Dari Lonjakan 117% ke Ambisi Puncak Pasar
Strategi ASUS di segmen laptop bisnis adalah upaya terencana mengubah momentum pertumbuhan penjualan menjadi dominasi pasar, dengan menjadikan laptop bisnis ASUS berbasis kecerdasan buatan lokal sebagai diferensiasi utama untuk menarik perusahaan yang menuntut keamanan, kinerja tinggi, dan kesiapan menghadapi era AI-first di lingkungan kerja modern.
Pertumbuhan bisnis laptop komersial ASUS yang mencapai 117 persen sepanjang 2025 bukan sekadar angka impresif, tetapi titik balik yang mengubah peran mereka dari pemain mengejar menjadi penantang utama pasar. Menurut Aldy Ramadiansyah, capaian tersebut mengangkat ASUS ke jajaran tiga besar merek laptop bisnis. Dengan modal itu, ASUS terang-terangan memasang target menjadi merek PC komersial nomor satu pada akhir 2027, dan memperpanjang ambisi kepemimpinan pasar laptop bisnis hingga 2028. Ini bukan strategi defensif; ini deklarasi agresif bahwa fase “ikut tren” selesai dan mereka ingin menjadi pihak yang mendefinisikan standar baru laptop bisnis berbasis AI.
Jika dulu lini ASUS Pro sempat stagnan dan nyaris mati suri, rebranding menjadi ExpertBook terbukti mengubah peta persaingan. Peringkat yang naik bertahap dari posisi delapan pada 2023, enam pada 2024, lalu menembus peringkat empat pada 2025 menegaskan bahwa strategi jangka panjang mulai membuahkan hasil. Kombinasi lonjakan 117% dan kenaikan pangsa pasar dari sekitar 6% menjadi 12% sepanjang 2025, lalu 17% di kuartal pertama tahun berikutnya, memberi sinyal jelas: pasar laptop bisnis merespons, dan kompetitor wajib mulai waspada.
ExpertBook: Dari Pemulihan ke Mesin Pertumbuhan
Kebangkitan ASUS di pasar laptop bisnis bukan hasil satu produk spektakuler, melainkan restrukturisasi menyeluruh yang berpusat pada lini ExpertBook sebagai tulang punggung portofolio komersial. Setelah ASUS Pro mandek pada 2019, keputusan mengonsolidasikan segmen bisnis ke dalam ExpertBook terbukti krusial: portofolio menjadi lebih terarah, dan pesan ke pasar lebih jelas. Kini ExpertBook mencakup rentang dari entry hingga premium untuk SMB sampai enterprise, menjadikan satu payung merek yang mudah diingat dan diadopsi.
Fakta bahwa peringkat ASUS di pasar laptop bisnis terus naik seiring pendalaman lini ExpertBook menunjukkan bahwa strategi produk selaras dengan kebutuhan perusahaan modern. Di tengah pertumbuhan pasar laptop yang makin didorong kebutuhan kerja hybrid dan adopsi AI di lingkungan korporasi, ASUS memposisikan ExpertBook sebagai jawaban atas tiga tuntutan utama: performa, keamanan, dan daya tahan. Fokus pada kualitas, durabilitas, dan layanan purnajual yang digaungkan tim dengan latar belakang engineering memperkuat kesan bahwa ExpertBook bukan sekadar versi "kantoran" dari laptop konsumer, melainkan perangkat yang memang dirancang untuk bertahan di siklus hidup enterprise yang panjang.
Di sinilah letak pergeseran penting: ASUS tidak lagi mengandalkan reputasi kuat di pasar konsumer sebagai satu-satunya senjata, tetapi membangun identitas laptop bisnis ASUS sebagai portofolio tersendiri yang relevan dengan agenda transformasi digital perusahaan, mulai dari standar ketahanan, sertifikasi industri, hingga fitur keamanan kelas enterprise. Ketika pasar bergerak ke arah AI, pondasi ExpertBook yang sudah tertanam memberi platform yang siap di-upgrade menjadi AI-first, bukan dibangun ulang dari nol.
ExpertBook P5 Ryzen AI: Simbol Era AI-First di Kantor
Peluncuran ExpertBook P5 berbasis AMD Ryzen AI adalah pernyataan bahwa ASUS melihat masa depan laptop bisnis sebagai perangkat AI-first, bukan sekadar PC dengan spesifikasi tinggi. Dengan prosesor AMD Ryzen AI 400 Series dan Neural Processing Unit hingga 60 TOPS, laptop ini dirancang untuk memproses kecerdasan buatan langsung di perangkat tanpa bergantung terus-menerus pada cloud. Langkah ini sejalan dengan pergeseran persaingan pasar laptop bisnis yang semakin mengarah ke pemanfaatan AI sebagai motor produktivitas.
