Pendidikan bukan sekadar bangku sekolah
Pendidikan yang memanusiakan anak adalah pendidikan yang membuka kesempatan setara, menjaga martabat setiap peserta didik, dan membantu mereka membangun masa depan tanpa menghapus identitas serta akar budayanya. Gagasan itu menjadi pesan utama Bupati Lampung Barat, Parosil Mabsus, saat menjadi narasumber dalam Mukernas XIV dan Seminar Nasional APMAPI 2026 di Universitas Lampung, Jumat (30 Oktober 2026). Di hadapan 167 peserta dari 50 perguruan tinggi, ia memaparkan strategi pemerataan akses dan peningkatan mutu berbasis kearifan lokal. Arah ini patut diperhatikan karena kemajuan daerah tidak cukup diukur dari infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi; mutu sumber daya manusia juga menentukan apakah pembangunan memperluas pilihan hidup warga. Pengalaman Parosil sebagai guru honorer dan guru bantu memberi konteks pada pandangannya: kebijakan pendidikan seharusnya berangkat dari hambatan yang benar-benar dialami keluarga, bukan berhenti sebagai slogan.
Pemerataan dimulai dari kebutuhan keluarga
Program seragam gratis siswa adalah salah satu langkah paling langsung dalam strategi Lampung Barat. Pemerintah kabupaten memberikan seragam sekolah tanpa membedakan status sosial maupun kemampuan ekonomi keluarga, dengan tujuan meringankan beban orang tua dan memberi anak fasilitas yang setara. Ini penting bukan hanya karena perlengkapan sekolah dapat menekan anggaran keluarga, tetapi juga karena keseragaman akses dapat mengurangi rasa berbeda yang muncul akibat kondisi ekonomi. Prinsipnya jelas: anak petani, buruh, ASN, kepala desa, maupun bupati memiliki hak yang sama di sekolah. Kebijakan semacam ini tidak otomatis menyelesaikan seluruh ketimpangan—mutu pengajaran, jarak tempuh, dan keberlanjutan belajar tetap perlu diperhatikan—tetapi ia menghapus satu penghalang yang terlihat dan dirasakan setiap hari. Pemerataan pendidikan akan lebih bermakna ketika bantuan dasar disertai upaya menjaga kualitas layanan.
Beasiswa dan budaya memperluas makna akses
Pemerataan tidak berhenti pada jenjang sekolah. Lampung Barat juga mengembangkan beasiswa kedokteran bagi lulusan SMA dan madrasah aliyah asal daerah yang diterima di perguruan tinggi negeri. Pemerintah daerah turut mengembangkan beasiswa seni dan budaya, bahasa daerah, kewirausahaan, serta pendidikan guru sekolah dasar. Rangkaian dukungan ini memberi pesan bahwa akses pendidikan tidak semestinya hanya mengantar anak menuju profesi yang dianggap bergengsi; pendidikan juga perlu menumbuhkan keahlian yang menjawab kebutuhan dan potensi daerah. Di sinilah pendidikan berbasis budaya dapat memperkuat pemerataan: ketika bahasa, seni, dan pengetahuan lokal dihargai, anak tidak dipaksa memilih antara mengejar masa depan dan mengenali asal-usulnya. Keduanya dapat berjalan bersama, asalkan kesempatan belajar terbuka dan kualitas pembelajaran dijaga.
Pengetahuan lokal harus menjadi bekal masa depan
Hubungan akses dan budaya tampak pula dalam pengembangan Sekolah Kopi dan Kampung Kopi. Sebagai daerah penghasil kopi robusta, Lampung Barat dapat menjadikan komoditas ini ruang belajar tentang pengetahuan, keterampilan, identitas, dan peluang kesejahteraan—bukan semata urusan perdagangan. Pendekatan tersebut memperluas arti pendidikan: belajar dapat berlangsung di sekolah maupun melalui pengalaman yang dekat dengan kehidupan masyarakat. Namun, kearifan lokal tidak boleh dijadikan alasan untuk membatasi wawasan anak. Pesan Parosil justru menempatkan pembaruan kurikulum dan teknologi berdampingan dengan akar budaya, agar pendidikan mampu menjawab perubahan tanpa memutus jati diri. Forum nasional itu diharapkan berlanjut menjadi kolaborasi antarkampus untuk memperkuat akademik, kurikulum, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Kesimpulannya, pendidikan yang memanusiakan anak memerlukan akses yang nyata sekaligus pembelajaran yang bermakna bagi komunitasnya. Seragam gratis dan beasiswa membuka pintu; budaya membantu pendidikan memberi arah dan manfaat.






