Debut solo K-pop sebagai ruang pemberontakan kreatif
Debut solo K-pop adalah momen ketika seorang idola meninggalkan pakem musik dan visual grupnya untuk menampilkan visi pribadi, baik melalui pemilihan genre, konsep lirik, maupun mini album tracklist yang menyorot sisi artistik yang selama ini tertutup oleh identitas kolektif. Dalam konteks ini, Sung Han Bin dan Lee Han Gyul tidak hanya merilis album, tetapi memakainya sebagai pernyataan sikap terhadap standar dan ekspektasi yang mengekang mereka sebagai anggota grup. Keduanya memposisikan debut solo bukan sekadar proyek sampingan, melainkan bab baru yang berani dalam perjalanan kreatif mereka masing-masing, dengan risiko sekaligus potensi redefinisi citra di mata penggemar.
Sung Han Bin ‘DEAD:ALIVE’: Narasi luka dan kedekatan dengan penggemar
Sung Han Bin ZEROBASEONE merilis tracklist mini album solo pertamanya berjudul “DEAD:ALIVE”, berisi delapan lagu yang menandai langkah awalnya sebagai solois. “UNDEAD” dipilih sebagai title track dan digambarkan sebagai kisah seseorang yang rela menerima rasa sakit, baik dari orang terkasih maupun dari dirinya sendiri. Ini adalah pilihan tema yang pekat dan emosional, jauh dari lirik tipikal tentang romansa ringan. Di samping itu, kehadiran sebuah fan song dengan lirik yang ditulis langsung oleh Sung Han Bin menjadi jembatan intim antara artis dan penggemar, sekaligus mengukuhkan identitas personalnya di luar narasi grup. Mini album debut solo “DEAD:ALIVE” dijadwalkan rilis pada 12 Oktober 2026 di berbagai situs musik digital, mengukuhkan tonggak baru dalam kariernya.

Lee Han Gyul ‘NOISE’: Latin pop dan penolakan terhadap standar lingkungan
Berbeda arah, Lee Han Gyul memilih sonik yang lebih ritmis dan ekspresif lewat mini album “NOISE” yang berisi lima lagu dan menjadi debut solo resminya. Menurut Orca Music, “NOISE” memuat total lima lagu dengan “BUNZI” sebagai lagu utama yang mengusung nuansa Latin pop, diperkuat alunan bass yang kuat. Empat lagu lain—“Yeet it x2”, “007”, “Zero Point”, dan “Spit it OUT”—menghadirkan warna hip-hop yang lebih beragam, menandai garis besar identitas musiknya yang agresif dan enerjik. Agensi menegaskan bahwa album ini membawa pesan untuk tidak terpengaruh ekspektasi dan standar yang diberikan oleh lingkungan, dan Lee Han Gyul ingin berbicara dengan suara yang benar-benar mewakili dirinya sendiri. Setelah sekitar sembilan tahun berkarier, “NOISE” akan dirilis pada 14 Oktober pukul 18.00 KST sebagai rilisan solo perdananya.

Dua jalur, satu tujuan: menegaskan identitas di luar grup
Jika disandingkan, arah artistik Sung Han Bin dan Lee Han Gyul tampak berlawanan tetapi saling melengkapi. “DEAD:ALIVE” cenderung gelap, introspektif, dan emosional, sementara “NOISE” berani memadukan Latin pop dan hip-hop yang ekspresif. Namun keduanya bertemu pada satu titik: keinginan untuk menegaskan identitas sendiri, bukan sekadar perpanjangan estetika grup. Fan song dengan lirik pribadi milik Sung Han Bin menunjukkan kedekatan yang hangat dengan penggemar, sementara pesan “NOISE” tentang menolak standar lingkungan menempatkan Lee Han Gyul sebagai sosok yang menantang ekspektasi industri. Di tengah gelombang debut solo K-pop yang terus menguat, dua mini album ini menjadi contoh bagaimana idola dapat memutar arah karier, dari sekadar anggota grup menjadi seniman dengan suara yang lebih tegas dan berwarna.






