Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Printridi Perkuat Ekosistem Cetak 3D Lewat Kolaborasi dan Pameran Industri

Printridi Perkuat Ekosistem Cetak 3D Lewat Kolaborasi dan Pameran Industri
Minat|Percetakan 3D

Ekosistem Cetak 3D: Dari Teknologi Terserak Menjadi Jaringan Terintegrasi

Ekosistem cetak 3D adalah jaringan terhubung antara pelaku teknologi, mulai dari komunitas maker, akademisi, pemerintah, penyedia teknologi hingga industri manufaktur dan kreatif, yang bersama-sama mengembangkan, mengadopsi, dan memanfaatkan teknologi additive manufacturing secara terstruktur untuk menjawab kebutuhan produksi, riset, dan inovasi di tingkat lokal serta global. Dalam beberapa tahun terakhir, pelaku 3D printing tumbuh pesat, tetapi masih berdiri di “pulau-pulau” terpisah: komunitas, kampus, distributor, dan pabrikan jarang berkomunikasi secara sistematis. Akibatnya, potensi 3D printing di manufaktur, pendidikan, desain, dan industri kreatif belum terasa sebagai kekuatan ekonomi yang nyata. Posisi Printridi menarik karena asosiasi ini tidak puas sekadar meramaikan pasar mesin cetak 3D. Mereka mengambil peran politis dan strategis: mengakui bahwa teknologi tanpa ekosistem hanya akan jadi alat mahal yang dipakai segelintir orang. Narasi yang diangkat bukan lagi “beli printer 3D”, melainkan “bangun ekosistem cetak 3D yang saling terhubung”.

Strategi Connect–Synergy–Inspire: Mengikat Akademisi, Pemerintah, dan Industri

Printridi secara terbuka menyebut bahwa masalah utama saat ini adalah kurangnya sinergi antarpemangku kepentingan, bukan kurangnya teknologi. Untuk menjawab itu, asosiasi mengembangkan tiga pendekatan: Connect, Synergy, dan Inspire. Connect difokuskan pada jejaring antara komunitas maker, kampus, profesional, dan pelaku industri. Synergy mendorong proyek bersama yang konkret, sementara Inspire memperluas edukasi agar teknologi additive manufacturing dipahami sebagai solusi, bukan sekadar hobi. Konfigurasi tokoh dalam ekosistem ini menunjukkan bahwa Printridi sengaja menempatkan akademisi dan pemerintah sebagai mitra setara, bukan penonton. Dari kampus, hadir pakar seperti Herianto dari UGM dan Djoko Kuswanto dari ITS sebagai rujukan ilmiah. Dari pemerintah, dukungan datang dari Direktorat Jenderal IKMA dan POPTIKJI yang secara eksplisit mengajak pendataan pelaku usaha 3D printing, penyusunan standar mutu dan kompetensi, serta penghubungan anggota asosiasi dengan program pembinaan industri. Ajakan ini menyiratkan satu hal penting: negara ingin ekosistem cetak 3D bergerak dari sektor pinggiran menuju tulang punggung produksi lokal.

Zaiku Makerlab Festival: Laboratorium Terbuka untuk Masyarakat dan Startup

Upaya memperkuat ekosistem tidak berhenti di ruang rapat. Dukungan Printridi terhadap Zaiku Makerlab Festival menjadi contoh nyata bagaimana teknologi additive manufacturing dibawa mendekat ke masyarakat. Festival yang digelar 7–27 September 2026 di Neo Atrium, Central Park 2, Jakarta, dirancang sebagai ruang pertemuan pelaku teknologi, komunitas maker, akademisi, mahasiswa, industri, dan publik umum. Di sini, cetak 3D diperkenalkan bukan sebagai produk akhir, tetapi sebagai proses yang dapat diotak-atik, dipelajari, dan dimanfaatkan. Dari sisi kebijakan, pemerintah menegaskan tidak berhenti pada imbauan. Melalui program Startup for Industry, hingga Agustus 2026 tercatat 2.577 startup dalam ekosistem dan 152 proyek implementasi teknologi dengan dampak terukur pada IKM pengguna. Pernyataan ini penting untuk dikutip: “pembinaan yang baik selalu berawal dari data yang baik”, ujar pejabat terkait. Artinya, festival dan ekosistem startup mulai dipandang sebagai kanal resmi untuk menghubungkan pelaku 3D printing dengan kebutuhan nyata industri kecil dan menengah, bukan sekadar ajang demo teknologi tanpa tindak lanjut.

