Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Selebriti Akui Tak Bakat Masak: Saat Jujur Jadi Tren

Selebriti Akui Tak Bakat Masak: Saat Jujur Jadi Tren
Minat|Diskusi Resep

Dari Dapur Viral ke Pengakuan Lugas: Mengapa Kejujuran Menarik

Fenomena selebriti tidak bisa masak merujuk pada gelombang figur publik yang secara terbuka mengakui keterbatasan mereka di dapur, menekankan bahwa skill memasak selebriti bukan lagi kewajiban pencitraan melainkan bagian dari kejujuran personal yang menantang standar lama tentang citra serba bisa dan serba mahir di media. Kasus Denada menjadi contoh terang bagaimana jujur tentang dapur bisa memicu perdebatan dan sekaligus menggeser cara kita memandang kemampuan kuliner figur publik. Konten memasak Denada yang "heboh jagat maya" bukan karena resep rumit, melainkan karena gestur kaku yang dianggap banyak orang tidak natural. Reaksi warganet, dari sindiran alay hingga komentar soal gaya memegang pisau, menunjukkan ekspektasi lama: selebriti seakan wajib tampil luwes memasak, meski dapur mungkin bukan dunia mereka. Ketika Denada menjawab dengan pengakuan bahwa memasak bukan bakat dan bukan passion-nya, ia secara tidak langsung menantang mitos bahwa semua figur publik harus tampak mahir dalam urusan kuliner agar diterima.

Selebriti Akui Tak Bakat Masak: Saat Jujur Jadi Tren

Denada: Masak Bukan Passion, Dapur Bukan Panggung Utama

Inti pernyataan Denada tegas: "Memang pada aslinya aku nggak bakat masak. Itu bukan passion-ku". Di tengah sorotan selebriti tidak bisa masak, kalimat ini terdengar berani karena menolak pura-pura jago. Ia mengakui memasak bukan keahliannya dan menyebut dirinya lebih kuat di zumba dan musik rap. Dalam dunia hiburan, mengakui ketidakmampuan sering dianggap berisiko, tetapi Denada memilih realistis. Ia bahkan menyebut masakannya "nggak enak" dan mengaku sudah pasrah soal rasa. Sikap sejujur itu kontras dengan budaya konten yang sering memoles tiap adegan agar tampak sempurna. Menariknya, Denada tidak menyangkal semua sisi dapur: sop ayam untuk putrinya Aisha pernah ia buat berulang kali karena dianggap mudah dan bernutrisi. Jadi, narasinya bukan "tidak mau berusaha", melainkan "tahu batas". Di sini, jujur tentang dapur justru membuatnya tampak manusiawi dibanding citra serba bisa yang tidak realistis.

Ketika Mantan Suami dan Keluarga Jadi Kritikus Rasa

Pengakuan Denada soal skill memasak selebriti menyentuh dinamika rumah tangga yang jarang dibahas. Ia menyampaikan bahwa saat masih menikah, urusan masak dipegang penuh oleh sang mantan suami, Jerry Aurum. Ia sendiri lebih senang membeli makanan jadi, bahkan di masa pernikahan, sehingga dapur bukan ruang utama aktivitasnya. Pola ini menantang stereotip lama bahwa perempuan, apalagi figur publik perempuan, harus otomatis piawai memasak. Tambahan lain yang menarik: keluarga menjadi komentator paling tajam. Sepasang kerabat kembar, Romi dan Roni, rutin mengkritik masakan Denada, dari dibilang "sangat keasinan" sampai kebanyakan lada hingga membuat tenggorokan sakit. Alih-alih tersinggung diam-diam, Denada menceritakan kritik ini di depan publik. Sikap terbuka terhadap komentar pahit menunjukkan bahwa tren kejujuran kuliner bukan hanya soal mengakui tidak bisa masak, tetapi juga menerima penilaian apa adanya dan membiarkan publik melihat proses belajar yang penuh kekurangan.

Selebriti Akui Tak Bakat Masak: Saat Jujur Jadi Tren

Peran Sarah Sechan dan Ingatan tentang Sop Ayam

Konten masak viral Denada mendapat warna baru ketika Sarah Sechan ikut angkat suara. Ia mengingat bahwa beberapa tahun lalu Denada pernah membagikan resep sop ayam yang ia praktikkan dengan lancar, bahkan Sarah mengaku mengikuti resep tersebut. Ingatan ini memunculkan pertanyaan: jika pernah tampil luwes memasak sop ayam, mengapa kini tampak gagap di dapur? Jawaban Denada lugas: ia memang bisa memasak sop, tetapi itu tidak serta-merta menjadikannya sosok yang bakat masak. Sop ayam itu adalah masakan pertama yang ia buat dan ulang demi putrinya Aisha karena mudah dan bernutrisi. Di sini terlihat lapisan baru dari tren kejujuran kuliner: kemampuan spesifik tidak otomatis berarti keahlian menyeluruh. Pengakuan Denada bahwa keahliannya ada di zumba dan rap, bukan di panci dan wajan, sekaligus menegaskan bahwa selebriti berhak punya area lemah tanpa harus menutupinya dengan citra mahir yang dipoles demi konten.

Saat Kejujuran Mengalahkan Pencitraan di Dapur Selebriti

Kasus Denada menunjukkan pergeseran penting: penonton mulai tertarik pada selebriti yang jujur tentang dapur, bukan yang pura-pura ahli. Ketika video memasak yang canggung jadi viral dan menuai komentar sinis, respons yang diharapkan publik mungkin pembelaan atau klarifikasi panjang. Denada memilih rute lain: mengakui ketidakmampuan dan menempatkan memasak di luar passion utamanya. Sikap ini selaras dengan tren kejujuran kuliner yang lebih luas, di mana figur publik memperlihatkan sisi rapuh, bukan hanya porsi estetik. Dampaknya, wacana selebriti tidak bisa masak bergeser dari bahan olok-olok menjadi bahan diskusi tentang standar yang terlalu tinggi bagi tokoh publik. Di era konten serba mengkilap, keberanian mengakui bahwa masakan "nggak seenak masakan beneran" terasa segar. Dapur selebriti tidak lagi harus menjadi panggung pencitraan; ia bisa jadi ruang biasa yang penuh percobaan, bumbu berlebihan, dan kritik keluarga—dan itu tidak mengurangi nilai mereka di mata penonton.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!