Target 18.000 Paket yang Melenceng Jauh
Paket wisata MotoGP Mandalika adalah penawaran bundling yang menggabungkan tiket menonton balapan, akomodasi, perjalanan pesawat, serta kunjungan ke destinasi wisata tambahan di sekitar Mandalika dan sekitarnya, yang dirancang untuk memudahkan wisatawan menikmati wisata event olahraga internasional tanpa harus mengatur setiap komponen perjalanan secara terpisah. Fakta paling mengganggu saat ini: penjualan paket wisata MotoGP Mandalika masih jauh dari ambisi industri. Dari target 18.000 paket, baru sekitar 3.000–4.000 yang berhasil dijual oleh asosiasi perusahaan penjual tiket penerbangan. Artinya, gap penjualan lebih dari dua pertiga, dan waktu menuju akhir masa penjualan terus menyempit. Menyalahkan minat pasar saja tidak cukup; yang perlu dibedah adalah cara produk ini disusun dan dipasarkan. Selama paket wisata tidak terasa wajib bagi calon penonton, mereka akan memilih merakit perjalanan sendiri dan meninggalkan bundling di meja penawaran.
Promosi Terlambat: Masalah Utama di Pasar Mancanegara
Kepala Astindo NTB secara terang menautkan rendahnya minat wisatawan mancanegara dengan pola promosi yang terlambat. Untuk pasar Asia, wisatawan umumnya butuh waktu minimal dua bulan untuk merencanakan perjalanan; pasar global idealnya disasar 8–10 bulan sebelum ajang berlangsung. Mengabaikan jendela waktu ini sama saja membiarkan kompetitor—baik destinasi lain maupun platform pemesanan mandiri—mencuri perhatian lebih dulu. Dalam lanskap wisata event olahraga internasional, keputusan perjalanan ditentukan jauh sebelum balapan dimulai. Saat bundling baru digencarkan dekat hari-H, paket wisata MotoGP Mandalika kalah start dan berakhir hanya sebagai opsi tambahan, bukan rencana utama. Di titik ini, masalahnya bukan kurangnya daya tarik balapan, tetapi komunikasinya yang datang terlalu lambat untuk pasar yang butuh kepastian jauh hari.
Akomodasi Camping Ground Mandalika: Produk Menarik, Tapi Belum Menjawab Distribusi
Di sisi produk, hadirnya akomodasi camping ground Mandalika memberi warna baru yang patut diapresiasi. Untuk pertama kalinya, pengelola kawasan menghadirkan Official Camping Ground sebagai pilihan akomodasi bagi penonton yang ingin merasakan suasana MotoGP lebih dekat. Berlokasi di Zona Barat, Kuta Beach Park, area ini mulai beroperasi pada 8 Oktober, sehari sebelum race weekend. Pilihan tenda dua orang, tenda empat orang, glamping hingga campervan lengkap dengan fasilitas bersama seperti food court, mushala, area nonton bareng, shuttle bay dan parkir menjadikannya pengalaman komunal, bukan sekadar tempat tidur. Secara konsep, ini sejalan dengan tren wisata event olahraga internasional yang mengutamakan pengalaman menyeluruh, bukan hanya tontonan satu hari. Namun tanpa integrasi agresif ke dalam paket wisata MotoGP Mandalika dan promosi lintas kanal, inovasi produk seperti ini mudah berakhir sebagai opsi tersier, bukan magnet penjualan.

Bundling yang Mahal secara Persepsi, Kurang Jelas secara Nilai
Harga paket bundling MotoGP Mandalika berkisar Rp5 juta hingga Rp27 juta untuk perjalanan empat hari tiga malam, bergantung kelas akomodasi, tiket pesawat, dan zona tribun. Di atas kertas, tawaran ini sudah mengemas banyak komponen: menonton balapan di sirkuit dan kunjungan ke destinasi unggulan lain, termasuk wisata hiu paus di Sumbawa. Namun masalahnya, nilai tambah tersebut belum dikomunikasikan secara tajam. Bagi banyak penonton, angka jutaan rupiah terlihat seperti premium tanpa penjelasan jelas: apa bedanya dengan menyusun sendiri tiket pesawat, hotel, dan tiket balapan? Tanpa narasi kuat—misalnya penekanan pada kemudahan, akses khusus, atau pengalaman unik—harga akan dibaca sebagai mahal, bukan efisien. Di era wisatawan digital yang terbiasa membandingkan harga, paket wisata MotoGP Mandalika harus mampu menjawab pertanyaan sederhana: mengapa bundling ini lebih masuk akal daripada merencanakan perjalanan sendiri?
Strategi ke Depan: Menata Ulang Promosi, Aksesibilitas, dan Ekosistem
Meski penjualan tertinggal, Astindo masih optimistis dan mulai mengerahkan jaringan nasional serta menggandeng forum pariwisata internasional seperti Asianta dan PATA sebagai strategi mendongkrak penjualan. Langkah ini tepat arah, tetapi perlu disertai perbaikan mendasar: promosi harus dimulai minimal 8–10 bulan sebelum event, akses informasi tiket dan paket harus mudah dicari dan dipesan, dan narasi paket wisata MotoGP Mandalika wajib menonjolkan pengalaman—bukan hanya komponen teknis. Camping Ground dengan konsep komunal, shuttle, dan area nonton bareng bisa dijadikan ikon kampanye, menekankan bahwa datang ke Mandalika berarti hidup di atmosfer MotoGP selama beberapa hari, bukan sekadar duduk di tribun beberapa jam. Jika strategi promosi dan aksesibilitas mampu membuat paket terasa tak tergantikan, wisata event olahraga internasional di Mandalika berpotensi bertransformasi dari sekadar event tahunan menjadi agenda tetap di kalender perjalanan para penggemar balapan.






