SELANTANG: Saat Lansia Diposisikan sebagai Subjek Pendidikan, Bukan Beban
Program pelatihan lansia SELANTANG adalah model pembelajaran terstruktur lansia yang menempatkan warga usia lanjut sebagai peserta didik aktif, dengan rangkaian kelas berkala yang dirancang untuk membangun kesehatan produktif lansia, memperkuat kemandirian, dan mendorong pemberdayaan usia lanjut melalui peningkatan pengetahuan, keterampilan, serta peran sosial mereka di tengah keluarga dan komunitas. Wisuda 208 lansia dari tujuh kecamatan Lamongan di Pendopo Lokatantra menjadi simbol jelas bahwa pendidikan tidak berhenti ketika usia menua. Enam bulan pembelajaran dengan 12 kali pertemuan membuka ruang bagi para sesepuh untuk belajar, berdiskusi, dan menata ulang cara mereka memaknai masa tua. Ini bukan sekadar kegiatan seremonial, tapi pernyataan politik yang kuat: pemerintah daerah memilih menginvestasikan energi pada lansia, bukan hanya pada generasi muda. Dalam konteks populasi usia lanjut yang terus bertambah, pilihan ini terasa lebih maju ketimbang pendekatan klasik yang memandang lansia sebagai kelompok pasif penerima bantuan saja.
Angka Wisuda yang Berbicara: Lansia Bukan Lagi Pinggiran
Kelulusan 208 peserta SELANTANG setelah mengikuti enam bulan pembelajaran terstruktur lansia dengan total 12 pertemuan menunjukkan bahwa lansia mampu berkomitmen pada proses belajar yang konsisten. Di balik angka ini, terdapat 33 kelas SELANTANG yang telah dibentuk, dengan 13 kelas meluluskan total 395 lansia dan 20 kelas lain masih berjalan. Menurut data yang disampaikan Bupati Yuhronur Efendi, sekitar 12 persen penduduk berada pada kategori usia lanjut, menjadikan keberadaan sekolah lansia bukan pelengkap, tetapi kebutuhan pokok kebijakan sosial. Bila pemerintah terus memperlakukan lansia sebagai prioritas kebijakan, angka kelulusan seperti ini akan mengubah cara masyarakat memandang masa tua: bukan periode penurunan, melainkan fase produktif yang diisi pembelajaran berkelanjutan. Program pelatihan lansia seperti SELANTANG dengan tegas menolak narasi bahwa penurunan fisik harus diikuti penarikan diri dari kehidupan sosial dan ekonomi.
Dari Kesehatan Produktif hingga Keteladanan: Dampak Nyata di Rumah dan Desa
Visi utama SELANTANG adalah menjadikan lansia sehat, mandiri, aktif, produktif, dan berdaya. Fokus pada kesehatan produktif lansia penting, karena kesehatan di sini tidak dimaknai sebatas bebas penyakit, melainkan kemampuan tetap berkarya, berpartisipasi, dan mengambil keputusan bagi diri sendiri. Pemerintah daerah menekankan bahwa keterbatasan usia tidak boleh menjadi penghalang untuk menebar manfaat. Di tingkat praktik, program ini diharapkan menambah pengalaman dan pengetahuan lansia agar mereka bisa menjadi teladan, pencerah, dan penunjuk arah minimal bagi keluarganya sendiri. Ketika tokoh-tokoh masyarakat yang sudah berumur pulang dari kelas SELANTANG dengan perspektif baru, efeknya menjalar ke lingkup RT, dusun, hingga desa. Lansia tidak lagi ditempatkan di sudut rumah menunggu bantuan, melainkan diajak memimpin diskusi tentang pola hidup sehat, relasi keluarga, bahkan keputusan ekonomi rumah tangga. Pemberdayaan usia lanjut pada titik ini menjadi strategi kuat merawat keberlanjutan sosial.
Lansia sebagai Agen Perubahan: Tugas Pasca Wisuda Baru Dimulai
Wisuda SELANTANG seharusnya dipandang sebagai garis start baru, bukan garis akhir. Pemerintah daerah mengharapkan seluruh ilmu yang diserap para peserta akan terus dipraktikkan dalam keseharian, menjadikan mereka pencerah dan contoh keteladanan bagi keluarga serta tetangga. Di titik ini, arah kebijakan perlu bergeser dari sekadar menyediakan program pelatihan lansia menuju ekosistem yang memungkinkan lulusan menjadi agen perubahan: forum warga yang menyertakan lansia, program desa yang memberi ruang mereka memimpin, hingga dukungan untuk aktivitas ekonomi yang mungkin mereka jalankan. Jika 395 lansia lulusan berbagai kelas SELANTANG mulai terlibat aktif dalam pengambilan keputusan di komunitas masing-masing, dampaknya bisa setara dengan menggerakkan ratusan "konsultan lokal" yang memahami konteks sosial setempat dan punya otoritas moral. Kesimpulannya, ketika masa tua dikaitkan dengan pembelajaran, mandat sosial, dan kepercayaan, lansia tidak lagi menjadi beban statistik, tetapi jantung perubahan sosial di tingkat akar rumput.






