Peran Strategis Asia Tenggara di Tengah Persaingan Geopolitik Global

Peran Strategis Asia Tenggara di Tengah Persaingan Geopolitik Global
Minat|Asia Tenggara

Dari Tepi ke Inti: Mengapa Asia Tenggara Tak Bisa Lagi Hanya Menonton

Peran strategis ASEAN merujuk pada kemampuan kolektif negara-negara Asia Tenggara untuk mempengaruhi arah geopolitik, ekonomi, dan teknologi global melalui koordinasi kebijakan, integrasi kepentingan regional, serta peningkatan kapasitas domestik, sehingga kawasan ini tidak lagi sekadar menjadi objek tarik-menarik kekuatan besar, melainkan subjek yang ikut menentukan peta persaingan global regional secara mandiri dan berkelanjutan. Di tengah persaingan Amerika Serikat dan Tiongkok, perkembangan teknologi, perubahan ekonomi global, dan isu keberlanjutan, Asia Tenggara berada di persimpangan yang menuntut pilihan tegas: terus menjadi penonton atau naik kelas menjadi pemain utama.

Diskusi yang dibuka dengan bedah buku "What It Takes: Asia Tenggara – Dari Tepi Menuju Inti Kesadaran Global" karya Gita Wirjawan menandai pembukaan Dies Natalis ke-61 sebuah perguruan tinggi, Kamis (13/8). Forum itu bukan sekadar agenda seremonial, melainkan refleksi bahwa kawasan ini harus menyadari nilai tawar geopolitik Asia Tenggara yang terus meningkat. Gita menegaskan pentingnya menjaga equilibrium atau keseimbangan hubungan antara kekuatan Barat dan Tiongkok agar Asia Tenggara keluar dari kondisi mediocrity menuju capaian unggul. Pesannya jelas: tanpa strategi sadar dan kolektif, kawasan ini akan tetap berada di pinggir percaturan global.

Forum Akademik yang Mengingatkan Asia Tenggara: Saatnya Punya Agensi

Rangkaian Masterclass & Roundtable Discussion bertajuk “Masa Depan dan Tren Asia Tenggara: Dari Tepi Menuju Inti Kesadaran Global” resmi membuka Dies Natalis ke-61, sekaligus menjadi momentum memperkuat sinergi akademik lintas disiplin pada Kamis (13/8/2026). Tema besar Dies, “Sinergi UAJY Mewujudkan Laudato Si’ untuk Semakin Berdampak dan Menjadi Berkat”, menunjukkan bahwa percakapan tentang geopolitik Asia Tenggara tidak bisa dilepaskan dari isu keberlanjutan dan tata kelola global.

Dalam forum tersebut, Gita Wirjawan mengajak peserta menelusuri sejarah panjang Asia Tenggara, dari kedatangan Portugis di Malaka pada 1511 hingga dinamika Dinasti Qing, untuk memahami mengapa kawasan ini sejak lama menjadi simpul perdagangan dan kekuatan global. Di level ide, para akademisi menyoroti bahwa secara geografis dan ekonomi, Asia Tenggara sangat strategis, tetapi pengaruhnya dalam structural power global belum sebanding dengan potensi yang dimiliki. Kutipan yang layak diingat dari diskusi itu adalah: “Asia Tenggara perlu menjaga equilibrium atau keseimbangan hubungan antara kekuatan Barat dan Tiongkok” sebagai prasyarat untuk meningkatkan kapasitas dan keluar dari mediocrity.

Peran Strategis Asia Tenggara di Tengah Persaingan Geopolitik Global

Integrasi Ekonomi dan Teknologi: Kunci Keluar dari Kesenjangan dan Ketergantungan

Jika peran strategis ASEAN ingin naik kelas, integrasi ekonomi dan teknologi tidak bisa lagi ditunda. Diskusi lintas disiplin dalam roundtable menunjukkan betapa rapuhnya fondasi kawasan ketika kesenjangan ekonomi antarnegara ASEAN dan pengelolaan sumber daya alam yang belum optimal masih menjadi masalah utama. Ketika Asia Tenggara berupaya meningkatkan daya saing ekonomi di tengah perubahan rantai pasok dan industri global, pertanyaan yang harus dijawab adalah: apakah kebijakan ekonomi regional sudah cukup terkoordinasi untuk mengurangi ketergantungan pada kekuatan besar dan memaksimalkan kapasitas domestik?

