Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Laptop Gratis untuk Pelajar: Seberapa Jauh Dampaknya?

Laptop Gratis untuk Pelajar: Seberapa Jauh Dampaknya?
Minat|Penggunaan Laptop

Laptop Gratis Pelajar: Bukan Sekadar Bagi-Bagi Perangkat

Program distribusi laptop gratis pelajar adalah kebijakan yang memberikan perangkat komputer portabel kepada siswa dari keluarga kurang mampu untuk mendukung akses digital pendidikan, membuka peluang literasi digital, dan mencegah mereka tertinggal dalam sistem pembelajaran modern berbasis teknologi. Di Palembang, kebijakan ini hadir dalam bentuk laptop pinjaman lengkap dengan kuota internet gratis bagi anak-anak kategori Desil 1, yaitu keluarga sangat miskin. Sementara di Sekolah Rakyat, laptop sekolah rakyat menjadi tulang punggung sistem learning management system (LMS) yang sepenuhnya digital. Ini bukan sekadar program sosial manis di atas kertas, melainkan ujian serius: apakah negara siap memastikan anak miskin punya akses yang sama ke dunia digital, atau laptop hanya menjadi simbol tanpa perubahan nyata dalam kualitas belajar mereka.

Palembang: 4.000 Anak Miskin dan Janji Menutup Kesenjangan

Di gang sempit belakang kantor lurah, 4.000 anak Palembang dari keluarga sangat miskin memegang erat laptop pinjaman dan kuota internet gratis. Bantuan ini lahir dari program distribusi laptop siswa yang menggabungkan 2.500 unit dari CSR Telkomsel dan 1.500 unit dari Dinas Pendidikan, sehingga 4.000 anak hari itu bisa kembali belajar. Walikota menegaskan, dari total 11.000 anak Desil 1 yang membutuhkan, 7.000 lagi akan dianggarkan melalui APBD 2026 agar tidak ada satu pun anak tertinggal belajar hanya karena tidak punya laptop. Secara politis, ini adalah pernyataan tegas bahwa akses digital pendidikan bukan lagi kemewahan. Namun secara praktis, Palembang baru menutup sekitar sepertiga kebutuhan. Tanpa percepatan, laptop gratis pelajar berisiko menjadi program elitis: menyentuh beberapa ribu anak, tapi meninggalkan ribuan lainnya menunggu giliran yang tak jelas.

Sekolah Rakyat: Laptop sebagai Tulang Punggung Pembelajaran Digital

Jika Palembang fokus menambal kesenjangan akses, Sekolah Rakyat menjadikan laptop sebagai jantung pembelajaran. Sistem di sekolah ini menggunakan learning management system (LMS) digital, sehingga satu siswa satu laptop menjadi syarat, bukan bonus. Menteri Sosial menjelaskan, lebih dari 15.000 laptop sekolah rakyat telah dibagikan pada tahun ajaran 2025, dan tahun ini ditargetkan tambahan sekitar 30.000 unit yang masih dalam proses pengadaan. Laptop hanya boleh digunakan di kelas, tidak boleh dibawa ke asrama, agar fungsi utamanya tetap untuk belajar. Di atas kertas, ini langkah berani: menjadikan anak-anak prasejahtera sebagai digital native, bukan penonton teknologi. Namun pembatasan penggunaan di kelas juga menunjukkan kegelisahan pemerintah terhadap potensi penyalahgunaan. Pertanyaannya: apakah literasi digital bisa matang jika perangkat hanya hadir di jam pelajaran, bukan di keseharian siswa?

Akses Digital Pendidikan: Dari Simbol ke Transformasi Nyata

Sekolah Rakyat sendiri adalah program strategis yang menampung lebih dari 44.000 siswa prasejahtera di 182 titik, termasuk anak putus sekolah atau yang belum pernah mengenyam pendidikan formal. Di banyak titik, mereka sudah menikmati gedung permanen dengan laboratorium dan lapangan olahraga. Ditambah laptop gratis pelajar di Palembang dan ribuan laptop sekolah rakyat, negara seolah mengirim pesan: akses digital pendidikan adalah hak, bukan hadiah. Namun literasi digital tidak berhenti pada distribusi perangkat. Tanpa pelatihan guru yang kuat, kurikulum yang relevan, dan dukungan internet yang stabil, laptop mudah berubah menjadi mesin ketik mahal. Program distribusi laptop siswa harus berani diukur bukan dari jumlah unit yang dibagikan, tetapi dari perubahan nyata: apakah anak miskin lebih percaya diri mengakses pengetahuan, berpartisipasi dalam kelas digital, dan melihat teknologi sebagai jalan keluar dari lingkaran kemiskinan.

Apa Langkah Berikutnya agar Laptop Tidak Sekadar Gimmick?

Ke depan, janji Palembang menganggarkan 7.000 laptop tambahan di APBD 2026 dan target 30.000 laptop baru untuk Sekolah Rakyat yang sedang dalam proses pengadaan adalah momentum penting. Namun program distribusi laptop siswa harus naik kelas dari sekadar pengadaan barang menjadi strategi literasi digital yang utuh. Pemerintah daerah dan pusat perlu memastikan pendampingan penggunaan LMS, pengawasan agar laptop benar-benar dipakai untuk belajar, serta evaluasi berkala terhadap capaian akademik siswa penerima. Laptop gratis pelajar adalah pintu, bukan tujuan. Tanpa kebijakan lanjutan, pintu itu hanya terbuka setengah, meninggalkan anak-anak prasejahtera berdiri di ambang dunia digital tanpa benar-benar masuk. Kesimpulannya, keberanian membagi laptop sudah ada; sekarang saatnya keberanian mengukur dampak dan mengakui kekurangan, agar akses digital pendidikan benar-benar mengubah hidup, bukan sekadar mengubah foto seremoni.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!