Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Tiga Karakter yang Terjebak Jerat Budaya Patriarki di Make Me Tingle

Tiga Karakter yang Terjebak Jerat Budaya Patriarki di Make Me Tingle
Minat|Drama Korea

Patriarki di Drakor Romcom: Make Me Tingle dan Rasa Jengkel Penonton

Patriarki di drakor Make Me Tingle adalah penggambaran sistem nilai yang menempatkan laki-laki sebagai pusat kuasa keluarga, lalu mengatur tubuh, pilihan pendidikan, karier, dan hubungan asmara perempuan maupun laki-laki muda melalui aturan konservatif yang meresap ke hal-hal sehari-hari seperti meja makan, sekolah, pekerjaan, hingga kewajiban menikah, sehingga romcom ini berubah menjadi kritik emosional atas norma sosial yang mengekang kebebasan individu.

Make Me Tingle memang dikemas sebagai drama romcom tentang Gong Yeon Su dan CEO perusahaan sex toy, Dokgo Dal. Namun, di balik premis ringan itu, cerita sengaja menyorot keluarga Yeon Su yang konservatif dan sarat budaya patriarki. Penonton tidak diajak tertawa tanpa beban, melainkan dibuat geram oleh adegan-adegan diskriminatif yang terasa akrab bagi banyak orang. Alih-alih menjadi hiburan netral, drama ini memaksa kita mengakui bahwa romantisasi keluarga tradisional sering menutupi luka yang ditinggalkan sistem patriarki. Di sinilah kekuatan Make Me Tingle analisis: romcom dipakai sebagai medium kritik budaya patriarki, sehingga rasa jengkel penonton menjadi bagian dari pesan sosial yang ingin disampaikan.

Gong Yeon Su: Anak Perempuan yang Hidupnya Diatur Meja Makan dan Perjodohan

Gong Yeon Su adalah contoh paling jelas karakter korban patriarki dalam drama ini. Sebagai anak pertama, statusnya tidak berarti apa-apa ketika gender menjadi penentu utama nilai dirinya. Kakek dan nenek membatasi pilihan hidup Yeon Su: ia hanya boleh bersekolah dan kuliah di tempat khusus putri, karena sekolah campur dianggap mengancam moral keluarga. Bahkan menstruasi pertamanya harus disikapi sembunyi-sembunyi, seolah ia melakukan dosa besar. Di rumah, diskriminasi tampak gamblang lewat pemisahan meja makan dan menu untuk tetua, perempuan, dan pria; porsi perempuan lebih sedikit, sementara laki-laki diposisikan sebagai pusat perhatian.

Tekanan tidak berhenti di ruang domestik. Di usia 29 tahun, Yeon Su terus dimarahi karena belum menikah dan dipaksa menerima perjodohan serta ikut kencan buta. Ia bahkan tidak bisa jujur bahwa sudah memiliki pacar selama lebih dari satu tahun, karena hubungan itu tidak sesuai skenario keluarga. Menurut salah satu sumber, "Di usianya yang ke-29 tahun, ia juga didesak untuk menikah lewat perjodohan". Kewajiban memasak dan mengurus rumah saat acara keluarga besar yang digelar 22 kali dalam setahun menegaskan bahwa perempuan adalah tenaga kerja tak terlihat, bukan individu dengan waktu dan keinginan sendiri. Semua ini membuat penonton bukan sekadar kasihan, tetapi marah, karena romcom yang seharusnya hangat justru memantulkan realitas pahit patriarki di drakor.

Tiga Karakter yang Terjebak Jerat Budaya Patriarki di Make Me Tingle

Mi Young dan Nam Su: Dua Wajah Berbeda dari Luka yang Sama

Budaya patriarki di Make Me Tingle tidak hanya menjerat Yeon Su, tetapi juga Mi Young dan Gong Nam Su, meski dengan bentuk tuntutan yang berbeda. Mi Young, sebagai perempuan dewasa dalam keluarga, memikul beban domestik yang nyaris tak ada habisnya. Saat persiapan acara besar keluarga, hanya anggota keluarga perempuan yang sibuk memasak dan mengurus keperluan lainnya; laki-laki bebas dari kerja fisik dan emosional itu. Mi Young menjadi simbol generasi perempuan yang menerima tugas rumah sebagai takdir, bukan pilihan. Ia tidak diberi ruang untuk menolak, karena norma patriarkal sudah mengakar sebagai “kewajiban perempuan”.

Di sisi lain, Gong Nam Su menunjukkan bahwa patriarki juga menyakiti laki-laki muda. Sebagai anak laki-laki, ia diharuskan sukses dan bekerja sebagai PNS, padahal bukan itu impiannya. Identitasnya direduksi menjadi mesin prestasi yang harus mengangkat nama keluarga. Tekanan ini berbeda dari yang dialami Yeon Su dan Mi Young, tetapi berasal dari akar yang sama: sistem yang menentukan nilai seseorang berdasarkan gender dan peran tradisional. Penonton dibuat geram karena drama menelanjangi fakta bahwa karakter korban patriarki tidak selalu perempuan; laki-laki pun bisa menjadi korban ketika kebebasan memilih hidup sendiri ditelan oleh ekspektasi keluarga yang kaku.

Dari Meja Makan hingga Masa Depan: Kritik Sosial yang Mengguncang Emosi

Make Me Tingle analisis tidak bisa dilepaskan dari cara drama ini menampilkan budaya patriarki melalui detail yang tampak sepele, tetapi menghantam emosi penonton. Pemisahan meja makan, tabu menstruasi, larangan sekolah campur, dan kewajiban domestik perempuan menjadi rangkaian adegan yang "bikin penonton ikutan kesal" dan "bikin penonton ikutan geram". Romcom ini sengaja membuat kita jengkel, karena rasa tidak nyaman adalah pintu untuk mempertanyakan norma yang selama ini dianggap wajar. Ketika Yeon Su dimarahi karena belum menikah di usia 29 tahun, atau Nam Su dipaksa mengejar karier yang bukan impiannya, penonton dihadapkan pada pertanyaan: berapa banyak hidup yang dikorbankan demi menjaga wajah patriarki?

Drama ini jelas bukan sekadar hiburan; ia adalah kritik budaya patriarki yang menyorot sistem sosial yang membatasi kebebasan individu berdasarkan norma patriarkal. Dengan menjadikan tiga karakter utama sebagai cermin, Make Me Tingle menunjukkan bahwa patriarki bukan teori abstrak, melainkan kekerasan halus yang hadir di piring makan, jadwal sekolah, jam pulang kerja, dan kalender perjodohan. Kesimpulannya tegas: selama keluarga dan masyarakat terus mengatur hidup anak muda berdasarkan gender, romcom apa pun akan terasa getir. Make Me Tingle mengajak penonton bukan hanya marah, tetapi berani membayangkan keluarga yang tidak lagi menjadikan perempuan dan laki-laki sebagai tawanan tradisi.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!