Secara praktis, ExpertBook P5 Ryzen AI memindahkan banyak tugas yang dulu bergantung layanan daring ke level perangkat: membuat ringkasan dokumen, menyusun notulen rapat, mengolah gambar, hingga menjalankan aplikasi AI generatif langsung dari laptop. Manfaatnya dua arah: pekerjaan menjadi lebih cepat karena tidak bergantung koneksi internet, dan perusahaan mendapatkan kendali lebih baik atas alur datanya. Ini ilustrasi konkret bagaimana laptop dengan AI lokal mengubah definisi "perangkat kerja" menjadi partner cerdas yang ikut berpikir, bukan hanya mesin eksekusi perintah.
Menurut Eric Khoven, ASUS ExpertBook P5 G2 dirancang bukan hanya bertenaga, tetapi juga mengikuti standar keamanan dan ketahanan kelas dunia. Pernyataan itu penting karena menegaskan bahwa fokus AI tidak mengorbankan pilar klasik laptop bisnis: reliability dan durabilitas. ASUS juga menegaskan perhatian pada aspek keberlanjutan dan transparansi jejak karbon, menunjukkan bahwa inovasi AI dan agenda ESG bisa berjalan beriringan, sebuah kombinasi yang kian dicari oleh perusahaan besar.

Local AI sebagai Senjata Pembeda di Segmen Profesional
Di tengah hype AI, mayoritas vendor berlomba mempromosikan integrasi dengan layanan cloud dan platform AI generatif eksternal. ASUS mengambil sudut berbeda: menjadikan local AI sebagai pembeda utama di pasar laptop bisnis profesional. Dengan komputasi AI yang berjalan langsung di perangkat, informasi sensitif dapat diproses tanpa harus meninggalkan laptop, yang berarti risiko kebocoran data dapat ditekan signifikan. Di era kebocoran data dan regulasi privasi yang kian ketat, argumen ini jauh lebih relevan bagi CIO dibanding sekadar klaim performa mentah.
Senior Solution Architect AMD, Eric Sugiono, menegaskan bahwa dengan local AI, data sensitif tidak perlu dikirim ke cloud sehingga privasi lebih terjaga. Ini memindahkan percakapan dari "seberapa pintar AI laptop" ke "seberapa aman dan terkendali prosesnya". Bagi sektor keuangan, kesehatan, atau pemerintahan, pendekatan laptop dengan AI lokal bukan hanya fitur menarik, melainkan prasyarat untuk mengadopsi AI secara lebih luas.
Strategi ini selaras dengan kebutuhan perangkat kerja berperforma tinggi, aman, dan siap mendukung kerja hybrid yang makin kompleks. ASUS tampak sadar bahwa memenangkan pertumbuhan pasar laptop bisnis tidak cukup dengan spesifikasi; perlu narasi keamanan dan kepatuhan yang kuat. Kolaborasi erat dengan AMD untuk menghadirkan kombinasi performa AI, efisiensi daya, dan keamanan data memperkuat pesan bahwa mereka membidik organisasi yang serius mengintegrasikan AI ke proses bisnis inti, bukan hanya mencoba-coba.
Menuju 2027–2028: Mimpi Nomor Satu atau Target Realistis?
Dengan pertumbuhan 117% dan lonjakan pangsa pasar menjadi 17% di awal tahun berikutnya, target ASUS menjadi merek PC komersial nomor satu pada akhir 2027 dan pemimpin pasar laptop bisnis pada 2028 terdengar berani, tetapi tidak utopis. Kombinasi momentum pertumbuhan, penguatan lini ExpertBook, dan penempatan ExpertBook P5 sebagai ikon era AI-first menjadi landasan peta jalan tersebut.
Namun untuk mengubah ambisi menjadi realitas, ASUS harus membuktikan bahwa strategi AI-first ini mampu memberi dampak nyata di lapangan: penurunan biaya operasional, produktivitas yang terukur, dan pengalaman pengguna yang lebih baik bagi karyawan. Perusahaan tidak akan mengganti armada laptop hanya karena ada NPU 60 TOPS; mereka butuh alasan bisnis yang jelas. Di sinilah pentingnya ekosistem software, layanan purnajual, dan kemampuan tim lokal menerjemahkan fitur AI menjadi solusi spesifik industri.
Kesimpulannya, ASUS bergerak pada arah yang tepat: memanfaatkan pertumbuhan pasar laptop dan tren AI untuk memosisikan laptop bisnis ASUS sebagai standar baru perangkat kerja berbasis AI lokal. Jika mereka dapat menjaga konsistensi kualitas, memperkuat dukungan enterprise, dan membuktikan manfaat konkret ExpertBook P5 Ryzen AI di dunia nyata, posisi puncak pasar bukan lagi soal "jika", melainkan soal "kapan".






