Kemitraan, bukan sekadar penegakan
Sinergi polisi dan masyarakat adalah kerja sama berkelanjutan ketika kepolisian mendengar aspirasi warga dan komunitas ikut mencegah gangguan keamanan, dengan tetap menghormati hukum. Itulah gagasan yang seharusnya menjadi ukuran keberhasilan empat program prioritas Kapolda Sumatera Utara Irjen Pol. Sonny Irawan, bukan sekadar banyaknya kegiatan atau penindakan. Pada Rabu (28/10/2026), Sonny bersilaturahmi dengan tokoh agama dan masyarakat di Pesantren Modern Al-Kautsar Al-Akbar, Medan Kota, untuk meminta doa serta dukungan bagi tugas kepolisian. Sehari kemudian, ia memaparkan program tersebut dalam pertemuan dengan insan pers di Aula Tribrata Mapolda Sumut. Rangkaian pertemuan ini penting karena keamanan bersama warga tidak lahir dari instruksi satu arah. Polisi perlu hadir dan tanggap, sementara warga harus memiliki saluran nyata untuk menyampaikan kekhawatiran.

Empat prioritas menyasar masalah sehari-hari
Empat program itu merupakan penjabaran dari gagasan Kapolri “Polisi Bersama Masyarakat”, yang disesuaikan dengan tantangan keamanan Sumatera Utara. Isinya mencakup menjaga persatuan dalam Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika, menolak narkoba, memberantas kejahatan jalanan, serta membangun ketertiban berlalu lintas. Susunan ini masuk akal karena keamanan bukan hanya soal menanggapi tindak pidana setelah terjadi. Pencegahan narkoba, misalnya, perlu melibatkan keluarga, sekolah, tokoh masyarakat, dan komunitas, disertai edukasi serta rehabilitasi, bukan hanya penegakan hukum. Sementara itu, upaya menekan kejahatan jalanan dapat membuat warga lebih leluasa beraktivitas dan mendukung iklim investasi. Budaya tertib berlalu lintas pun punya dampak langsung: kepatuhan pada aturan membantu menekan risiko kecelakaan dan melindungi pengguna jalan. Tantangannya ialah memastikan setiap prioritas hadir dalam layanan yang konsisten, bukan berhenti sebagai slogan.
Tokoh lintas agama sebagai penjaga kepercayaan
Pertemuan di Medan mempertemukan kiai, ulama, ustaz, dan tokoh lintas agama, termasuk perwakilan umat Kristen dan Katolik bersama Syekh KH Ali Akbar Marbun. Kehadiran beragam pemuka memberi pesan bahwa menjaga persatuan bukan tugas satu kelompok, terlebih di wilayah dengan latar suku, agama, dan budaya yang beragam. Peran mereka sebaiknya melampaui dukungan seremonial: mereka dapat membantu meredakan ketegangan, menyampaikan edukasi pencegahan narkoba, dan menghubungkan keluhan warga dengan kepolisian. Namun, kemitraan hanya akan kuat bila komunikasi berlangsung dua arah dan kritik masyarakat diterima tanpa dianggap sebagai gangguan. Sonny menyatakan, “Kita tidak bisa bekerja sendiri, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.” Pernyataan itu tepat sebagai prinsip, tetapi pembuktiannya terletak pada tindak lanjut: respons yang jelas, perlakuan adil, serta keterbukaan dalam menangani aduan.
Ukur hasil dari kepercayaan dan tindakan
Fokus berikutnya mestinya menjaga kolaborasi komunitas tetap hidup setelah pertemuan dan pemaparan program. Polda Sumut menyediakan Hotline Pengaduan Kapolda Sumut di nomor 0811-6161-5527 sebagai salah satu jalur bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi atau pengaduan. Keberadaan nomor itu bermanfaat bila laporan ditangani secara tanggap, aman, dan transparan; tanpa tindak lanjut, saluran pengaduan mudah kehilangan kepercayaan publik. Empat program prioritas Kapolda akan lebih berarti ketika warga dapat melihat perubahan: lingkungan lebih terlindungi dari narkoba dan kejahatan jalanan, hubungan antarkelompok tetap rukun, serta jalan lebih aman. Karena itu, keberhasilan tidak cukup diukur dari banyaknya sosialisasi. Ukur juga apakah polisi mendengar, apakah komunitas terlibat, dan apakah persoalan ditangani sesuai hukum. Kesimpulannya, keamanan bersama warga adalah hasil kemitraan yang diuji setiap hari, bukan janji yang selesai saat pertemuan berakhir.






