Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Wakil Gubernur Jakarta Perkuat Jembatan Budaya di Festival Indonesia Seoul

Wakil Gubernur Jakarta Perkuat Jembatan Budaya di Festival Indonesia Seoul
Minat|Jepang & Korea

Festival Indonesia Seoul: Dari Panggung Budaya ke Agenda Strategis Kota

Festival Indonesia Seoul adalah ajang pertemuan masyarakat dua kota yang memadukan seni, kuliner, dan kreativitas sebagai sarana diplomasi budaya, sekaligus ruang bagi pemerintah daerah seperti Jakarta dan Seoul untuk menjajaki kerja sama konkret di bidang kebudayaan, industri kreatif, dan perfilman yang berkontribusi pada posisi kedua kota di tingkat global. Di Yeouido Hangang Park, Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno hadir bukan sekadar menghibur diaspora, melainkan membawa mandat politik kebudayaan yang jelas: menjadikan budaya sebagai pintu masuk kolaborasi ekonomi kreatif dan jembatan hubungan antarmasyarakat. Mengenakan batik bernuansa Betawi, ia memperkenalkan Jakarta melalui pertunjukan kesenian dan paparan khusus yang menegaskan bahwa identitas kota dapat menjadi aset diplomasi, bukan beban tradisi. Festival Indonesia Seoul, dalam konteks ini, berubah dari agenda seremonial menjadi forum kerja sama yang diseriusi pemerintah daerah, dan itu patut dibaca sebagai pergeseran penting dalam cara Jakarta memandang panggung internasional.

Wakil Gubernur Jakarta Perkuat Jembatan Budaya di Festival Indonesia Seoul

Diplomasi Budaya Bilateral: People-to-people sebagai Fondasi Kolaborasi Jakarta–Seoul

Rano Karno menempatkan Festival Indonesia Seoul sebagai ruang diplomasi budaya bilateral yang bertumpu pada hubungan antarmasyarakat, bukan hanya protokol resmi. Dengan kehadiran ribuan warga asal berbagai daerah yang tinggal dan bekerja di Seoul, ia menekankan bahwa seni dan kuliner berfungsi sebagai bahasa bersama yang mampu melampaui batas politik dan jarak. Dari sudut pandang kebijakan kota, ini langkah berani: mengakui bahwa reputasi global Jakarta dibangun melalui perjumpaan warga biasa, bukan sekadar forum elit. Pernyataan bahwa "Festival Indonesia bukan sekadar perayaan budaya. Ini adalah ruang perjumpaan" mengirim pesan jelas bahwa Jakarta ingin diplomasi budaya bilateral dijalankan melalui platform yang hidup dan terbuka, di mana kolaborasi Jakarta Korea di bidang kebudayaan, ekonomi kreatif, dan perfilman tumbuh dari saling percaya, bukan dari sekadar penandatanganan nota kesepahaman.

Wakil Gubernur Jakarta Perkuat Jembatan Budaya di Festival Indonesia Seoul

Industri Kreatif dan Film: Pilar Ekonomi Budaya Jakarta–Seoul

Agenda paling strategis dari kunjungan ini terletak pada fokus kolaborasi di sektor industri kreatif dan perfilman sebagai pilar ekonomi budaya bagi kedua kota. Rano secara terang menyebut bahwa hubungan Jakarta–Seoul perlu diisi kerja sama konkret mulai dari industri kreatif, film, hingga pengembangan talenta muda. Pilihan fokus ini bukan kebetulan: ekosistem budaya Korea – dari film, musik, drama, kuliner sampai fesyen – sudah terbukti berubah menjadi kekuatan ekonomi dan instrumen diplomasi yang menembus batas negara. Jakarta membaca keberhasilan itu sebagai model, sekaligus tantangan. Sebagai kota yang sejak lama menjadi ruang perjumpaan berbagai etnis dan tradisi, Jakarta punya bahan baku budaya yang melimpah, namun belum diolah optimal sebagai industri audiovisual dan ekonomi kreatif. Langkah membawa isu kolaborasi film ke Festival Indonesia Seoul menunjukkan bahwa pemerintah provinsi melihat panggung budaya sebagai pasar ide, jejaring, dan investasi masa depan, bukan sekadar ruang promosi identitas.

Dari Seoul ke Busan: Jakarta Film Commission dan Mimpi Ekosistem Regional

Kunjungan Rano Karno tidak berhenti di tepi Sungai Han; ia berlanjut ke Busan International Film Festival untuk memperkenalkan Jakarta Film Commission kepada jejaring industri film dunia. Di sini terlihat ambisi yang lebih tajam: menjadikan Jakarta salah satu pusat produksi dan pengembangan industri audiovisual, dengan ekosistem perfilman yang belajar dari kota-kota film mapan seperti Busan. Forum Busan dimaknai sebagai ruang membangun jejaring dengan sineas, produser, investor, festival, dan pelaku industri kreatif dari berbagai negara, bukan sekadar kehadiran simbolik. Jika konsisten, pendekatan ini bisa menggeser Jakarta dari sekadar lokasi syuting ke posisi kota yang aktif mengatur insentif, layanan, dan kebijakan film, seperti yang dilakukan kota-kota global lain. Pertanyaannya bukan lagi apakah Jakarta layak, melainkan apakah pemerintah siap menata birokrasi dan infrastruktur untuk menyambut arus kolaborasi internasional yang ia cari sendiri.

Menuju Usia 500 Tahun: Jakarta Global Tanpa Kehilangan Akar

Menjelang usia 500 tahun, Jakarta dihadapkan pada pilihan: menjadi kota global dengan wajah anonim, atau kota global yang berangkat dari akar budayanya. Rano dengan tegas mengambil posisi kedua. Ia menilai sejarah panjang perjumpaan etnis dan tradisi di Jakarta adalah sumber kekuatan untuk masa depan, bukan sesuatu yang harus disembunyikan di balik gedung tinggi. Belajar dari Korea Selatan, pesan yang diangkat jelas: budaya hanya akan mendunia bila diberi ruang, kreator diperkuat, dan industri dibangun secara konsisten sebelum diperkenalkan ke dunia. Festival Indonesia Seoul dan langkah memperkenalkan Jakarta Film Commission di Busan sebenarnya adalah uji coba awal strategi tersebut. Jika setelah panggung festival ini lahir kebijakan nyata – mulai dari dukungan talenta muda, insentif industri kreatif, hingga regulasi film yang pro-kreator – maka kunjungan ini layak diingat sebagai titik balik. Jika tidak, ia akan tinggal sebagai foto indah di tepi Sungai Han tanpa transformasi di Jakarta sendiri.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!