Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Oase Malioboro: Panggung Seni, Budaya, dan Kreativitas

Oase Malioboro: Panggung Seni, Budaya, dan Kreativitas
Minat|Yoga & Pilates

Wisata yang juga memberi ruang untuk belajar

Oase Malioboro adalah destinasi wisata dan ruang kreatif di pusat Yogyakarta yang memadukan alam, seni, budaya, serta teknologi untuk menghadirkan pengalaman rekreasi sekaligus edukasi bagi warga dan wisatawan. Tempat ini resmi diperkenalkan melalui soft opening dan direncanakan mulai menerima pengunjung pada 5 November 2026, dengan pembukaan resmi pada Desember. Nilai tawarnya bukan semata menambah tempat singgah di sekitar Malioboro, melainkan menawarkan alasan untuk berhenti, berinteraksi, dan memahami budaya Jawa lewat pengalaman langsung. Gagasan ini terasa tepat di kawasan yang identitasnya dibentuk sejarah dan filosofi: wisata budaya akan lebih bermakna bila pengunjung tidak hanya melihat, tetapi juga ikut mengalami.

Dibangun di lahan sekitar satu hektare, Oase dirancang sebagai Cultural Creative Park yang menyatukan ruang terbuka dan aktivitas kreatif. Sekitar 75 persen lahannya akan dipertahankan sebagai pepohonan dan ruang terbuka hijau. Perpaduan tersebut memberi gagasan wisata seni budaya yang lebih luas daripada pameran di dalam ruangan: alam menjadi bagian dari pengalaman, sedangkan teknologi membantu menyampaikan materi kebudayaan kepada beragam kalangan. Tantangannya ialah menjaga keseimbangan agar teknologi tidak menutupi nilai yang hendak dikenalkan. Jika dirancang dengan cermat, pendekatan ini dapat membuat tradisi terasa dekat tanpa mengubahnya menjadi tontonan kosong.

Oase Malioboro: Panggung Seni, Budaya, dan Kreativitas

Panggung yang dibutuhkan seniman lokal

Kekuatan Oase akan ditentukan bukan hanya oleh desain kawasan, tetapi oleh siapa yang mendapat panggung di dalamnya. Pengelola menyatakan tempat ini terbuka bagi seniman dan pelaku industri kreatif untuk berkolaborasi menampilkan karya. Kesempatan itu penting karena komunitas seni di berbagai kecamatan Yogyakarta selama ini membutuhkan ruang untuk memperkenalkan karya kepada publik. Dengan melibatkan seniman lokal Yogyakarta, Oase berpotensi menjadi penghubung antara kreator, wisatawan, dan warga—bukan sekadar latar foto. Konsep “Rupa Jiwa” merangkul beragam bentuk ekspresi, termasuk seni rupa, film, dan teater. Pengunjung juga direncanakan dapat memilih jadwal lokakarya maupun seniman yang ingin ditemui.

Pengelola menyiapkan kurasi sekitar 10 seniman untuk mengisi program kolaborasi, termasuk pertunjukan tari, visual, dan teater. Angka itu menjadi awal, bukan jaminan bahwa ruang ini akan terus terbuka bagi komunitas baru. Keberhasilan jangka panjang bergantung pada kurasi yang memberi tempat bagi keragaman karya dan pada pola kolaborasi yang menguntungkan seniman, bukan hanya destinasi. Peluang untuk UMKM dan komunitas kreatif juga dapat memperluas manfaat ekonomi di luar panggung, selama keterlibatan mereka menjadi bagian nyata dari program.

Filosofi Jawa sebagai dasar, bukan hiasan

Oase menempatkan filosofi Jawa sebagai landasan konsep kreatif di kawasan sumbu filosofis Yogyakarta. Tiga nilai yang diangkat ialah Sangkan Paraning Dumadi, Hamemayu Hayuning Bawana, dan Manunggaling Kawula Gusti. Nilai-nilai tersebut memberi arah yang lebih kuat daripada sekadar ornamen tradisional: refleksi tentang asal dan tujuan kehidupan, upaya merawat harmoni dunia, serta hubungan manusia dengan Sang Pencipta dan sesamanya dapat menjadi benang merah bagi program dan tata ruang. Namun, filosofi hanya akan terasa hidup bila pengunjung dapat memahami kaitannya dengan pengalaman yang mereka jalani.

Karena itu, kegiatan interaktif seperti belajar mewiru jarik dan mengenal unggah-ungguh atau tata krama Jawa menjadi langkah yang menjanjikan. Penyajian yang mudah diikuti dapat membuka pintu bagi generasi muda tanpa mengurangi bobot budaya Jawa. Aset yang diremajakan ini juga diharapkan menambah pilihan wisata di Yogyakarta dan menjadi alternatif wisata pertunjukan di Malioboro. Pengembangan dilakukan bertahap, dengan target seluruh fasilitas dan operasional berjalan penuh sebelum libur Natal dan Tahun Baru 2026. Oase direncanakan beroperasi setiap hari pukul 09.00–23.00 WIB, dengan tiket masuk Rp35.000 per orang.

Kesimpulan: ukur keberhasilan dari kolaborasinya

Oase Malioboro punya peluang menjadi lebih dari destinasi baru: ia dapat mempertemukan wisata, pendidikan budaya, ruang hijau, dan kerja kreatif di satu kawasan. Nilai pembeda itu hanya akan bertahan jika seniman mendapat ruang tampil yang berkelanjutan, tradisi disampaikan dengan hormat, dan pengunjung diajak berpartisipasi alih-alih sekadar melintas. Pembukaan bertahap memberi waktu bagi pengelola untuk membuktikan janji tersebut melalui program yang konsisten dan kolaborasi yang terbuka. Pada akhirnya, keberhasilan Oase bukan diukur dari ramainya pengunjung saja, melainkan dari apakah seniman dan komunitas merasa ruang ini juga milik mereka.

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!