Pendidikan karakter era AI: definisi dan sikap dasar sekolah
Pendidikan karakter era AI adalah upaya sadar sekolah dan keluarga menanamkan nilai moral, empati, dan tanggung jawab kepada siswa digital, sambil mengajarkan literasi AI dengan etika agar teknologi digunakan sebagai alat belajar, bukan sebagai pengganti hati nurani atau alasan untuk menghindari kewajiban berpikir, berlatih, dan menghormati orang tua serta guru. Di tengah kemudahan AI, SMPN 6 Klaten mengingatkan pelajar untuk tidak menjadi generasi cerdas teknologi tetapi miskin karakter dan lupa pengorbanan orangtua. Pesan yang disampaikan di lapangan sekolah pada sebuah upacara bendera itu menolak sikap netral terhadap teknologi: AI boleh diakses, tetapi sikap terhadap orang tua, guru, dan teman harus tetap dijaga. Sekolah bukan hanya ruang mengajari cara menggunakan mesin; ia adalah benteng terakhir untuk menjaga nurani di tengah banjir gawai dan aplikasi.

Moch. Shidiq: Jangan pintar teknologi tetapi kehilangan hati
Pagi Senin, 31 Agustus 2026, lapangan SMP Negeri 6 Klaten menjadi panggung refleksi tentang AI dan kemanusiaan. Di hadapan ratusan siswa, Drs. Moch. Shidiq, M.Pd. menegaskan bahwa menjadi generasi yang bergantung pada teknologi berisiko membuat anak melupakan pengorbanan orang tua. AI memang dapat memberi jawaban, menulis, mencari informasi, dan membantu menghasilkan karya dengan beberapa perintah. Namun kemudahan ini berubah menjadi bahaya ketika dipakai untuk lari dari tanggung jawab berpikir, membaca, dan berlatih. Di sinilah pendidikan karakter era AI benar-benar diuji: mesin bisa menulis kalimat "terima kasih", tetapi tidak bisa memaksa seorang anak sungguh-sungguh bersyukur. Seorang siswa boleh hebat menggunakan teknologi, tetapi ia dituntut jauh lebih hebat dalam menghormati guru, menyayangi teman, membantu keluarga, dan menjaga perasaan orangtuanya.
Saparudin: Prestasi akademik tanpa karakter adalah kemenangan semu
Wali Kota Pangkalpinang, Saparudin, mengingatkan bahwa tantangan pendidikan masa depan tidak lagi berhenti pada kecerdasan akademik. Dalam acara peletakan batu pertama gedung baru SMP Budi Mulia Pangkalpinang, ia menekankan bahwa di era pesatnya perkembangan AI, hal paling utama bagi peserta didik adalah moral, etika, disiplin, dan karakter kuat yang tidak bisa diajarkan atau digantikan teknologi mana pun. Kota yang ia pimpin sudah menikmati prestasi akademik: hasil Tes Kemampuan Akademik menempati posisi terbaik se-provinsi, enam besar nasional untuk jenjang SD, dan sepuluh besar untuk jenjang SMP. Namun ia menegaskan, kepintaran saja belum cukup; prestasi akademik harus berjalan beriringan dengan kekuatan karakter. Kutipan ini penting: "AI hanya mengajarkan cara berpikir. Tapi soal perilaku, sopan santun, dan nilai kehidupan, tidak ada jalan lain selain memberi contoh langsung".

Literasi AI dengan etika: peran guru, orang tua, dan sekolah
Di kelas-kelas masa kini, AI sudah menjadi teman belajar: ilmu pengetahuan bisa diperoleh sangat mudah, dan pertanyaan akademik dijawab dalam sekejap. Dengan beberapa perintah, siswa dapat memahami pelajaran, menemukan informasi, dan mengembangkan kreativitas lebih luas. Tetapi literasi AI dengan etika menuntut satu hal: siswa harus diajari kapan dan bagaimana teknologi layak digunakan, serta kapan mereka wajib mengerahkan pikirannya sendiri. Masalah muncul ketika kemudahan bergeser menjadi ketergantungan, membuat siswa memakai AI untuk menghindari kewajiban berpikir, membaca, berlatih, dan bertanggung jawab. Di titik ini, sekolah ajarkan tanggung jawab melalui teladan guru dan keterlibatan orang tua. Jika kecerdasan bisa diperoleh dari data dan informasi, pembentukan karakter hanya tumbuh dari contoh nyata, sapaan, pelukan, dan konsistensi perilaku sehari-hari.

Menjaga nilai moral siswa digital dan bakti pada orang tua
Generasi yang tumbuh bersama AI berpotensi mengalami jurang nilai: mahir memprogram tetapi gagap menghormati orang tua. Pesan dari SMPN 6 Klaten sangat jelas, jangan biarkan siswa menjadi generasi cerdas teknologi namun miskin karakter dan lupa pengorbanan orangtua. Teknologi tidak mampu menghitung berapa banyak air mata seorang ibu yang mendoakan anaknya, atau berapa kali ayah menahan lelah demi keluarga. Di sinilah pendidikan karakter era AI harus menekankan bakti, empati, dan rasa syukur sebagai bagian tak terpisah dari literasi digital. Nilai moral siswa digital bukan sekadar tahu mana yang boleh dan tidak boleh, tetapi sanggup menahan diri ketika AI bisa memudahkan kecurangan, dan memilih jujur meski tugas menjadi lebih berat. Kesimpulannya tegas: masa depan bukan milik anak paling pintar menggunakan algoritma, melainkan milik anak yang tetap memuliakan orang tua di tengah segala gempuran teknologi.






