Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Dari Ladang ke Omah Kendeng: Lahirnya Guru Komunitas Desa

Dari Ladang ke Omah Kendeng: Lahirnya Guru Komunitas Desa
Minat|Pendidikan Orang Tua dan Anak

Ketika Petani Menjadi Guru Komunitas Desa

Guru komunitas desa adalah sosok yang mengajar dan mendampingi warga di lingkungan terdekat mereka, bukan melalui sistem sekolah formal, tetapi lewat ruang-ruang belajar yang tumbuh dari kehidupan sehari-hari, relasi sosial, dan kepedulian terhadap masalah yang dihadapi kampung, termasuk isu lingkungan, budaya, dan karakter anak-anak. Dalam gambaran ideal kita, guru identik dengan gelar sarjana pendidikan dan ruang kelas rapi. Kisah Gunarti membantah cara pandang sempit itu. Ia adalah seorang petani dan ibu rumah tangga yang tidak pernah menempuh pendidikan formal, namun menjelma menjadi pusat belajar warga di sekitarnya. Dari ladang dan Omah Kendeng, ia menghadirkan pembelajaran berbasis komunitas yang menantang hierarki pengetahuan: bahwa pendidikan tanpa formal bukan berarti pendidikan tanpa kualitas atau nilai.

Dari Konflik Lingkungan ke Gerakan Perempuan Simbar Wareh

Peran publik Gunarti mulai tampak ketika warga Pegunungan Kendeng berhadapan dengan persoalan tanah dan rencana pembangunan pabrik semen pada 2006. Di titik inilah ia memilih untuk tidak diam. Dengan sepeda ontel, ia mendatangi desa demi desa dan berbicara dengan ibu-ibu tentang situasi yang mengancam ruang hidup mereka. Tindakan ini bukan sekadar aktivisme; ini adalah kelas politik dan lingkungan yang digelar di teras rumah dan balai desa. Keyakinannya sederhana tetapi radikal: persoalan kampung bukan hanya urusan laki-laki; perempuan perlu tahu dan paham apa yang terjadi di sekeliling mereka. Dari rangkaian pertemuan itu lahirlah Simbar Wareh, kelompok perempuan yang rutin bertemu setiap dua minggu untuk membahas persoalan kehidupan warga. Di sini terlihat bentuk nyata pemberdayaan warga lokal: perempuan diajak menjadi subjek, bukan objek kebijakan.

Omah Kendeng: Pendidikan Tanpa Formal yang Menguatkan Anak-anak

Jika Simbar Wareh adalah ruang belajar bagi perempuan, Omah Kendeng menjadi ruang tumbuh anak-anak. Di tempat ini, Gunarti mendampingi mereka belajar membaca, menulis, berhitung, hingga mengenal gamelan. Ia tidak membawa ijazah, tetapi membawa kesabaran, pengalaman hidup, dan komitmen untuk membuktikan bahwa pendidikan tanpa formal tetap bisa membentuk generasi yang kritis dan berkarakter. Bagi Gunarti, belajar tidak berhenti pada kemampuan kognitif; ia tekankan bahwa belajar juga soal bagaimana seseorang bersikap dalam kehidupan sehari-hari. Sopan santun menjadi pelajaran pokok yang ia tanamkan kepada anak-anak yang belajar bersamanya. Pesannya terang: tidak bersekolah bukan berarti seseorang tidak bisa memiliki kemampuan dan pengetahuan. Di sinilah pembelajaran berbasis komunitas tampil sebagai alternatif yang humanis, menempatkan nilai dan perilaku setara pentingnya dengan angka di raport.

Kepemimpinan Tanpa Pamrih dan Kepercayaan Warga

Kekuatan seorang guru komunitas desa bukan terletak pada otoritas formal, melainkan pada kepercayaan yang dibangun dari konsistensi dan keberpihakan. Gunarti menunjukkan kepemimpinan tanpa pamrih ketika ia menghabiskan waktunya untuk mengajak orang lain belajar dan memahami lingkungan sekitar mereka, meski sendiri tidak pernah duduk di bangku sekolah formal. Ia hadir di tengah warga, tidak menggurui, tetapi mendengar dan mengajak berpikir bersama. Pertemuan yang ia gagas bersama perempuan, lalu berkembang menjadi Simbar Wareh, adalah contoh bagaimana selfless educator bisa memantik partisipasi aktif masyarakat lokal. Bahkan ketika beberapa pertemuan dibubarkan orang tak dikenal, para ibu tetap berkumpul dan melanjutkan kegiatan. Keteguhan ini menandakan bahwa ekosistem belajar yang tumbuh dari akar rumput jauh lebih tahan banting dibanding program top-down yang bergantung pada proyek dan anggaran. Kepemimpinan Gunarti menegaskan: pendidikan yang memihak warga akan selalu menemukan jalannya sendiri.

Pelajaran dari Kendeng: Mengakui Guru Tanpa Gelar

Kisah Gunarti memaksa kita mengubah standar penilaian tentang siapa yang layak disebut pendidik. Ia adalah petani, ibu rumah tangga, bagian dari gerakan perempuan, sekaligus pendamping belajar anak-anak di desanya. Tanpa gelar, ia mampu membangun kelompok perempuan yang aktif membaca situasi lingkungan dan politik, serta ruang belajar anak yang memelihara pengetahuan sekaligus sopan santun. Dalam paradigma lama, ia mungkin hanya akan dilihat sebagai warga biasa yang "tidak sekolah". Dalam paradigma pembelajaran berbasis komunitas, ia adalah figur sentral: guru komunitas desa yang menenun hubungan antara pengetahuan, solidaritas, dan keberanian. Kisah ini mengirim pesan tegas kepada pembuat kebijakan: jika ingin pemberdayaan warga lokal yang tahan lama, akuilah, dukunglah, dan jangan menghambat para pendidik akar rumput yang bekerja senyap seperti Gunarti. Pendidikan tidak boleh dimonopoli oleh gedung dan gelar.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!