Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

ICESAS Satukan Delapan Negara untuk Mendorong Riset Berkelanjutan Maluku

ICESAS Satukan Delapan Negara untuk Mendorong Riset Berkelanjutan Maluku
Minat|Asia Tenggara

Forum ilmiah harus berujung pada kerja nyata

ICESAS adalah konferensi internasional yang mempertemukan akademisi dan pemangku kepentingan untuk membahas ilmu lingkungan, pertanian, dan keberlanjutan, dengan tujuan menghubungkan riset pada kebutuhan pembangunan. ICESAS 2026 Unpatti diselenggarakan Program Pascasarjana Universitas Pattimura di The Natsepa Resort pada Rabu, 28 Oktober 2026, sebagai puncak Dies Natalis ke-22 Pascasarjana sekaligus forum untuk memperkuat kolaborasi riset. Nilai acara semacam ini tidak semestinya diukur dari banyaknya sesi atau daftar pembicara, melainkan dari apakah pengetahuan yang dibagikan dapat membantu Maluku mengambil keputusan yang lebih baik. Itu penting bagi provinsi kepulauan, tempat pengelolaan laut, pesisir, hutan, dan pertanian saling terkait. Konferensi lingkungan Unpatti punya alasan kuat untuk hadir, tetapi ukuran keberhasilannya tetap terletak pada tindak lanjut.

ICESAS Satukan Delapan Negara untuk Mendorong Riset Berkelanjutan Maluku

Jangkauan internasional membuka peluang, bukan jaminan

Kehadiran delegasi dari Filipina, Irak, Jepang, Malaysia, India, Timor-Leste, Australia, dan Hungaria memberi ICESAS jangkauan lintas negara. Total 137 peserta mengikuti konferensi: 81 secara daring dan 56 secara langsung. Enam pembicara utama datang dari Indonesia, Australia, Jepang, India, dan Hungaria, termasuk Prof. Dr. Wilma Latuny dari Unpatti, Amanda Reichelt-Brushett dari Southern Cross University, serta Koichi Murata dari Nihon University. Keragaman ini dapat memperluas pertukaran metode dan gagasan, tetapi partisipasi internasional saja tidak menjamin solusi yang sesuai dengan kondisi kepulauan. Riset perlu berangkat dari persoalan lokal, melibatkan mitra yang memahami masyarakat setempat, dan menilai dampak di lapangan. Tanpa itu, konferensi berisiko berhenti sebagai agenda akademik, bukan penggerak perubahan.

Kolaborasi harus menjangkau kebijakan dan masyarakat

Gubernur Maluku Hendrik Lewerissa mendorong kerja bersama pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat untuk mengelola lingkungan, mengembangkan pertanian, serta memperkuat ketahanan pangan. Ia menegaskan, “Lingkungan, pertanian, dan keberlanjutan bukanlah tiga hal yang berdiri sendiri.” Pesan tersebut tepat: pembangunan yang mengejar hasil cepat dengan mengabaikan ekosistem akan membebani generasi berikutnya. Karena itu, riset berkelanjutan Maluku perlu menghasilkan bukti dan rekomendasi yang menjawab kebutuhan daerah, lalu diterjemahkan menjadi kebijakan dan tindakan yang bisa dirasakan warga. Gubernur juga meminta kerja sama internasional menjadi ruang penelitian bersama, pertukaran keahlian, transfer teknologi, dan program nyata. Tanggung jawab ini tidak hanya berada di kampus; dunia usaha dan pemerintah perlu ikut membuka jalan dari temuan ilmiah menuju penerapan.

Ukuran keberhasilan ada pada tindak lanjut

Salah satu langkah yang patut diperhatikan ialah penandatanganan Implementation Agreement oleh 15 ketua program studi Pascasarjana Unpatti bersama mitra dari Southern Cross University dan Nihon University. Kesepakatan itu memberi pijakan untuk kolaborasi riset Maluku, tetapi hasilnya perlu tampak dalam penelitian bersama, penguatan keahlian, dan solusi yang relevan bagi masyarakat. Tantangannya jelas: kekayaan alam tidak otomatis menjadi kesejahteraan, sementara pemanfaatannya menuntut ilmu pengetahuan, inovasi, dan kerja lintas disiplin serta negara. Konferensi ini telah menyediakan jejaring dan ruang bertukar gagasan. Kini, Unpatti dan para mitranya perlu memastikan hubungan tersebut berlanjut setelah acara usai, dengan agenda riset yang berpihak pada kebutuhan kepulauan. Kesimpulannya, ICESAS akan berarti bagi Maluku bukan karena peserta datang dari banyak negara, melainkan bila kolaborasi itu menghasilkan kebijakan dan tindakan yang menjaga alam sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!