AI menjadi alat bantu, bukan pengganti guru
AI untuk guru adalah penggunaan kecerdasan buatan untuk membantu merancang bahan ajar, media, evaluasi, dan umpan balik, dengan pendidik tetap memeriksa hasil serta menentukan keputusan akhir. Prinsip ini menjadi inti dorongan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) agar guru, dosen, dan tenaga kependidikan menguasai AI demi memperkuat kualitas pembelajaran dan administrasi pendidikan.
Dorongan itu terasa mendesak karena AI menghadirkan peluang sekaligus tantangan bagi pendidikan. Pelatihan Nasional Guru Era Digital 2026 berlangsung daring pada 20–22 Oktober, diselenggarakan Zavrel Indonesia dengan dukungan KAHMI UNJ dan akademisi UNJ. Program ini menggabungkan pemahaman konsep dengan latihan menggunakan platform AI. Bukan banyaknya aplikasi yang menentukan manfaatnya, melainkan kemampuan pendidik memilih penggunaan yang sesuai dengan kebutuhan siswa.
Wakil Rektor UNJ Ivan Iskandar merangkum pendekatan yang patut dipegang: “human first, AI second, human third.” Manusia merumuskan tujuan, AI membantu mengolah dan memeriksa pekerjaan, lalu manusia mengambil keputusan akhir. Dengan demikian, teknologi dapat mengurangi pekerjaan rutin tanpa menghapus tanggung jawab profesional guru.
Pelatihan AI guru mengutamakan praktik
Pelatihan AI guru ini disusun bertahap selama tiga hari agar keterampilan yang dipelajari berhubungan dengan pekerjaan nyata di sekolah. Pada hari pertama, peserta berlatih menggunakan ChatGPT dan Gemini serta menyusun prompt agar keluaran sesuai kebutuhan pembelajaran. Keterampilan itu berguna untuk memulai rancangan materi, tetapi hasilnya tetap perlu disunting dan dicocokkan dengan tujuan pelajaran.
Hari kedua mengangkat pembuatan media visual dengan bantuan platform Antigravity. Pada hari ketiga, perhatian beralih ke asesmen: peserta berlatih menyusun soal pilihan ganda dan esai, kuis interaktif, serta rubrik berbasis Higher Order Thinking Skills (HOTS) menggunakan MagicSchool AI dan Quizizz AI. Mereka juga mempelajari analisis hasil belajar dan penyusunan umpan balik yang lebih personal.
Rangkaian ini menunjukkan cakupan AI dalam pembelajaran, dari persiapan bahan ajar hingga evaluasi. Namun, pelatihan baru bernilai jika keterampilan itu diterapkan dengan pertimbangan pedagogis, bukan sekadar karena sebuah platform tersedia.
Kompetensi digital perlu disertai pemeriksaan
Kompetensi guru digital bukan hanya kecakapan mengoperasikan aplikasi. Pendidik perlu memeriksa apakah informasi yang dihasilkan akurat, relevan, sesuai tujuan belajar, dan cocok dengan karakteristik peserta didik. Pengawasan juga penting agar bahan otomatis tidak membawa kekeliruan ke ruang kelas atau menggantikan penilaian profesional.
Ada manfaat praktis yang jelas: bantuan AI dalam persiapan materi, evaluasi, dan administrasi dapat membuat waktu kerja lebih efektif, sehingga guru memiliki ruang lebih besar untuk memperhatikan kebutuhan belajar siswa. Namun, penghematan waktu tidak boleh menjadi alasan untuk mengurangi interaksi, empati, atau pendampingan. Ketua KAHMI UNJ Wawan Saiful Irwan mengingatkan bahwa ketulusan dan pembentukan karakter tetap bagian penting pendidikan.
Karena itu, sikap bertanggung jawab harus tertanam dalam setiap penggunaan: guru menetapkan tujuan, memeriksa keluaran, lalu memutuskan apakah materi layak digunakan. AI dapat mempercepat pekerjaan, tetapi hubungan belajar dan akuntabilitas tetap berada pada pendidik.
Perluasan manfaat bergantung pada komunitas guru
Pelatihan tidak seharusnya berhenti pada peserta yang hadir. Dekan FMIPA UNJ Hadi Nasbey berharap kegiatan ini dapat berlanjut melalui komunitas guru dan program pengembangan kompetensi lain. Peserta juga didorong membagikan pengetahuan melalui Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP), Kelompok Kerja Guru (KKG), serta komunitas pendidik lainnya.
Pola berbagi ini penting karena kebutuhan tiap kelas dan sekolah berbeda. Guru dapat saling menguji contoh penggunaan AI, bertukar cara memeriksa hasil, serta mengenali kapan teknologi tidak cocok digunakan. Pelatihan yang berkelanjutan akan lebih berguna daripada pengenalan fitur satu kali tanpa pendampingan.
Dorongan UNJ tepat arahnya: pendidik perlu menguasai AI agar mampu memilih dan mengawasi pemanfaatannya, bukan menyerahkan proses belajar kepada mesin. Ukuran keberhasilan bukan seberapa banyak aplikasi yang digunakan, melainkan apakah siswa mendapat pembelajaran yang lebih relevan, terarah, dan tetap manusiawi.






