Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dokter Peringatkan: Kurang Tidur Lebih Berbahaya daripada Pola Makan Buruk

Dokter Peringatkan: Kurang Tidur Lebih Berbahaya daripada Pola Makan Buruk
Minat|Peningkatan Kualitas Tidur

Kurang Tidur: Masalah Gaya Hidup yang Lebih Serius daripada Nasi

Bahaya kurang tidur adalah kondisi ketika seseorang terbiasa tidur jauh di bawah durasi ideal, sehingga tubuh kehilangan kesempatan memulihkan fungsi otak, hormon, metabolisme, dan sistem imun, serta memicu peningkatan risiko penyakit kronis meski pola makan terlihat terkontrol.

Dokter Yohana Onimerrynda mengaku lebih takut melihat pasien yang tidur hanya 4–5 jam sehari dibandingkan pasien yang makan nasi berlebih. Menurutnya, banyak orang sibuk menghitung kalori, tetapi merasa tidur singkat setiap malam adalah hal biasa. Pernyataannya memicu perdebatan publik karena menampar pola pikir populer: diet ketat dianggap penting, sementara begadang dianggap wajar dan produktif.

Secara medis, tidur bukan sekadar cara menghilangkan kantuk. Tidur adalah “jam servis” tubuh: otak diperbaiki, hormon distabilkan, metabolisme dirapikan, dan daya tahan diperkuat. Rekomendasi 7–9 jam tidur malam untuk orang dewasa bukan angka manja, melainkan batas aman agar tubuh tidak terus bekerja dalam mode darurat tanpa istirahat yang layak.

Ritme Sirkadian Terganggu: Mengapa Tidur Larut Malam Begitu Berisiko

Kebiasaan tidur lewat tengah malam sering dibela dengan alasan “yang penting total jam tidur cukup”. Padahal, tidur larut malam risiko kesehatannya jauh lebih rumit daripada sekadar kurang jam tidur. Jika dilakukan terus-menerus, tidur terlalu larut mengganggu ritme sirkadian tubuh dan menurunkan kualitas tahapan tidur yang paling memulihkan.

Ritme sirkadian adalah jam internal 24 jam yang mengatur kapan kita terjaga, mengantuk, memproduksi hormon, mengatur metabolisme, kekebalan, hingga perbaikan sel. Ketika ritme sirkadian terganggu secara kronis, penelitian mengaitkannya dengan peningkatan risiko berbagai masalah kesehatan jangka panjang. Seorang ahli tidur menjelaskan bahwa orang yang terjaga atau tidur pada jam tidak normal memiliki risiko lebih tinggi terhadap penyakit kardiovaskular, diabetes tipe 2, obesitas, demensia, dan depresi.

Masalahnya tidak berhenti di jadwal tidur. Paparan cahaya terang di malam hari menurunkan melatonin yang seharusnya memicu kantuk, sementara kortisol—“alarm” alami tubuh—sudah bersiap naik menjelang pagi. Akibatnya, kita kehilangan porsi tidur gelombang lambat yang lebih banyak terjadi di paruh pertama malam, sehingga bangun tidur tetap merasa lelah dan tidak segar.

Dari Otak hingga Jantung: Bahaya Kurang Tidur yang Tak Terlihat

Bahaya kurang tidur tidak berhenti pada rasa kantuk. Ketika 4–5 jam tidur menjadi kebiasaan, dampak sehari-hari muncul dalam bentuk sulit fokus, mudah lupa, mood naik turun, dan tubuh tetap terasa capek meski baru bangun tidur. Ini bukan sekadar “kurang semangat”, tetapi sinyal bahwa otak dan tubuh gagal menyelesaikan proses perbaikan di malam hari.

Dalam jangka panjang, kurang tidur kesehatan dikaitkan dengan obesitas, diabetes tipe 2, hipertensi, dan penyakit jantung. Ketidaksesuaian ritme sirkadian yang berlangsung kronis juga dihubungkan dengan risiko berbagai kondisi kesehatan kronis lainnya. Jika kita menganggap diet dan olahraga sebagai investasi kesehatan, tidur yang dipotong terus-menerus sama dengan menarik dana kesehatan itu setiap malam.

Yang sering terlupakan, kurang tidur bisa menggagalkan program diet. Penelitian uji klinis yang dikutip dr. Yohana menunjukkan pembatasan jam tidur meningkatkan rasa lapar, keinginan makan, dan porsi makan tanpa disadari. Jadi, orang yang bangga bisa bertahan dengan sedikit tidur sambil mengurangi nasi sebenarnya menambah risiko: metabolisme kacau, nafsu makan naik, dan tubuh makin sulit diajak bekerja sama.

Mengubah Kebiasaan: Dari Begadang Normal ke Tidur yang Lebih Sehat

Tren begadang yang dianggap normal menjadi pemicu utama kegelisahan para dokter. Selama masyarakat memuji kerja lembur dan hiburan tengah malam, pesan tentang bahaya kurang tidur akan terasa seperti nasihat yang mengganggu gaya hidup. Padahal, konsekuensinya menyentuh hal-hal praktis: produktivitas turun, emosi mudah meledak, dan tubuh tidak pernah merasa segar.

Untuk memutus pola ini, langkah pertama adalah menormalkan kembali jadwal tidur. Konsultan tidur menyarankan kebiasaan sederhana: menjaga jam tidur dan bangun yang konsisten, mengurangi paparan cahaya malam, dan mendapatkan sinar matahari pagi untuk menyeimbangkan ritme sirkadian. Selain itu, kafein sebaiknya dihindari setelah pukul 15.00, dan kamar tidur dibuat sejuk agar tubuh lebih mudah relaks.

Namun, jika setelah berbagai upaya ritme sirkadian tetap tidak selaras, ini bisa menandakan masalah mendasar yang perlu dibicarakan dengan spesialis tidur. Di titik ini, memaksakan diri begadang bukan lagi soal pilihan gaya hidup, melainkan bentuk pengabaian terhadap sinyal serius tubuh. Mengurangi drama diet tanpa menyentuh pola tidur adalah strategi setengah hati yang pada akhirnya merugikan tubuh sendiri.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!