Setengah feed olahragaku isinya recap Hyrox sejak race pertamanya di Jakarta Juni lalu. Awalnya aku kira ini lomba ala CrossFit yang cuma ramah buat atlet hybrid. Ternyata formatnya justru dirancang supaya orang biasa bisa finish, dan sepertinya itu alasan utamanya kenapa ramai banget tahun ini.
Aku akhirnya mencoba sendiri stasiun-stasiunnya di sesi open gym dan simulasi di Jakarta, pakai alat yang sama dengan yang dipakai di race resmi. Kesimpulan singkatku: bagian larinya bukan masalah besar. Dua stasiun terakhir yang bikin orang nego sama diri sendiri.
Delapan kali lari satu kilometer, diselang-seling delapan stasiun
Hyrox itu loop di dalam hall: lari 1 km, masuk satu stasiun, keluar, lari lagi. Delapan kali, jadi total 8 km lari plus delapan stasiun dengan urutan tetap: SkiErg 1.000 m, sled push 50 m, sled pull 50 m, burpee broad jump 80 m, rowing 1.000 m, farmers carry 200 m, sandbag lunge 100 m, dan wall ball 100 repetisi.
| Stasiun | Jarak / repetisi | Beban Open (wanita / pria) |
|---|---|---|
| SkiErg | 1.000 m | tanpa beban tambahan |
| Sled push | 50 m | 102 kg / 152 kg |
| Sled pull | 50 m | 78 kg / 103 kg |
| Burpee broad jump | 80 m | bodyweight |
| Rowing | 1.000 m | tanpa beban tambahan |
| Farmers carry | 200 m | sesuai divisi |
| Sandbag lunges | 100 m | sesuai divisi |
| Wall balls | 100 rep | 4 kg / 6 kg |
Angka sled itu sudah termasuk berat slednya sendiri, dan target wall ball ada di tinggi 2,70 m untuk wanita serta 3,00 m untuk pria. Kedengarannya brutal, tapi semua beban punya versi lebih ringan di divisi bawah, dan kategori doubles atau relay membagi beban yang sama ke dua atau empat orang. Suasana hall-nya juga membantu mental: deretan SkiErg dan rowing berjajar rapi, lintasan sled ditandai garis putih, dan semua stasiun kelihatan dari satu titik. Tidak ada kejutan rute seperti lomba outdoor.

Beratnya bukan di napas, tapi di kaki setelah kilometer ketujuh
Waktu simulasi, aku masuk ke SkiErg dan rowing dengan santai, dan keduanya terasa wajar asal tidak ngebut di 200 m pertama. Burpee broad jump 80 m terdengar pendek, sampai kamu melakukannya sambil jantung masih di tenggorokan habis lari 1 km. Di situ pertama kalinya aku paham kenapa orang menyebut Hyrox lomba manajemen ego.
Dua nomor penutup yang benar-benar menghukum: sandbag lunge 100 m dengan sandbag di pundak, lalu wall ball 100 repetisi. Masalahnya bukan bebannya sendiri, tapi kakimu sudah dipakai lari 7 km sebelumnya. Lutut terasa panjang, paha depan habis, dan setiap lemparan wall ball terasa seperti repetisi ke-150. Kalau kamu baru mulai, dua nomor ini yang layak dilatih khusus, bukan larinya.

Untuk gambaran waktu: di race Jakarta Juni lalu ada finisher Singles Open yang mencatat 1:29:39 dengan persiapan kurang dari tiga bulan, hanya dua minggu setelah full marathon pertamanya. Dengan dasar lari dan gym yang lumayan, target di bawah dua jam itu masuk akal buat pemula yang latihan konsisten. Dan di sesi simulasi, peserta hijab maupun pemula murni ikut di lane yang sama tanpa suasana mengintimidasi, jadi pintu masuknya lebih rendah dari kesan yang beredar.
Sepatu yang salah bikin sled push terasa dua kali lebih berat
Kesalahan gear yang paling sering kulihat di sesi simulasi: orang datang pakai sepatu lari carbon yang empuk dan memantul. Enak buat loop 1 km, tapi begitu mendorong sled atau menahan lunge, solnya yang tinggi dan lunak bikin tumit terasa melayang dan tenaga bocor. Race resminya sendiri menyarankan sepatu dengan grip bagus untuk sled push.
Pilihanku sederhana: sepatu training atau daily trainer dengan base lebar dan drop rendah sampai sedang. Tidak harus sepatu khusus hyrox; sepatu gym sol datar yang biasa kupakai buat leg day justru lebih jujur di sled dan lunge. Kalau kamu punya sepasang sepatu lari stabil dan sepasang sepatu training, pakai yang training di race day.

Soal tangan: sarung tangan diperbolehkan, tapi grip ala gimnastik tidak, dan kapur hanya boleh yang disediakan panitia di stasiun tertentu. Kalau rencananya menarik sled pull dengan tangan kosong, latih grip sekalian dari sekarang. Jam olahraga membantu menjaga pace loop 1 km supaya tidak bonk di stasiun akhir, tapi penghitung repetisi wall ball sudah tersedia di layar stasiun, jadi tidak perlu menghitung sendiri sambil ngos-ngosan.
Biaya ikut, dan tempat latihan standar race di Jakarta
Race perdana Jakarta berlangsung 27-28 Juni 2026 di NICE Tangerang. Harga tiketnya waktu itu Rp2.204.730 untuk Singles, Rp2.094.495 untuk Doubles, Rp1.653.548 untuk Relay, dan Rp215.312 untuk penonton, menurut catatan penjualan roxradar. Jadwal Jakarta berikutnya belum diumumkan, jadi langkah paling masuk akal sekarang ya latihan dulu sambil pantau slot season depan.

Tempat latihan yang paling dekat dengan rasa race: HYROX Open Gym di Octagon Foxx, Wisma Mulia di Jl. Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Satu sesi dua jam dengan semua stasiun dan alat CENTR serta Concept2 yang sama dengan di race, plus handuk dan amenities. Jam open gym-nya weekdays 11.15-17.15 dan weekend 12.00-14.00, booking lewat DM atau WhatsApp mereka, dan slotnya juga muncul di ClassPass. Di luar itu ada training club dan kelas pemula di beberapa gym seperti Esa Athletica, 20fit, dan Bunkr yang rutin menggelar simulasi penuh menjelang race.
Jadi, layak nggak dicoba?
Layak, kalau kamu butuh target yang bikin jadwal latihan konsisten. Hyrox memberi alasan buat lari weekday dan leg day weekend sekaligus, dan itu kombinasi yang susah dicari di lomba lain. Kalau masih ragu, mulai dari doubles atau relay bareng teman: bebannya dibagi, dan penderitaan sandbag lunge terasa lebih ringan kalau ditanggung berdua.
Gear tambahan yang benar-benar perlu menurutku cuma satu: sepatu yang stabil dan grip-nya jujur. Sisanya, dari sarung tangan sampai jam, bisa menyusul setelah kamu tahu nomor mana yang paling bikin kamu menderita. Punyaku jelas: wall ball, dan aku sudah berdamai dengan itu.






