Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Stunting Bukan Hanya Soal Nutrisi: Data dan Pendampingan Keluarga

Stunting Bukan Hanya Soal Nutrisi: Data dan Pendampingan Keluarga
Minat|Pengetahuan Parenting

Pencegahan harus dimulai sebelum anak lahir

Stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis, infeksi berulang, serta lingkungan dan pengasuhan yang tidak mendukung, sehingga pencegahannya harus mencakup kesehatan, sanitasi, pola asuh, dan pendampingan keluarga. Definisi ini menjelaskan mengapa pembagian makanan tambahan saja tidak cukup. Prevalensi stunting nasional tercatat 19,8 persen, sementara pemerintah menargetkan penurunan menjadi 17,5 persen tahun ini. Target itu menuntut strategi yang menemukan risiko lebih awal, bukan sekadar menangani anak setelah pertumbuhannya terganggu. Kementerian Kesehatan membagi sasaran ke dalam dua tahap: sebelum kelahiran, yakni remaja dan ibu hamil, serta setelah kelahiran, yaitu bayi dan balita berusia 0–24 bulan. Pendekatan ini masuk akal karena kebutuhan kesehatan ibu, bayi, dan keluarga berubah sepanjang masa tumbuh kembang. Pencegahan stunting anak akan lebih kuat jika layanan gizi disertai dukungan yang konsisten sejak kehamilan.

Data mengarahkan bantuan ke keluarga yang tepat

Peralihan penting dalam penanganan stunting adalah menganggap data sebagai bagian dari intervensi, bukan pekerjaan administrasi belaka. Dashboard Manajemen Stunting (DMS) yang dikembangkan Metranet membantu pemerintah daerah mengelola, memantau, dan menganalisis catatan secara digital agar keluarga berisiko dapat dikenali dan prioritas bantuan ditentukan lebih tepat. Pada kategori bayi bawah dua tahun, DMS mencatat 28.494 data untuk periode Januari hingga Oktober 2026. Sebanyak 27.695 tercatat “Ya” pada indikator kurva pertumbuhan KIA, sedangkan 799 tercatat “Tidak”. Data stunting daerah juga mencakup kondisi sanitasi dan jamban, sumber air minum, paparan rokok, perkembangan anak, serta kehadiran di Posyandu atau BKB. Cakupan itu penting: angka pertumbuhan perlu dibaca bersama keadaan rumah dan akses layanan. Bagi keluarga, pencatatan yang akurat dapat membantu petugas mengenali kebutuhan dan memantau perkembangan, sehingga intervensi gizi balita tidak berhenti pada pembagian makanan.

Stunting Bukan Hanya Soal Nutrisi: Data dan Pendampingan Keluarga

Pendampingan keluarga membuat program lebih nyata

Jawa Timur mencatat prevalensi stunting 14,7 persen dan berada di posisi terendah kedua setelah Bali. Namun, capaian angka tidak berarti pekerjaan selesai. Dalam peringatan Hari Kesatuan Gerak PKK ke-54 dan Jambore Kader PKK Jawa Timur di Malang pada 26 Oktober 2026, Gubernur Khofifah Indar Parawansa menekankan penguatan pendampingan keluarga sebagai kunci pencegahan dan dukungan tumbuh kembang anak. Penekanan itu tepat karena stunting dapat memengaruhi perkembangan otak, bukan hanya tinggi badan. Kader yang berhubungan langsung dengan warga dapat membantu keluarga memahami kesehatan ibu dan anak, pengasuhan, serta perlindungan anak. Pendampingan keluarga stunting juga perlu mengikuti tantangan sehari-hari, termasuk penggunaan gawai oleh anak. Edukasi tentang batas penggunaan perangkat dan literasi digital dapat melengkapi dukungan gizi. Artinya, keluarga bukan sekadar penerima program: mereka perlu ditemani agar informasi berubah menjadi kebiasaan yang mendukung pertumbuhan anak.

Stunting Bukan Hanya Soal Nutrisi: Data dan Pendampingan Keluarga

Pelajaran dari intervensi terstruktur di Sumbawa Barat

Sumbawa Barat menunjukkan bahwa sasaran yang jelas dan layanan berulang dapat menjadi contoh yang layak dipelajari. Pada triwulan III 2026, prevalensi stunting di kabupaten itu turun menjadi 6,77 persen dari 7,3 persen pada Desember 2025. Meski demikian, 675 dari 9.970 balita yang diukur masih masuk kategori stunting dan ditetapkan sebagai sasaran utama intervensi hingga akhir tahun. Programnya mencakup pemantauan kesehatan ibu hamil, pemenuhan gizi selama kehamilan, edukasi ASI eksklusif dan makanan pendamping ASI hingga usia dua tahun, serta penimbangan, pengukuran, imunisasi, dan makanan tambahan berbasis pangan lokal. Nutrisionis puskesmas mendampingi keluarga, sementara pencatatan gizi diperbarui melalui aplikasi e-PPGBM. Ini bukan resep yang dapat disalin begitu saja, tetapi prinsipnya dapat diadopsi: ukur, tentukan keluarga sasaran, dampingi, lalu evaluasi. Pemerintah daerah menyatakan evaluasi program akan terus dilakukan.

Kesimpulannya, keberhasilan tidak cukup diukur dari banyaknya suplemen atau makanan yang dibagikan. Target nasional memerlukan data yang dapat dipercaya, layanan lintas tahap kehidupan, sanitasi yang layak, dan pengasuhan yang didukung pendampingan. Teknologi membantu menunjukkan siapa yang membutuhkan perhatian; petugas dan kader memastikan bantuan sampai serta sesuai keadaan keluarga. Tanpa hubungan antara data dan tindak lanjut, angka hanya menjadi catatan. Dengan pendampingan yang konsisten, pencegahan stunting dapat lebih tepat sasaran dan berpeluang memberi manfaat nyata bagi anak.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!