Pangan lokal Senggi: dari kebiasaan makan menjadi strategi cegah stunting
Pengolahan pangan lokal untuk pencegahan stunting di Kawasan Transmigrasi Senggi adalah pendekatan edukasi gizi masyarakat yang mengubah pisang, keladi, petatas, dan sagu dari pangan tradisional Papua yang biasa dikonsumsi sehari-hari menjadi olahan bergizi dan bernilai ekonomi, sehingga keluarga tidak bergantung pada pangan impor dan mampu memenuhi kebutuhan gizi balita dan ibu hamil dengan sumber daya yang tersedia di sekitar mereka. Di sini letak pelajaran penting: persoalan tengkes tidak hanya soal kurangnya makanan, tetapi soal cara memanfaatkan yang sudah ada. Tim Ekspedisi Patriot Universitas Diponegoro mengajak warga Senggi memandang kebun dan kebiasaan makan mereka sebagai aset gizi, bukan sekadar tradisi. Alih-alih membawa paket pangan instan dari luar, pendekatan ini menegaskan bahwa perubahan perilaku makan berbasis budaya setempat jauh lebih berkelanjutan.

Program Sagu Sapa: laboratorium kecil inovasi gizi di Puskesmas Senggi
Program Sagu Sapa (Sajian Gizi Unggul, Lestarikan Pangan Lokal) bukan sekadar pelatihan memasak, melainkan laboratorium kecil perubahan sosial di Aula UPTD Puskesmas Senggi. Dengan menyasar 21 peserta yang terdiri dari kader Posyandu, Posbindu, kader malaria, dan pelaku UMKM, tim merancang pelatihan sebagai mata rantai pengetahuan yang bisa diteruskan ke tingkat keluarga dan pasar. Di dapur pelatihan, pisang, keladi, petatas, dan sagu diolah menjadi bolu keladi, brownies pisang, kukis petatas, serta kukis sagu gula merah. Ini bukan sekadar variasi menu; ini demonstrasi bahwa pangan tradisional Papua mampu tampil sebagai pangan modern yang menarik anak, sekaligus menyimpan potensi usaha kecil. Kutipan yang patut digarisbawahi datang dari salah satu peserta, Mery: “Mungkin selama ini kami mengolahnya seadanya saja. Kami sangat bersyukur dengan adanya kegiatan ini karena bisa menambah ilmu baru,” sebuah pengakuan jujur bahwa inovasi gizi berawal dari keberanian mengubah cara lama.

Stunting di Keerom: mengapa pangan lokal jadi kunci kebijakan
Jika angka stunting balita di Kabupaten Keerom masih 15,21 persen pada 2025, maka jelas pendekatan lama belum cukup. Pemerintah provinsi menargetkan penurunan dari sekitar 23 persen menjadi 18 persen pada 2026, dan target itu tidak mungkin tercapai hanya dengan kampanye poster gizi. Di sinilah program pengolahan pangan lokal di Senggi menjadi relevan dengan kebijakan kesehatan yang menempatkan pangan lokal sebagai strategi pemenuhan gizi seimbang. Mengolah sumber karbohidrat lokal seperti pisang dan umbi, memadukannya dengan bahan protein dan lemak sehat, lalu menjadikannya camilan yang disukai anak adalah bentuk nyata intervensi gizi di titik paling dekat dengan balita: dapur keluarga. Kemenkes bahkan sudah mengeluarkan petunjuk teknis pemberian makanan tambahan berbahan pangan lokal bagi ibu hamil dan balita bermasalah gizi. Artinya, apa yang dilakukan tim di Senggi bukan eksperimen pinggiran, melainkan implementasi konkret arah kebijakan.
Dari dapur rumah ke peluang usaha: gizi sebagai ekonomi lokal
Kekuatan program di Senggi terletak pada pandangan bahwa pencegahan stunting dan penguatan ekonomi lokal adalah dua sisi mata uang yang sama. Tim tidak berhenti pada resep; mereka sengaja melibatkan pelaku UMKM agar pangan lokal tidak hanya dikonsumsi secara konvensional, tetapi dikembangkan menjadi produk beragam, bergizi, dan punya potensi pasar. Bolu keladi dan kukis sagu bukan hanya alternatif menu, melainkan contoh konkret bagaimana edukasi gizi masyarakat bisa memunculkan lini usaha baru berbasis pangan tradisional Papua. Ketika kader kesehatan meneruskan pengetahuan ke keluarga, dan UMKM mengemasnya sebagai produk jual, ekosistem baru terbentuk: anak mendapat snack bergizi, orang tua mendapatkan tambahan penghasilan, dan pangan lokal naik kelas menjadi identitas ekonomi daerah. Program dirancang agar manfaat pelatihan terus berjalan setelah tim pergi, melalui kader dan pelaku usaha yang menjadi penggerak. Inilah bentuk kemandirian pangan yang tidak retoris.
Langkah selanjutnya: menjadikan perguruan tinggi mitra tetap perjuangan anti-stunting
Ekspedisi Patriot yang melibatkan perguruan tinggi untuk merumuskan rekomendasi dan praktik pembangunan sesuai kondisi sosial menunjukkan satu hal: kampus tidak seharusnya duduk jauh dari masalah gizi di lapangan. Program di Senggi dirancang agar tidak berhenti pada seremoni, tetapi menumbuhkan penggerak lokal yang sanggup melanjutkan edukasi dan inovasi produk. Ke depan, tantangannya adalah menjadikan pola ini bukan kegiatan sesekali, melainkan kemitraan jangka panjang antara universitas, puskesmas, pemerintah daerah, dan pelaku usaha kecil. Upaya penurunan stunting yang dilakukan melalui intervensi lintas sektor—kesehatan, ketahanan pangan, pendidikan, sanitasi, pemberdayaan masyarakat—memerlukan agen teknis yang sigap, dan perguruan tinggi berada pada posisi ideal untuk itu. Kesimpulannya jelas: jika kita serius menjadikan pengolahan pangan lokal sebagai tulang punggung pencegahan stunting, maka kehadiran tim seperti Ekspedisi Patriot harus dipandang bukan proyek satu musim, melainkan bagian tetap dari gerak pembangunan daerah.






