Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Kapasitas Pelabuhan Melonjak, Logistik Darat Tertinggal

Kapasitas Pelabuhan Melonjak, Logistik Darat Tertinggal
Minat|Asia Tenggara

Lonjakan Kapasitas Pelabuhan Peti Kemas dan Masalah Baru di Darat

Kapasitas pelabuhan peti kemas adalah kemampuan terminal dan fasilitas pelabuhan dalam menangani bongkar muat serta penumpukan kontainer, yang idealnya terhubung secara efisien dengan simpul logistik darat seperti depo, gudang, jaringan jalan, dan moda angkutan lain agar aliran barang tidak terhambat di luar area pelabuhan. Dalam lima tahun terakhir, volume arus peti kemas nasional menunjukkan tren pertumbuhan positif, memaksa pelabuhan meningkatkan layanan dan kapasitasnya. Namun, penguatan di sisi laut belum dibarengi penguatan simpul logistik darat yang memadai. Peneliti dari UGM menegaskan hambatan di satu simpul akan berdampak pada simpul lain dalam ekosistem logistik. Artinya, percepatan bongkar muat di dermaga berisiko hanya memindahkan bottleneck ke depo, trucking, dan gudang. Jika pola ini dibiarkan, pelabuhan menjadi etalase efisiensi sementara rantai pasokan nasional tetap macet di belakang layar.

Kapasitas Pelabuhan Melonjak, Logistik Darat Tertinggal

Ekosistem Logistik Nasional: Kekuatan Laut yang Diadang Kelemahan Darat

Ekosistem logistik nasional saat ini bergerak timpang: pelabuhan digenjot, daratan tertinggal. Praktisi kepelabuhanan menilai kemampuan terminal peti kemas di banyak pelabuhan sudah berstandar internasional dan produktivitas bongkar muat meningkat. Namun, begitu kontainer keluar dari gerbang pelabuhan, kualitas layanan jatuh karena keterbatasan lapangan penumpukan, gudang, dan jaringan jalan. Contoh di Merauke terang benderang: fasilitas pelabuhan dinilai memadai, tapi belum ada lapangan penumpukan atau gudang di belakang pelabuhan. Konsekuensinya, antrean dan kepadatan berpindah dari dalam terminal ke area sekitar pelabuhan, memicu biaya logistik tambahan dan waktu tunggu yang tidak perlu. Terminal Head TPK Merauke bahkan harus menyiapkan revitalisasi lapangan penumpukan seluas 1,4 hektare untuk meningkatkan kapasitas layanan peti kemas, sebuah langkah darurat yang menunjukkan betapa rapuh penyangga darat ketika arus barang melonjak.

Integrasi Data: Kunci Mengurai Bottleneck Logistik Darat

Masalah logistik darat bukan sekadar kurangnya beton dan aspal, melainkan miskinnya integrasi data antarpelaku. Peneliti UGM mendorong integrasi data antara terminal pelabuhan, perusahaan pelayaran, depo kontainer, trucking, kawasan industri, dan pemerintah agar informasi pergerakan barang mengalir tanpa putus. Pemanfaatan National Logistics Ecosystem (NLE) menjadi krusial, karena idealnya aliran informasi mendahului aliran fisik barang, sehingga jadwal kapal, slot kendaraan, kesiapan depo, dan kapasitas gudang dapat disesuaikan secara dinamis. Tanpa integrasi semacam ini, perubahan jadwal kapal membuat truk menunggu lebih lama, slot kendaraan dalam Terminal Booking System tidak optimal, dan depo yang tidak beroperasi 24 jam memicu antrean panjang. Integrasi logistik darat berbasis data bukan lagi gagasan futuristik, melainkan syarat minimum agar investasi di kapasitas pelabuhan peti kemas tidak mubazir dan benar-benar menurunkan biaya logistik.

Moda Kereta, Depo Penyangga, dan Rencana Induk Pelabuhan

Selain data, arsitektur fisik logistik darat perlu direposisi. Pengembangan angkutan barang berbasis kereta api disebut penting sebagai alternatif distribusi menuju pelabuhan, sekaligus membantu penanganan kendaraan over dimension over load (ODOL) di jalur darat. Di kawasan timur, suara operator kapal menegaskan kebutuhan mendesak depo kontainer di luar area pelabuhan sebagai fasilitas penyangga, karena selama ini 100% depo berada di dalam dan keterbatasan ruang penumpukan langsung memukul biaya logistik. Di sisi lain, pengelola terminal menyusun Rencana Induk Pelabuhan (RIP) untuk jangka pendek, menengah, dan panjang, termasuk revitalisasi lapangan penumpukan 1,4 hektare di Merauke. Langkah-langkah ini menunjukkan kesadaran bahwa kapasitas pelabuhan peti kemas tidak boleh dilihat terpisah, melainkan terikat dengan strategi integrasi logistik darat yang konsisten dan berkelanjutan.

Kesimpulan: Integrasi Logistik Darat Menentukan Daya Saing Perdagangan

Intinya, peningkatan kapasitas pelabuhan peti kemas tanpa penguatan logistik darat adalah resep kegagalan. Pertumbuhan arus peti kemas dalam lima tahun terakhir membuktikan kebutuhan mendesak untuk menyelaraskan semua simpul dalam ekosistem logistik nasional. Tanpa depo penyangga, gudang yang memadai, jaringan jalan yang kuat, moda kereta barang yang terhubung, dan integrasi data lintas pelaku, percepatan di terminal hanya memindahkan kemacetan ke titik berikutnya. Jika pemerintah dan pelaku usaha serius ingin meningkatkan daya saing perdagangan internasional, fokus harus bergeser dari sekadar mempercantik pelabuhan menuju membangun integrasi logistik darat yang nyata. Ekosistem logistik nasional yang menyatu, bukan patchwork proyek terpisah, akan menentukan apakah pelabuhan menjadi simpul keunggulan atau sekadar panggung bagi bottleneck baru dalam rantai pasokan.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda. Artikel ini dibuat dengan AI dari sumber yang dipublikasikan dan data produk.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!