MBG perlu menjadi ruang belajar, bukan sekadar pembagian makanan
Edukasi gizi sekolah adalah pembelajaran yang membantu siswa memahami zat gizi dalam makanan dan kaitannya dengan kesehatan serta pertumbuhan tubuh. Gagasan ini patut didukung: makanan bergizi akan memberi manfaat lebih panjang ketika anak juga mengerti alasan di balik menu yang mereka santap. Pada 27 Oktober 2026, Kepala Badan Gizi Nasional Sudaryono mengusulkan agar edukasi gizi melalui program Makan Bergizi Gratis (MBG) masuk ke kurikulum pendidikan, serupa dengan pendidikan jasmani dan kesehatan. Ia mengusulkan materi tentang karbohidrat, protein, serat, vitamin, dan mineral, termasuk fungsi zat-zat tersebut bagi tubuh. Dengan begitu, siswa tidak hanya menerima makanan, tetapi berpeluang membangun kesadaran nutrisi dan mengenali pilihan pangan yang lebih baik dalam kehidupan sehari-hari. Nilai proposal ini terletak pada hubungan langsung antara pelajaran dan makanan yang mereka temui.

Angka stunting memperkuat alasan untuk mulai dari usia sekolah
Pendidikan gizi bukan pengganti layanan kesehatan atau perbaikan akses pangan, tetapi dapat menjadi bagian penting dari pencegahan stunting anak. Di Kabupaten Kupang, prevalensi stunting tercatat 39,5 persen pada 2024 berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia. Angka ini menjadi peringatan bahwa masalah gizi membutuhkan langkah nyata dan berkelanjutan. Tantangannya juga tidak berhenti pada stunting; wasting, anemia, dan kelebihan berat badan turut disebut sebagai persoalan yang perlu ditangani. Karena itu, program Makan Bergizi Gratis sebaiknya dipahami sebagai lebih dari penyediaan menu harian. Pemenuhan gizi di sekolah dapat berjalan beriringan dengan pengetahuan yang membantu siswa memahami pilihan makanannya. Di Kabupaten Kupang, pelatihan implementasi MBG dan edukasi gizi dibuka pada 20 Oktober 2026 untuk memperkuat kapasitas tenaga pendidik. Pelatihan itu melibatkan 44 satuan pendidikan: 25 PAUD dan 19 SD.

Kurikulum harus jelas, relevan, dan bisa diterapkan
Agar kurikulum pendidikan gizi tidak menjadi tambahan teori yang cepat dilupakan, pembelajaran perlu dikaitkan dengan menu MBG yang dikonsumsi siswa. Siswa dapat diajak mengenali bahan makanan dan memahami fungsi zat gizinya, sehingga pengetahuan terasa dekat dengan keseharian. Pendekatan itu berpotensi membantu mereka menerapkan pola makan seimbang di luar sekolah, bukan hanya saat menerima makanan gratis. Namun, usulan integrasi ini belum disertai jadwal maupun mekanisme pelaksanaan yang terperinci, dan masih memerlukan pembahasan lebih lanjut. Ini bukan alasan untuk menunda edukasi, melainkan dorongan agar rancangan pembelajaran tidak membebani sekolah atau mengaburkan fokus pelaksanaan MBG. Materi, peran pendidik, dan kaitannya dengan standar keamanan pangan perlu dirumuskan dengan terang. Tanpa rancangan yang praktis, gagasan baik ini berisiko berhenti sebagai slogan. Keberhasilannya harus dinilai dari pemahaman dan kebiasaan siswa, bukan semata dari banyaknya materi yang ditambahkan.