Kolaborasi Industri Printing: Integrasi Cetak 2D dan 3D di Pameran ALLPrint

Langkah paling visioner dari Printridi adalah keputusan masuk ke jantung industri printing konvensional melalui kolaborasi dengan penyelenggara pameran ALLPrint. Memorandum of Understanding diteken oleh Ketua Printridi, Eric Rudolf Thedjasurya (Eric 3D), dan CEO Krista Exhibitions, Daud D. Salim, pada 22 September 2026 sebagai dasar kerja sama jangka panjang untuk integrasi teknologi cetak 2D dan 3D. Ini bukan sekadar acara gabungan; untuk pertama kalinya pameran 2D printing dan 3D printing dipadu secara terintegrasi. Pameran ALLPrint akan digelar 7–10 Oktober 2026 di JIExpo Kemayoran dan menghadirkan sesi berbagi insight serta demonstrasi interaktif penerapan teknologi 2D dan 3D. Fokusnya jelas: membuka peluang kolaborasi industri printing, di mana mesin cetak konvensional dan digital 2D dipadukan dengan fleksibilitas produksi 3D untuk prototipe, toys, merchandise, signage, komponen alat produksi, hingga aplikasi medis. Menurut pernyataan resmi, tujuan kerja sama ini adalah memperluas ekosistem industri percetakan dan manufaktur sekaligus mendorong pemanfaatan teknologi additive manufacturing di berbagai sektor. Dengan kata lain, industri printing arus utama diajak berhenti melihat 3D printing sebagai ancaman, dan mulai melihatnya sebagai perluasan layanan.

Dampak bagi Pelaku Lokal dan Arah Ekosistem Cetak 3D ke Depan

Bagi pelaku usaha lokal, terutama UMKM dan manufaktur kecil, pendekatan ekosistem yang ditempuh Printridi memberikan tiga manfaat langsung. Pertama, akses pengetahuan dan jejaring melalui festival dan pameran ALLPrint yang secara eksplisit dirancang sebagai platform mempertemukan teknologi, pelaku industri, dan pengguna untuk berbagi pengetahuan, melihat perkembangan teknologi secara langsung, serta membuka peluang kolaborasi dan bisnis baru. Kedua, peluang masuk ke ekosistem pembinaan pemerintah melalui pemetaan pelaku, standar mutu, dan program Startup for Industry yang telah melahirkan ratusan proyek implementasi teknologi di IKM. Ketiga, eksposur terhadap integrasi solusi cetak 2D dan 3D yang dapat meningkatkan efisiensi produksi dan membuka lini bisnis baru. Ke depan, arah yang tampak cukup jelas: Printridi akan terus bermain di level ekosistem, bukan hanya komunitas. Mereka mengundang praktisi, akademisi, produsen, dan pengguna teknologi 3D printing dari berbagai sektor untuk berpartisipasi dalam pameran ALLPrint sebagai ajang business-to-business (B2B) yang memperkuat konektivitas antarpelaku industri dan mendorong kreativitas UMKM. Jika ajakan pemerintah untuk pendataan, standardisasi, dan integrasi program pembinaan dijalankan konsisten, ekosistem cetak 3D berpeluang menjadi tulang punggung teknologi produksi lokal. Kesimpulannya, siapa pun yang mengabaikan momentum ini berisiko tertinggal ketika additive manufacturing berubah dari eksperimen menjadi standar produksi.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!