Dari sisi teknologi, peringatan tentang risiko algoritma digital dan kecerdasan buatan yang dapat memperkuat echo chamber menunjukkan sisi lain dari transformasi digital: tanpa literasi dan regulasi yang memadai, teknologi malah bisa mengerdilkan ruang publik dan memperlemah kapasitas kritis masyarakat. Dalam konteks persaingan global regional, ketertinggalan regulasi dan kapasitas inovasi akan membuat ASEAN hanya menjadi pasar, bukan produsen pengetahuan dan teknologi. Karena itu, integrasi ekonomi dan teknologi harus dibaca sebagai strategi geopolitik: membangun kemandirian, memperkuat posisi tawar, dan memastikan bahwa setiap negara anggota tidak berjalan sendiri-sendiri ketika berhadapan dengan kekuatan Barat dan Tiongkok.

Kepemimpinan Regional: Peluang dan Tanggung Jawab Indonesia

Diskusi di kampus tersebut berkali-kali menyinggung bahwa Asia Tenggara memang relatif stabil, tetapi tidak bebas dari kerentanan, termasuk isu Laut China Selatan, klaim Nine-Dash Line Tiongkok, dan kehadiran pakta pertahanan AUKUS yang berpotensi memengaruhi prinsip kawasan bebas senjata nuklir. Di tengah konfigurasi itu, kepemimpinan Indonesia ASEAN dan diplomasi regional menjadi ujian sesungguhnya: apakah kawasan memilih strategi reaktif atau berani membangun agensi politiknya sendiri. Strategi hedging yang cerdas, sebagaimana disarankan dalam diskusi, mengandaikan kemampuan memainkan jarak yang tepat dengan semua kekuatan besar tanpa terjebak dalam blok tertentu.

Lewat forum akademik ini, muncul pertanyaan yang tidak boleh dihindari: seberapa besar Indonesia bisa mengambil peran dalam membentuk masa depan Asia Tenggara? Jawabannya tidak bisa berhenti pada jargon ASEAN Centrality. Kawasan memerlukan koordinasi konkret antarnegara ASEAN untuk mempertahankan relevansi dan kemandirian ekonomi di tengah tarik-menarik kekuatan global. Penandatanganan Nota Kesepahaman antara sebuah institusi kebijakan publik dan perguruan tinggi dalam rangkaian Dies Natalis ke-61 menunjukkan kesadaran bahwa kerja sama pengetahuan adalah bagian dari diplomasi jangka panjang. Jika kepemimpinan Indonesia ASEAN gagal mendorong kolaborasi semacam ini ke level regional, Asia Tenggara akan tetap bergantung pada agenda yang ditentukan pihak luar.

Kesimpulan: Dari Retorika ke Strategi Kolektif

Pembukaan Dies Natalis ke-61 dengan tema besar sinergi dan keberlanjutan menandai dimulainya rangkaian kegiatan yang ditujukan untuk memperkuat kolaborasi akademik dan kontribusi bagi masyarakat serta lingkungan. Namun nilai strategis dari forum ini justru terletak pada pesan yang lebih luas: Asia Tenggara tidak lagi punya kemewahan untuk bersikap pasif di tengah persaingan Amerika Serikat dan Tiongkok, perubahan teknologi, ekonomi, dan tuntutan keberlanjutan.

Ke depan, peran strategis ASEAN akan ditentukan oleh beberapa hal: keberanian menjaga keseimbangan dengan kekuatan besar sambil membangun kapasitas sendiri; komitmen pada integrasi ekonomi dan teknologi yang mengurangi kesenjangan dan ketergantungan; serta kesediaan negara-negara anggota, termasuk Indonesia, untuk menjadikan koordinasi regional sebagai strategi geopolitik, bukan hanya retorika diplomatik. Asia Tenggara harus berani mengklaim dirinya sebagai pemain utama. Tanpa langkah kolektif dan konsisten, kawasan ini akan tetap menjadi arena persaingan orang lain, bukan panggung bagi kepemimpinan regional yang matang.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!