Parenting Terstruktur: Kompas Baru Kemitraan Madrasah dan Keluarga
Program parenting madrasah adalah rangkaian kegiatan edukasi orang tua yang dirancang terintegrasi dengan visi, kurikulum, dan budaya madrasah ramah anak untuk menyelaraskan pola pengasuhan di rumah dengan proses pembelajaran di sekolah sehingga guru dan orang tua memiliki kompas nilai yang sama dalam mendidik, melindungi, dan menumbuhkan potensi anak secara utuh. Menariknya, beberapa madrasah ibtidaiyah Muhammadiyah menjadikan awal tahun pelajaran bukan sekadar seremoni, melainkan momentum membangun sinergi sekolah orang tua. MI Muhammadiyah Blumbang menggelar Awalussanah dan Seminar Parenting untuk menyambut Tahun Pelajaran 2026/2027 pada Sabtu, 8 Agustus 2026, sementara MIM Bandung Andong mengadakan Awalussanah dan Parenting pada 15 Agustus 2026. MI Sa’adatuddarain melengkapi gerakan ini dengan Kick Off Madrasah Ramah Anak dan Parenting pada 11 Agustus 2026. Polanya jelas: tahun pelajaran baru dimulai dengan membangun fondasi kemitraan, bukan hanya jadwal pelajaran.

Seminar Parenting Islam yang Menyatu dengan Visi Madrasah Ramah Anak
Yang membedakan seminar parenting Islam di madrasah-madrasah ini adalah keberpihakan yang tegas pada anak. MI Sa’adatuddarain menempatkan parenting dalam satu paket dengan Kick Off Madrasah Ramah Anak untuk mewujudkan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, menyenangkan, dan mendukung tumbuh kembang anak. Komitmen “Madrasah Ramah Anak, Harapan Umat” tidak berhenti di spanduk; madrasah menginginkan pembelajaran yang ramah anak di kelas bertemu dengan pola pengasuhan positif di rumah. Di Blumbang, tema “Menyelaraskan Kompas Pengasuhan di Rumah dan di Madrasah” menegaskan bahwa nilai yang ditanamkan guru harus diperkuat orang tua, begitu pula sebaliknya. Di Bandung Andong, tema “Sinergitas Madrasah, Guru dan Orang Tua: Tangan Bergandengan, Hati Selaras” memposisikan parenting bukan sebagai kelas teori, tetapi sebagai deklarasi gerakan bersama.

Narsum dari Pusat Pendidikan: Panduan Praktis untuk Ruang Tamu dan Ruang Kelas
Program parenting madrasah ini tidak digarap seadanya. MI Muhammadiyah Blumbang menghadirkan Pujiono dari tim Diksuspala Penjamin Mutu Sekolah Muhammadiyah Pimpinan Pusat sebagai narasumber seminar parenting. MIM Bandung Andong juga menghadirkan Pujiono yang menjabat Ketua Forum Guru Muhammadiyah Kabupaten Boyolali dan Mudir PonpesMU Manafi’ul Ulum Canden, Sambi. Di MI Sa’adatuddarain, sesi parenting dipandu Ustadazah Hj. Lilih Rahmawati, MA, Penyuluh Agama Islam Ahli Madya Kementerian Agama RI yang berpengalaman sebagai Dewan Hakim MTQ Nasional dan pelatih Syarhil Qur’an. Konsekuensinya, materi tidak berhenti pada nasihat umum. Orang tua diajak merefleksikan pola pengasuhan, menempatkan diri sebagai pendamping bukan pengontrol, serta mendahulukan evaluasi diri sebelum menilai anak. Anak dipahami sebagai individu dengan kebutuhan spiritual, intelektual, emosional, fisik, dan sosial yang harus didampingi sesuai tahap perkembangan.

Awalussanah sebagai Strategi Sistemik Membangun Sinergi Sekolah-Orang Tua
Ada pilihan strategis yang sedang diambil madrasah: menjadikan Awalussanah dan Kick Off Madrasah Ramah Anak sebagai ruang membangun sinergi sekolah orang tua, bukan sekadar pembagian informasi teknis. Di Blumbang, kepala madrasah menegaskan bahwa pendidikan anak tidak dapat hanya dibebankan kepada sekolah dan membutuhkan keterlibatan aktif orang tua di rumah. Komite madrasah dan majelis pendidikan hadir, memposisikan program parenting sebagai bagian dari ekosistem, bukan agenda tunggal. Di MIM Bandung, kepala madrasah menyatakan tujuan kegiatan adalah mengajak wali murid bersatu membangun bangsa melalui madrasah dan merasa memiliki lembaga tersebut. Pujiono mengingatkan bahwa ketika orang tua merasa memiliki madrasah, akan muncul kepedulian, dukungan, dan akhirnya terbentuk generasi mulia dunia akhirat. MI Sa’adatuddarain terang-terangan menolak slogan kosong; semangat madrasah ramah anak dituntut hadir dalam keseharian, di kelas dan di rumah.
Dampak Nyata bagi Keluarga: Dari Ceramah ke Kebiasaan Sehari-hari
Pertanyaannya, apa makna semua ini bagi orang tua biasa? Pertama, beban pengasuhan tidak lagi terasa sendiri. Rumah dan madrasah tidak boleh berjalan sendiri-sendiri; apa yang ditanamkan guru perlu diperkuat orang tua, dan nilai baik di keluarga harus mendapat penguatan di madrasah. Kedua, orang tua mendapat panduan konkret: mendampingi, membangun kesadaran, memberi keteladanan ibadah, memenuhi hak-hak anak, dan membuka komunikasi sesuai usia anak. Ketiga, sinergi yang kuat antara guru, madrasah, dan keluarga diharapkan membuat pembentukan karakter, kecerdasan, kedisiplinan, serta akhlak anak berlangsung berkelanjutan. Kepala MI Muhammadiyah Blumbang berharap Awalussanah dan parenting menjadi langkah awal positif membangun kolaborasi yang semakin erat antara madrasah, orang tua, komite, dan persyarikatan. Jika kompas pengasuhan selaras, madrasah ramah anak tidak lagi konsep, melainkan pengalaman sehari-hari bagi setiap siswa.






