Layang-Layang Bukan Sekadar Mainan: Ia Adalah Kelas Seni Terbuka
Festival layang-layang keluarga adalah rangkaian kegiatan akhir pekan yang menggabungkan permainan menerbangkan layang-layang dengan workshop kreatif, di mana anak dan orang tua bersama-sama merakit, menghias, dan menerbangkan layangan hias sebagai sarana belajar seni tradisional, kerajinan tangan, dan nilai kebersamaan lintas generasi melalui pengalaman langsung yang menyenangkan dan mudah diakses. Di Paramount Petals, gagasan ini diwujudkan lewat Festival Layang-layang Paramount Petals yang digelar tiga kali pada 17, 24, dan 31 Oktober 2026 mulai pukul 14.00 WIB. Bukan hanya langit yang penuh warna, tetapi juga ruang kosong di seberang Marketing Gallery di Kecamatan Curug, Kabupaten Tangerang, yang diubah menjadi arena bermain dan belajar keluarga. Inilah contoh bagaimana aktivitas tradisional anak bisa naik kelas menjadi craft edukatif anak yang relevan dengan kehidupan kota modern.

Workshop: Dari Aktivitas Tradisional Anak Menjadi Craft Edukatif Anak
Kekuatan utama festival ini ada pada workshop mewarnai layang-layang yang terstruktur, bukan pada atraksi langitnya. Kegiatan dibuka dengan sesi khusus bagi anak berusia maksimal sembilan tahun, dengan pendampingan orang tua atau keluarga. Di sini, anak-anak diajak mengenal dasar-dasar layang-layang—bentuk, rangka, hingga fungsi ekor—sebelum menghiasnya sesuai imajinasi mereka. Kolaborasi dengan komunitas Jakarta Kitefliers Association memastikan proses belajar tidak asal seru, tetapi juga tepat secara teknis. Ini menjadikan layangan sebagai craft edukatif anak: mereka belajar memilih warna, menyusun pola, memahami keseimbangan, sekaligus melatih motorik halus. Kutipan yang patut dicatat dari Direktur Sales & Marketing Paramount Land, Ferry John Sihombing, adalah bahwa festival ini "dihadirkan untuk mengisi ruang bagi keluarga dalam menikmati waktu berkualitas bersama melalui kegiatan yang menyenangkan, sekaligus memberikan pengalaman belajar yang kreatif bagi anak-anak".
Belajar Sambil Bermain: Seni Tradisional Keluarga di Langit Terbuka
Begitu proses perakitan dan dekorasi selesai, anak dan orang tua tidak berhenti di meja craft; mereka melanjutkan ke lapangan untuk menerbangkan layang-layang hias yang baru saja dibuat. Di momen inilah konsep belajar berbasis permainan bekerja penuh. Anak-anak melihat langsung bagaimana desain mereka memengaruhi cara layangan terbang: terlalu berat di satu sisi, terlalu banyak hiasan di ekor, atau bentuk yang kurang seimbang. Puluhan layangan hias dengan berbagai ukuran dan bentuk memenuhi langit Paramount Petals, dengan target hingga 70 layang-layang mengudara selama tiga kali penyelenggaraan. Ini bukan hanya pemandangan menarik, tetapi juga galeri seni tradisional keluarga di udara. Dekorasi pada layangan—dari motif sederhana hingga gambar karakter favorit—menjadi ekspresi artistik sekaligus alat pelestarian budaya permainan tradisional yang kian jarang disentuh layar gawai.
Format Multi-Sesi: Ruang Fleksibel untuk Ritme Keluarga
Keputusan menggelar festival pada tiga tanggal berbeda—17, 24, dan 31 Oktober 2026—bukan sekadar strategi kalender, tetapi bentuk empati terhadap ritme keluarga modern. Tidak semua orang tua bisa hadir di satu akhir pekan; format multi-sesi memberi kesempatan untuk memilih waktu yang paling pas, atau bahkan datang lebih dari sekali untuk memperdalam pengalaman. Hingga 31 Oktober 2026, area di seberang Marketing Gallery Paramount Petals disulap menjadi ruang terbuka yang ramah anak dan keluarga. Dengan demikian, festival layang-layang keluarga ini tidak terasa sebagai acara sekali lewat, melainkan rangkaian aktivitas tradisional anak yang bisa diulang dan dikembangkan. Setiap kunjungan menjadi bab baru: mencoba desain lain, mengajak teman berbeda, atau memberi kesempatan adik yang sebelumnya hanya menonton untuk ikut terlibat penuh.
Ekosistem Akhir Pekan: Dari Layang-Layang ke Seni dan Kuliner Keluarga
Festival ini tidak berdiri sendiri; ia menjadi bagian dari ekosistem akhir pekan yang dirancang untuk memperkuat seni tradisional keluarga. Di sekitar lokasi, pengunjung bisa menikmati bazaar kuliner dari tenant Pasar Modern Paramount Petals sambil menyaksikan aktivitas menerbangkan layang-layang. Di hari lain, kawasan yang sama menghadirkan Urban Market dengan penampilan seni angklung dari komunitas Desa Cukanggalih. Kombinasi layang-layang dan angklung menjadikan ruang publik ini panggung terbuka bagi warisan budaya: satu di langit, satu di panggung, keduanya bisa dinikmati lintas usia. Ditambah program Open House dan Pesta Durian setiap Sabtu dan Minggu sepanjang Oktober, akhir pekan keluarga berubah menjadi perjalanan lengkap: bermain, belajar, menikmati seni, dan berbagi cerita di meja makan. Inilah model festival layang-layang keluarga yang seharusnya ditiru: menyatukan permainan, edukasi, dan budaya dalam satu pengalaman yang hangat.






