Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Literasi Digital Pelajar: Tangguh Hadapi Risiko Online dan AI

Literasi Digital Pelajar: Tangguh Hadapi Risiko Online dan AI
Minat|Pendidikan Orang Tua dan Anak

Literasi digital pelajar: dari bisa mengoperasikan gawai ke mampu melindungi diri

Literasi digital pelajar adalah kemampuan generasi muda untuk tidak hanya mengoperasikan perangkat dan aplikasi, tetapi juga memahami, menilai, dan menggunakan informasi digital secara aman, kritis, etis, serta bertanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari di ruang online yang terus berubah cepat. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, generasi muda kini dituntut memiliki kemampuan lebih dari sekadar mengoperasikan gawai. Artinya, ponsel bukan lagi sekadar alat hiburan, tetapi pintu masuk ke dunia informasi, relasi sosial, sekaligus risiko baru. Pemerintah daerah, akademisi, dan kepolisian mulai membaca urgensi ini: literasi digital pelajar harus menyentuh tiga hal sekaligus—keamanan online generasi muda, pencegahan kekerasan digital, dan pemahaman tentang edukasi AI etis. Tanpa itu, kebiasaan ‘melek teknologi’ hanya akan berakhir pada generasi yang lincah mengklik, tetapi rapuh saat berhadapan dengan manipulasi dan kekerasan di dunia maya.

Kaltara dan kelas-kelas etika digital: pelajar tidak boleh dibiarkan belajar sendiri

Sosialisasi literasi digital bagi pelajar se-Kabupaten Bulungan di Tanjung Selor mengusung tema “Gen Z Cerdas Digital: Bijak Bermedia, Aman Berinternet, Produktif Berkarya”. Tema ini menegaskan satu pesan: generasi muda harus mampu memilah informasi, menjaga keamanan diri, dan memakai teknologi untuk hal produktif, bukan sekadar hiburan. Langkah ini tepat, karena ruang digital hari ini tidak netral; ia penuh algoritma, iklan, dan potensi kejahatan siber yang menarget pelajar sebagai pengguna paling aktif. Program seperti ini juga mengoreksi pendekatan lama yang hanya menekankan penguasaan aplikasi. Dengan menempatkan keamanan online generasi muda dan etika bermedia sebagai fondasi, pemerintah daerah menunjukkan bahwa literasi digital pelajar adalah isu kebijakan publik, bukan sekadar urusan guru TIK di kelas. Tantangannya: kegiatan semacam ini harus berulang dan terintegrasi ke kurikulum, bukan seremonial sesaat.

Magetan: ketika kepolisian bicara AI, hoaks, dan keamanan online

Polres Magetan mengambil posisi tidak biasa: bukan hanya menindak kejahatan siber, tetapi mencegahnya lewat edukasi AI etis. Dalam rangkaian program Polri untuk Masyarakat, mereka menggelar sosialisasi dan edukasi literasi digital tentang pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) kepada pelajar SMA Negeri 2 Magetan pada 15 September 2026. Kegiatan ini dikemas sebagai Training of Trainer (TOT) Paham AI, dengan tujuan membangun pemahaman penggunaan AI yang bijak dan etis, sekaligus menumbuhkan sikap kritis dan anti-hoaks. Pendekatan ini penting: AI bisa memudahkan belajar, mencari referensi, dan memantik kreativitas, tetapi tanpa pemahaman, ia membuka peluang kejahatan siber dan ketergantungan teknologi. Kompol Cecep Wahyudi menegaskan bahwa pelajar harus memahami etika dan keamanan dalam menggunakan AI, agar menjadi generasi digital yang produktif namun mampu melindungi diri dari ancaman siber. Di sinilah literasi digital pelajar naik level: dari sekadar pengguna aplikasi menjadi subjek yang sadar risiko dan haknya di ruang digital.

Lombok Barat: literasi digital untuk memutus rantai kekerasan seksual berbasis online

Di Lombok Barat, isu literasi digital pelajar menyentuh sisi yang paling gelap dari ruang daring: kekerasan seksual berbasis online. Melalui kegiatan pengabdian masyarakat di Madrasah Aliyah Al-Hamidiyah NW Sidemen, Batu Layar, pada Sabtu 18 April 2026, dosen Ilmu Komunikasi memberikan sosialisasi literasi digital untuk pencegahan kekerasan seksual berbasis online. Maraknya kekerasan berbasis gender online (KBGO) menunjukkan bahwa ruang digital bisa menjadi arena pelecehan yang difasilitasi teknologi. Pendekatan yang dipilih bukan hanya penegakan hukum, tetapi juga intervensi cara pandang: remaja diajak mengenali tanda, memilah situasi, dan menentukan langkah ketika interaksi mulai mengarah ke kekerasan berbasis online. Program ini menggunakan pendekatan andragogi dan action learning, melibatkan 22 siswa yang diharapkan menjadi lebih awas terhadap kekerasan seksual berbau online. Di sini pencegahan kekerasan digital menjadi inti literasi, bukan materi tambahan.

Naiknya indeks literasi digital belum cukup: kenapa program harus berlanjut dan diperluas

Indeks Literasi Digital 2021 mencapai 3,49 dari skala 1–5, naik tipis dari 3,46 tahun sebelumnya. Angka ini sering dipakai sebagai bukti kemajuan, tetapi jika dibaca berdampingan dengan maraknya KBGO dan kejahatan siber, jelas bahwa peningkatan tersebut belum sebanding dengan risiko yang berkembang. Kegiatan di Lombok Barat bahkan merekomendasikan agar program sejenis diperbanyak dan menjangkau lebih banyak siswa sekolah menengah maupun masyarakat luas. Di Magetan, kepolisian juga menyatakan komitmen agar edukasi literasi digital dan AI etis dilakukan berkelanjutan bersama sekolah. Kuncinya, program keamanan online generasi muda tidak boleh berhenti di satu hari sosialisasi. Literasi digital pelajar perlu diperlakukan seperti vaksin pengetahuan: diberikan berulang, diperbarui mengikuti perkembangan teknologi, dan menarget titik rawan—dari pencegahan kekerasan digital hingga penggunaan AI yang bertanggung jawab.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!