Warisan Bisnis Kecantikan yang Berawal dari Garasi
Warisan bisnis kecantikan Martha Tilaar adalah perjalanan seorang pengusaha yang memulai dari salon garasi kecil, lalu membangun Martha Tilaar Group dan PT Martina Berto Tbk. (MBTO) hingga menjadi pemain penting di industri kosmetik lokal dan tercatat di bursa saham, sambil mengangkat kekayaan alam dan budaya sebagai inti identitas merek.
Kisah ini bukan sekadar cerita sukses, tetapi koreksi terhadap anggapan bahwa bisnis kecantikan harus meniru standar luar untuk diakui. Perjalanan bisnis Martha dimulai pada 1970 ketika ia membuka salon kecantikan di garasi berukuran 4 x 6 meter di Menteng. Dari ruang sempit itu, ia membangun pondasi Martha Tilaar Group yang kelak menaungi berbagai merek kosmetik dan perawatan tubuh. Kepergiannya pada Rabu, 14 Oktober 2026, menandai akhir satu generasi pendiri, tetapi juga memaksa publik pasar modal menilai ulang arti warisan bisnis yang berakar pada rumah sendiri.

Strategi Bahan Alami dan Budaya Lokal sebagai Diferensiator
Keputusan Martha menjadikan kekayaan alam dan budaya lokal sebagai jantung merek adalah langkah strategis, bukan romantisme tradisi. Dari bisnis salon, ia membangun usaha yang memadukan pengetahuan kecantikan dengan kekayaan alam dan tradisi Indonesia. Ia tidak sekadar menjual krim dan lulur, tetapi menjual narasi bahwa kecantikan bisa lahir dari tanaman herbal, jamu, dan ritual perawatan yang sudah hidup di masyarakat jauh sebelum istilah "wellness" populer.
Tonggak penting muncul pada 1977 dengan pendirian PT Martina Berto bersama mitra bisnisnya, yang kemudian melahirkan merek Sariayu sebagai salah satu pilar utama portofolio Martha Tilaar Group. Ekspansi merek seperti Cempaka, Jamu Martina, Biokos, Caring Colours, hingga Dewi Sri Spa mempertegas satu pesan: industri kosmetik lokal tidak harus menjadi bayang-bayang produk impor. Pengakuan negara melalui Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma pada 2016 menunjukkan bahwa strategi bisnis berbasis budaya dapat berdampak hingga ranah pelestarian budaya.
Dari Pabrik ke Bursa: MBTO dan Dinamika Pasar Saham
Transformasi dari salon rumahan menjadi emiten publik adalah lompatan yang mengubah Martha Tilaar Group dari usaha keluarga menjadi institusi yang diawasi pasar. Pabrik pertama PT Martina Berto mulai beroperasi pada 1981 di kawasan industri Pulogadung, disusul pabrik kedua pada 1983 dan pendirian perusahaan distribusi untuk memperkuat jaringan produk. Langkah-langkah ini mempersiapkan perusahaan memasuki bursa, yang akhirnya terwujud pada 2011 ketika PT Martina Berto resmi melantai di Bursa Efek Indonesia dengan kode MBTO.
Pada hari berpulangnya sang pendiri, saham MBTO turun Rp1 atau 0,76 persen ke level Rp130 per saham pada pukul 14.53 WIB, dari penutupan sebelumnya Rp131. Sepanjang perdagangan, saham MBTO bergerak di rentang Rp125 hingga Rp132 dengan volume 961.656 saham dan nilai transaksi Rp123,64 juta dalam 311 kali transaksi, sementara kapitalisasi pasar sekitar Rp139,1 miliar. Secara resmi, pelemahan ini belum dapat dipastikan berkaitan langsung dengan kabar duka tersebut, tetapi pasar jelas sedang menguji seberapa kuat warisan manajerial dan kepercayaan terhadap generasi penerus.
Warisan Kepemimpinan di Tengah Target Agresif MBTO
Warisan bisnis kecantikan Martha kini diuji melalui angka-angka yang sangat konkret. Pada 2026, MBTO membidik penjualan bersih sekitar Rp501 miliar, tumbuh lebih dari 24 persen dibandingkan realisasi 2025, dengan target laba usaha Rp47 miliar, EBITDA Rp61 miliar, dan laba setelah pajak Rp24 miliar. Pernyataan manajemen bahwa visinya akan menjadi pedoman perusahaan menunjukkan bahwa kepemimpinan Martha telah dikodifikasi menjadi strategi, bukan sekadar karisma pendiri.
Perbaikan kinerja semester I/2026—penjualan bersih naik 36,55 persen menjadi Rp254 miliar dan rugi usaha berbalik menjadi laba Rp25 miliar, sementara laba setelah pajak berubah dari rugi Rp16 miliar menjadi laba Rp13 miliar—menandakan bahwa transformasi operasional sudah berjalan sebelum kepergiannya. Fokus pada efisiensi biaya, efektivitas operasional, dan penetrasi segmen menengah atas menunjukkan bahwa industri kosmetik lokal kini bermain di liga yang menuntut disiplin keuangan, bukan hanya cerita heritage. Di titik ini, warisan Martha adalah kombinasi antara idealisme bahan alami dan disiplin angka yang harus dijaga manajemen baru.
Dampak Global dan Masa Depan Industri Kosmetik Lokal
Martha dikenang sebagai sosok yang mendedikasikan hidupnya untuk mengembangkan industri kecantikan nasional, sekaligus mengangkat kekayaan alam dan budaya ke panggung yang lebih luas. Dengan portofolio merek yang menyasar berbagai segmen, dari remaja hingga profesional, Martha Tilaar Group menunjukkan bahwa industri kosmetik lokal bisa membangun standar sendiri dan tetap relevan di pasar global yang sarat pemain besar.
Ke depan, tantangan terbesar bukan hanya menjaga pertumbuhan penjualan dan laba, tetapi mempertahankan ruh lokal dalam persaingan yang kian homogen. MBTO melihat peluang dari meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kecantikan dan kesehatan, perkembangan saluran distribusi, serta pasar di luar Pulau Jawa. Namun tanpa kompas nilai yang dulu dipegang Martha—pelestarian alam, budaya, pendidikan, dan pemberdayaan perempuan—pertumbuhan angka berisiko kehilangan makna. Kesimpulannya, jika pasar saham menguji kekuatan neraca, publik akan menguji sejauh mana warisan Martha Tilaar tetap hidup dalam setiap produk dan keputusan bisnis Martha Tilaar Group.






