festival dan Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional setelah direkomendasikan pembina seni yang melihat potensinya di kegiatan ekstrakurikuler. Ia memenangi tingkat Kota Bekasi pada 2025, lalu melaju ke tingkat Provinsi Jawa Barat dan meraih juara ketiga. Sementara itu, Hasna Kamilah Nur Zhafirah, murid kelas X G MAN 1 Yogyakarta, menjadi juara pertama Lomba Fotografi Semarak HUT ke-270 Kota Yogyakarta, dengan penghargaan diterima pada 26 Oktober 2026. Dua hasil ini layak dibaca sebagai lebih dari daftar pemenang: keduanya memperlihatkan bagaimana keberanian mengamati lingkungan dapat membuka ruang bagi siswa SMA fotografi untuk berkembang.

Ichiro: keterbatasan alat bukan batas kreativitas

Perjalanan Ichiro menunjukkan bahwa alat sederhana tidak harus mengerdilkan ambisi. Ia membeli kamera seharga Rp1,6 juta dari tabungan uang jajan dan THR Idulfitri serta Iduladha. Karena anggarannya terbatas, ia memilih kamera yang bisa memakai lensa 50 mm milik ayahnya. Pilihan itu praktis: lensa pinjaman tersebut kemudian ia gunakan untuk memotret kegiatan sekolah, pernikahan, dan pertandingan olahraga.

Di seleksi Kota Bekasi, Ichiro memilih Kelenteng Hok Lay Kiong dan memotret perayaan budaya dari sore hingga malam, saat peserta lain lebih banyak berburu gambar pada siang hari. Keputusan mencari suasana dan sudut berbeda membawanya ke juara pertama tingkat kota pada 2025. Di tingkat provinsi, ia harus mempresentasikan karya sebelumnya sekaligus mengambil dua foto langsung di lokasi lomba di SMAN 1 Lembang; hasilnya, juara ketiga. Pesannya tepat untuk calon fotografer muda: harga perlengkapan bukan ukuran potensi. Mata yang peka, kreativitas, dan latihan tekun lebih berarti daripada kamera mahal.

Hasna menemukan harmoni di Beringharjo

Jika Ichiro membangun keunggulan lewat waktu pemotretan dan sudut pandang, Hasna merangkai cerita dari keseharian pasar. Dalam kompetisi bertema “Harmoni Kota Yogyakarta”, ia memilih subtema pasar tradisional dan mengangkat Pasar Beringharjo. Foto berjudul “Sepenggal Harmoni Kota Yogyakarta di Sudut Beringharjo” mengantarkannya ke posisi pertama. Karya itu menempatkan interaksi pedagang dan pembeli serta dinamika jual beli sebagai gambaran kebersamaan, bukan sekadar latar yang ramai.

Hasna memotret dari sisi timur pasar, mencoba beberapa sudut dan momen sebelum memilih gambar yang paling sesuai dengan tema. Ia mengikuti lomba karena tertarik pada fotografi dan ingin mengembangkan kreativitas serta belajar bercerita melalui foto. Pendekatan ini mengingatkan bahwa foto Pasar Beringharjo yang berkesan tidak bergantung pada peristiwa besar; kehangatan dan kekhasan kehidupan sehari-hari pun dapat membawa pesan. Hasna berharap prestasi tersebut mendorongnya terus berkarya dan mengikuti kompetisi lain, serta berpesan agar murid tidak takut mencoba hal baru.

Dua proses, satu pelajaran

Kisah kedua pelajar ini menampilkan dua jalur yang sama-sama kuat. Ichiro mengandalkan pengamatan terhadap perubahan suasana dan perlengkapan yang ia sesuaikan dengan kemampuannya. Hasna menggali makna dari ruang publik yang akrab bagi warga. Perbedaan itu penting: lomba fotografi pelajar seharusnya tidak mendorong peserta meniru satu gaya, melainkan memberi ruang bagi pengalaman dan cara pandang yang beragam.

Bagi sekolah dan keluarga, capaian mereka juga menawarkan pelajaran praktis. Dukungan pembina dapat membantu bakat ditemukan, sementara lingkungan sekitar menyediakan bahan cerita tanpa perlu dicari jauh-jauh. Untuk siswa SMA fotografi yang baru mulai, latihan mengamati, mencoba sudut berbeda, dan menyusun pesan visual bisa lebih menentukan daripada menunggu perlengkapan ideal. Juara fotografi siswa memang patut dirayakan, tetapi nilai paling tahan lama dari capaian Ichiro dan Hasna ialah bukti bahwa ketekunan dapat mengubah kesempatan sederhana menjadi karya yang bermakna. Kesimpulannya, kamera membuka kemungkinan; kepekaan dan keberanianlah yang memberi foto arah.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!