Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Pejuang Kanker ke Era Solo: Determinasi EVAN dalam “Death of Me”

Dari Pejuang Kanker ke Era Solo: Determinasi EVAN dalam “Death of Me”
Minat|Penyanyi/Band Pop

Perjalanan Kanker Limfoma yang Menjadi Inti Narasi EVAN

Perjalanan EVAN dari pejuang kanker limfoma di masa kecil hingga menjadi solois melalui “Death of Me” adalah kisah determinasi yang menjadikan trauma medis, dukungan keluarga, dan hubungan intim dengan musik sebagai bahan bakar identitas artistiknya yang baru. Dalam sebuah wawancara, EVAN mengungkap bahwa ia didiagnosis kanker limfoma sejak usia dini dan harus menjalani perjalanan pengobatan yang panjang di rumah sakit. Namun, inti cerita ini bukan sekadar penderitaan, melainkan pilihan untuk hidup. Di bangsal, ketika menyaksikan teman-teman sesama pasien berpulang satu per satu, ia menyimpan tekad: “Aku sangat ingin hidup, aku ingin pulang ke rumah”. Di titik inilah, karakter keras kepala untuk bertahan yang kini terasa jelas dalam EVAN Death of Me mulai dibentuk, jauh sebelum ia berdiri di panggung sebagai penyanyi solo.

Dari Pejuang Kanker ke Era Solo: Determinasi EVAN dalam “Death of Me”

Ibu, Gitar, dan Panggung Kecil: Cara EVAN Bertahan

Jika ada dua kata yang paling menggambarkan perjalanan kanker limfoma EVAN, keduanya adalah "ibu" dan "musik". EVAN menuturkan bahwa kekuatan untuk terus maju bersumber dari sang ibu, yang merawatnya tanpa henti dan membuatnya bertekad untuk selalu terlihat tegar, meskipun proses pengobatan sangat berat. Di tengah infus dan bau disinfektan ruang perawatan, ia menemukan panggung kecil: talent show untuk sesama pasien, sesi bermain gitar, dan momen menjadi pembawa acara yang seolah memutar arah ruang rawat menjadi ruang konser pribadi. Keinginan menjadi penyanyi sudah hadir sejak ia berusia enam tahun, tapi masa perawatan sempat menyingkirkan mimpi itu ke sudut hatinya. Di sini, musik bukan hobi ringan—musik adalah mekanisme bertahan hidup, dan fondasi emosional yang kelak mewarnai debut solo EVAN dan cara ia menulis tentang tekanan, ketakutan, serta harapan.

Dari Pejuang Kanker ke Era Solo: Determinasi EVAN dalam “Death of Me”

Luka Sosial dan Lahirnya Introvert yang Tajam secara Emosional

Setelah melewati pengobatan, hidup EVAN tidak serta-merta kembali normal. Berbaur lagi dengan teman sebaya ternyata jauh lebih sulit dari yang dibayangkan: energinya berkurang, tubuhnya belum sepenuhnya pulih, dan rambut yang masih tumbuh kembali setelah kemoterapi menjadikannya sasaran ejekan di lingkungan pertemanan. Alih-alih melawan, EVAN memilih menerima ejekan agar bisa kembali diterima, sebuah kompromi pahit yang meninggalkan bekas panjang. Barulah di bangku SMP ia menemukan teman-teman baik, meski mengakui tidak lagi seceria dan seterbuka dulu, perlahan berubah menjadi pribadi yang lebih introvert. Transformasi ini penting untuk membaca karya-karya solonya: sensitivitas yang tajam, bukan ekspresi meledak-ledak. Debut solo EVAN pada Juni 2026 melalui single "Ride or Die" menandai langkah baru di panggung musik, sekaligus sinyal bahwa pengalaman sosial dan luka psikologisnya akan hadir sebagai lapis emosi utama, bukan sekadar latar belakang.

Dari Member Grup ke Solois: Identitas yang Lebih Intim

Saat EVAN, yang sebelumnya dikenal sebagai member ENHYPEN dengan nama Heeseung, memutuskan masuk ke era solo, yang ia kejar bukan hanya kebebasan musikal, melainkan kejujuran yang lebih intim. Single "Ride or Die" di Juni 2026 menjadi penanda pertama bahwa ia siap tampil dengan musik baru sebagai solois. Transisi dari anggota grup ke solois sering dipandang sebatas perubahan format panggung. Namun dalam kasus EVAN, perpindahan ini terasa sebagai langkah untuk mengklaim narasi hidupnya sendiri. Di grup, trauma masa kecil dan perjalanan kanker limfoma cenderung berada di balik layar; di era solo, kisah tersebut pelan-pelan maju ke depan melalui lirik, pilihan visual, dan cara ia menyusun komposisi. "Death of Me" kemudian hadir bukan sekadar title track, melainkan deklarasi identitas: EVAN kini tampil sebagai penulis kisahnya sendiri, bukan hanya penginterpretasi karya orang lain.

“Death of Me”: Visual Gelap, Determinasi Terang

Rilis MV EVAN Death of Me pada 7 September 2026 sebagai bagian dari mini album solo pertamanya dengan judul yang sama menjawab pertanyaan: bagaimana seorang mantan pejuang kanker menata ulang trauma menjadi seni? Lagu ini adalah pernyataan personal tentang keberanian menghadapi tekanan dan terus melangkah menuju masa depan. Lirik “Ain’t the death of me” menggarisbawahi sikap dasar EVAN: tantangan bukan akhir perjalanan, melainkan dorongan untuk bangkit. Secara visual, MV Death of Me menghadirkan lorong gelap, ruang putih, percikan api, serta adegan panggung sinematik yang membentuk music video gelap determinasi—kontras antara ancaman dan harapan. Nuansa pop R&B yang emosional memperlihatkan warna musikal baru, sementara keterlibatan EVAN dalam penulisan lirik dan komposisi menjadikan karya ini perkenalan identitas solo yang lebih personal dan autentik. Di sini, pengalaman hidupnya bukan ornament, melainkan inti pesan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!