Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Punya Banyak Kontak, Mengapa Tetap Merasa Kesepian?

Punya Banyak Kontak, Mengapa Tetap Merasa Kesepian?
Minat|Kesehatan Mental

Kesepian bukan soal berapa banyak orang di sekitar

Kesepian adalah perasaan subjektif bahwa hubungan sosial yang dimiliki tidak cukup dari segi jumlah atau kualitas, sedangkan isolasi sosial adalah keadaan objektif ketika seseorang memiliki sedikit kontak dengan orang lain. Pembedaan ini penting: seseorang bisa berada di tengah keramaian dan tetap merasa terasing, sementara orang yang sering menyendiri belum tentu kesepian. Ratusan kontak, obrolan grup yang terus berjalan, dan linimasa yang penuh aktivitas tidak menjawab satu kebutuhan dasar: merasa didengar. Karena itu, kesepian di tengah keramaian bukan paradoks, melainkan tanda bahwa koneksi belum tentu menjadi kedekatan. Kesibukan kota dan media sosial dapat memperbanyak perjumpaan tanpa memberi ruang bagi percakapan yang jujur. Mengukur kehidupan sosial dari jumlah notifikasi adalah cara yang keliru; yang lebih penting ialah apakah ada orang yang dapat dihubungi ketika kita sedang rapuh.

WHO memperkirakan 17–21 persen orang berusia 13–29 tahun melaporkan kesepian, dengan angka tertinggi pada remaja. Angka itu mengingatkan bahwa keterhubungan teknologi tidak otomatis menjadi rasa memiliki. Kesepian di kota juga dapat muncul saat seseorang sibuk bekerja atau belajar bersama banyak orang, tetapi tidak memiliki hubungan yang terasa aman dan dekat.

Punya Banyak Kontak, Mengapa Tetap Merasa Kesepian?

Kemandirian perlu disertai perhatian

Hidup sendiri bukan sinonim kesepian, tetapi jarak dan rutinitas yang padat dapat membuat perubahan kondisi seseorang luput diketahui. Data Susenas BPS 2025 mencatat 5,7 juta orang di Indonesia hidup sendiri. Bagi mereka, pesan yang tak dibalas atau kebiasaan yang mendadak berubah mungkin tidak segera terlihat oleh orang terdekat. Ini bukan alasan untuk mengawasi setiap aktivitas, melainkan pengingat bahwa kepedulian perlu diwujudkan dalam tindakan. Pesan sederhana seperti menanyakan kabar bisa menjadi awal, terutama bila disusul perhatian ketika seseorang tidak muncul seperti biasanya. Koneksi digital berguna untuk menjembatani jarak, tetapi tidak seharusnya membuat kita mengira bahwa diamnya seseorang pasti hanya berarti sibuk.

Pada 4 November 2026, Kompas meluncurkan aplikasi Check In 24 untuk membantu orang-orang dalam lingkaran terdekat saling memperhatikan. Jika pengguna tidak membuka ponsel selama 24 jam, kontak pilihan menerima notifikasi agar dapat mengecek keadaannya. Pemberitahuan itu bukan bukti bahwa sesuatu yang buruk telah terjadi; fungsinya adalah mendorong kontak untuk menghubungi dan memastikan kabar. Alat semacam ini dapat menjadi pengingat, tetapi tidak menggantikan kepedulian manusia. Yang membuat perhatian berarti bukan notifikasinya, melainkan kesediaan seseorang untuk menindaklanjutinya.

Hubungan bermakna menopang kesehatan

Kesepian bukan sekadar suasana hati yang lewat. WHO mengaitkan kesepian dan isolasi sosial dengan peningkatan risiko stroke, penyakit jantung, diabetes, penurunan kognitif, dan kematian dini; orang yang kesepian juga dua kali lebih mungkin mengalami depresi. Dampak tersebut menunjukkan mengapa hubungan sosial bermakna patut dipandang sebagai bagian dari perhatian terhadap kesehatan mental, bukan kemewahan yang bisa ditunda sampai jadwal longgar. Banyak kenalan tidak selalu memberikan dukungan saat dibutuhkan. Sebaliknya, satu atau dua orang yang bisa dihubungi tanpa takut dihakimi dapat menjadi sandaran penting. Kedekatan seperti ini memerlukan waktu dan timbal balik: mendengar dengan sungguh-sungguh, menyisihkan perhatian, serta hadir lebih dari sekadar memberi tanda suka pada unggahan.

Penelitian terhadap 527 responden Gen Z di berbagai wilayah Indonesia menemukan bahwa dukungan sosial menjadi penghubung penting antara interaksi sosial dan penurunan kesepian. Artinya, mengisi kalender dengan banyak kegiatan belum tentu cukup bila interaksinya tidak memberi rasa diterima. Obrolan rutin, pertemuan langsung, atau kegiatan bersama dapat membantu membangun kedekatan karena memberi kesempatan untuk saling mengenal berulang kali.

Pilih kedekatan, bukan sekadar keramaian

Mengurangi rasa terasing tidak harus dimulai dengan memperluas lingkaran pertemanan. Mulailah dengan menjaga hubungan yang sudah ada: jadwalkan percakapan atau pertemuan langsung, bukan hanya bertukar balasan di media sosial. Jika belum memiliki lingkungan yang terasa dekat, bergabunglah dalam kegiatan berulang seperti komunitas olahraga, klub buku, kerja sukarela, atau kelompok hobi. Rutinitas bersama memberi ruang bagi kepercayaan untuk tumbuh. Membatasi penggunaan ponsel pada saat makan atau sebelum tidur juga dapat membantu menghadirkan perhatian yang utuh dalam pertemuan sehari-hari. Dan ketika kesepian berkepanjangan mengganggu kehidupan, mencari bantuan profesional adalah langkah yang layak, bukan tanda kelemahan.

Pada akhirnya, ramainya kontak bukan ukuran yang andal bagi rasa terhubung. Teknologi dapat membuka pintu untuk berkomunikasi, tetapi kedekatan lahir dari perhatian yang konsisten dan dukungan yang nyata. Kita tidak perlu mengenal semua orang; kita perlu merawat hubungan sosial bermakna yang membuat kita dan orang lain merasa tidak sendirian. Kesimpulannya sederhana: bukan jumlah orang di sekitar yang menentukan, melainkan apakah ada hubungan yang membuat kita merasa didengar, diterima, dan diperhatikan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!