Ketagihan Horor: Pilihan Sadar Seorang Aktor, Bukan Kebetulan
Ketagihan horor bagi seorang aktor adalah keadaan ketika ia terus memilih proyek film horor walau sudah berkali-kali berhadapan dengan cerita menegangkan, tuntutan fisik yang berat, dan atmosfer mistis syuting, karena di balik rasa takut dan lelah ada kepuasan kreatif, eksplorasi karakter ekstrem, dan kebersamaan kru yang tidak ia temukan sekuat itu di genre lain. Dalam dunia film horor Indonesia, Titi Kamal adalah contoh paling terang dari fenomena ini. Ia bukan sekadar ikut tren, tetapi menjadikan horor sebagai arena bermain utama saat kariernya sudah mapan sebagai aktris serbabisa sejak awal 2000-an. Sikap ini menarik karena datang dari seseorang yang jelas memahami risiko emosional dan fisik syuting film horor, namun tetap menganggap genre ini sebagai “taman bermain” kreatif yang layak disambangi berulang kali.
The Doll Ghawiah: Boneka Cantik, Teror Keluarga, dan Tantangan Emosional
The Doll Ghawiah menjadi bukti terbaru bahwa Titi Kamal tidak berniat berhenti bermain film horor Indonesia. Berlatar tahun 1988, film ini mengikuti keluarga Arya Pranata yang pindah ke rumah baru dan pelan-pelan dihantui Ghawiah, boneka yang dirasuki arwah anak kecil. Di sini Titi memerankan Evi, istri Arya dan ibu dua anak remaja; satu masih SMA, satu lagi hendak kuliah. Secara dramaturgi, peran ibu yang awalnya hidup tenang lalu terseret dalam serangkaian kejadian aneh memaksanya bermain di rentang emosi yang lebar: cemas, frustasi, sampai marah karena tidak memahami apa yang mengganggu keluarganya. Menariknya, Titi menggambarkan Ghawiah sebagai sosok yang "cantik tapi creepy", perpaduan estetika dan ancaman yang menuntutnya selalu waspada di set. Film karya Guntur Soeharjanto ini dijadwalkan tayang di bioskop pada 29 Oktober 2026 dengan format IMAX, tanda bahwa horor yang ia pilih bukan proyek sembarangan.
Logistik Seorang Bintang: Tempat Tidur Mini, Karaoke, dan Filosofi ‘Bawa Sendiri’
Yang membuat Titi Kamal aktor horor unik bukan hanya pilihan peran, tetapi mentalitas membawa kenyamanan rumah ke lokasi syuting film horor. Saat syuting The Doll Ghawiah di Bandung dan Puncak, ia memboyong tempat tidur mini, deretan kursi lipat, dan perabot rumah tangga seperti televisi, pengeras suara untuk karaoke, mainan kelompok, hingga sapu, pel, dan ember karena ia sangat menjaga kebersihan. Beban fisik horor ia akui berat; ada momen di-sling jam 3 pagi dengan blower yang dingin sampai merasa energinya "kuras energi banget". Bukannya menuntut fasilitas ekstra, Titi menegaskan semua itu tidak masuk kontrak dan ia siapkan sendiri agar tidak menyusahkan rumah produksi. Menurut saya, di sinilah letak profesionalismenya: ia sadar horor menuntut stamina, lalu mengatasinya dengan sistem logistik personal yang hampir menyerupai orang pindahan rumah, lengkap dengan meja makan dan tudung saji untuk kumpul bersama kru.
Momen Merinding dengan Sara Wijayanto: Ketika Horor Menyeberang dari Naskah ke Ruang Tunggu
Syuting film horor selalu membawa reputasi lokasi angker, tetapi cerita Titi tentang co-star Sara Wijayanto membuat The Doll Ghawiah terasa lebih berlapis lagi. Sara dikenal punya indera keenam, dan di ruang tunggu besar tempat Titi menaruh tempat tidur kecilnya, terjadi momen yang bagi saya merangkum betapa tipis batas antara horor di layar dan di balik layar. Saat Titi iseng bertanya, “Sar, di sini ada nggak?”, Sara menolak menoleh ke satu sudut ruangan dan berkata, “Udah, nggak usah dibahas, nggak boleh diomongin sekarang, entar gue ceritain”. Sepanjang syuting, Sara sering enggan melihat ke semak-semak atau pojok tertentu, seolah berkomunikasi diam-diam dengan sosok yang ia lihat. Titi sendiri mengaku tidak pernah melihat apa pun, hanya menduga Sara merasakan kehadiran gaib yang tidak ia bagi ke orang lain. Bagi penonton, detail seperti ini menambah lapisan mistis; bagi seorang aktor, ini ujian konsentrasi sekaligus sumber adrenalin tambahan.
Mengapa Titi Tidak Kapok: Dedikasi, Keseruan, dan Horor sebagai Arena Eksplorasi
Jika diurai, alasan Titi Kamal terus kembali ke film horor tampak seperti kombinasi antara kecanduan kreativitas dan disiplin kerja yang jarang dibicarakan. Berkali-kali menghadapi teror dalam film horor tidak membuatnya kapok; sebaliknya, ia mengaku semakin ketagihan menjajal genre ini demi kesempatan melakukan adegan menantang. Dari Makmum, Makmum 2, Jailangkung: Sandekala, Getih Ireng, sampai The Doll Ghawiah, tiap proyek memberi pengalaman berbeda—dari dunia santet sampai boneka yang "lebih serem, creepy" dibanding teror sebelumnya. Namun ketagihan ini dibayar mahal oleh energi yang terkuras dan persiapan ekstra yang ia lakukan sendiri, mulai dari kursi di setiap titik set sampai kelambu dan stroller di masa sinetron saat anaknya masih bayi. Menurut saya, horor bertahan sebagai pilihan utama Titi karena di balik rasa lelah jam 3 pagi, ada rasa puas saat karakter seperti Evi bertahan di tengah kekacauan, dan ada keseruan kebersamaan yang membuatnya tak ingin beralih ke zona nyaman genre lain.






