Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Musisi, Krisis Iklim, dan Panggung Festival yang Penuh Kontradiksi

Musisi, Krisis Iklim, dan Panggung Festival yang Penuh Kontradiksi
Minat|Penyanyi/Band Pop

Ketika Panggung Musik Menjadi Mimbar Krisis Iklim

Musisi krisis iklim di panggung festival musik lingkungan adalah fenomena ketika artis pop dan band lintas genre menggunakan konser massal sebagai ruang untuk menyuarakan kebakaran hutan dan lahan, perubahan iklim, serta keadilan ekologis, sambil tetap beroperasi di dalam industri hiburan yang boros energi dan menghasilkan limbah plastik, sehingga memunculkan pertanyaan tajam tentang keaslian aktivisme dan potensi komodifikasi isu sosial. Di Synchronize Fest yang digelar di Gambir Expo Kemayoran, grup rock The Changcuters memanfaatkan panggung Dynamic untuk mengalihkan perhatian puluhan ribu penonton ke isu karhutla yang terus menghantam Kalimantan, Sumatra, dan Papua. Di saat festival musik lingkungan kian dipromosikan sebagai ruang “peduli bumi”, sorotan terhadap kabut asap dan korban karhutla panggung musik terasa penting, tetapi juga sarat ironi.

Doa The Changcuters: Empati Tulus atau Ritual Simbolik?

Momen ketika Tria Ramadhani menghentikan alur hiburan untuk mengajak penonton berdoa bagi korban karhutla adalah gestur yang kuat sekaligus problematis. Di tengah gegap gempita tata lampu jutaan watt dan sound system yang menghentak dada penonton, ia berkata, “Mari kita doakan saudara-saudara kita yang ada di luar pulau ini. Semoga mereka cepat dipulihkan, teman-teman” sambil mengakui potensi sinisme publik dengan kalimat “bukan sok-sokan”. Doa massal itu menunjukkan bahwa aktivisme artis pop masih punya daya menyentuh emosi kolektif. Namun, ketika ribuan orang mengamini sambil berdiri di atas tumpukan gelas plastik sekali pakai, sulit menutup mata terhadap paradoks: solidaritas terhadap korban asap yang mengalami gangguan pernapasan dan lumpuhnya aktivitas sosial-ekonomi lokal, dipentaskan di ruang yang ikut menyumbang jejak ekologis negatif.

Musisi, Krisis Iklim, dan Panggung Festival yang Penuh Kontradiksi

Efek Rumah Kaca dan Upaya Mengikat Krisis Iklim dengan Budaya Papua

Berbeda dari intervensi spontan di panggung festival, Efek Rumah Kaca memilih jalur karya terkonsep lewat video musik “Sebelum Bara Padam” yang baru dirilis. Video ini mengawinkan lagu “Tiada Tuhan Selain Pemilik Kapital” dengan kisah Murda dan Miki Wuka tentang tradisi bakar batu di Papua, di mana asap dan batu panas bukan sekadar ritual masak bersama, melainkan simbol kebersamaan, kesetaraan, dan hubungan spiritual manusia dengan alam serta leluhur. Di sini, musisi krisis iklim tidak sekadar mengutuk karhutla, tetapi menunjukkan bagaimana perubahan iklim, hutan yang tergerus, dan urbanisasi mengancam ruang hidup serta pengetahuan adat yang diwariskan turun-temurun. Terlibat dalam kompilasi Sonic/Panic Vol. 2 dan kampanye Bersemi Bersama Seni, ERK menempatkan aktivisme artis pop dalam ekosistem kreatif yang lebih berkelanjutan, meski tetap berada di orbit industri hiburan.

Festival Musik Lingkungan: Teater Kepedulian atau Teater Kemunafikan?

Gelombang karhutla panggung musik yang menjadikan festival sebagai mimbar kritik menyingkap kontradiksi yang sulit diabaikan. Di satu sisi, musisi cadas, band indie, legenda jazz, dan penyanyi pop senior ramai-ramai memajang visual hutan membara, memplesetkan lirik, dan mengajak doa bersama untuk karhutla yang mencekik Kalimantan dan Sumatra. Di sisi lain, kritik tentang rusaknya paru-paru bumi disuarakan di tengah industri festival komersial yang mengonsumsi energi fosil besar dan meninggalkan gunungan sampah plastik tidak terurai. Ketika penonton kelas menengah sibuk memotret kabut asap demi konten estetis, kaki mereka berdiri di atas sampah plastik, sementara jutaan warga di luar Jawa tetap dicekik asap tanpa akses ke konser. Tanpa langkah konkret mengurangi jejak ekologis, festival musik lingkungan berisiko menjadi teater kemunafikan yang memoles reputasi, bukan bumi.

Autentisitas Aktivisme Musisi dan Tuntutan Perubahan Nyata

Pertanyaan yang tak bisa dihindari: apakah aktivisme artis pop di panggung festival lahir dari panggilan moral, atau sekadar gimmick musiman agar terlihat edgy dan peduli lingkungan di mata penggemar? Tanpa strategi advokasi yang jelas, kritik karhutla mudah terjebak menjadi dekorasi naratif agar konser terasa “berbobot”, sekaligus mengeksploitasi penderitaan korban asap sebagai komoditas hiburan. Apalagi, doa bersama dan sindiran sarkas tidak punya kekuatan hukum untuk menyeret korporasi pembakar hutan atau memaksa negara memperbaiki mitigasi bencana. Sementara itu, kabut asap terus memicu krisis kesehatan publik dan melumpuhkan aktivitas sosial-ekonomi di daerah terdampak, bahkan tetap mengepul hitam setelah instalasi panggung dibongkar dan dipindahkan ke kota lain. Jika musisi krisis iklim ingin lebih dari sekadar performatif, mereka harus mendorong perubahan nyata: menekan promotor soal energi, plastik, dan dukungan langsung bagi komunitas terdampak.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!