Temukan minat Anda, bersama

Promo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Temukan minat Anda, bersamaPromo pilihan, ulasan jujur, dan cerita belanja dari mereka yang seminat dengan Anda — setiap hari di Kuybeli.

Panduan Orang Tua Membangun Body Image Sehat pada Anak

Panduan Orang Tua Membangun Body Image Sehat pada Anak
Minat|Pengetahuan Parenting

Memahami Body Image Anak: Titik Mulai Orang Tua

Body image anak adalah cara anak memandang, merasakan, dan menilai penampilan tubuhnya sendiri, yang dipengaruhi oleh komentar orang di sekitarnya, perubahan fisik, serta paparan media sosial, dan akan berdampak langsung pada kepercayaan diri anak serta kebiasaan mereka merawat tubuh di masa tumbuh kembang. Body image yang sehat bukan berarti anak selalu puas dengan penampilan tubuhnya, melainkan mampu menghargai tubuh dan tidak menjadikan bentuk fisik sebagai ukuran utama nilai dirinya. Anak mulai sadar penampilan tubuh sejak usia praremaja; membandingkan tinggi badan, berat, warna kulit, hingga gaya berpakaian dengan teman adalah bagian dari perkembangan sosial. Tantangannya, ketika perbandingan itu berubah menjadi perasaan “kurang”, self-esteem remaja bisa turun dan memicu kecemasan. Di sinilah peran orang tua sangat penting: cara kita berbicara tentang tubuh, makanan, dan penampilan ikut membentuk bagaimana anak memandang dirinya sendiri.

Panduan Orang Tua Membangun Body Image Sehat pada Anak

Merawat Tubuh Sebagai Self-Love, Bukan Tuntutan Sempurna

Sebelum mengubah cara anak melihat penampilan tubuh, orang tua perlu memahami dulu apa yang mereka lihat dan dengar setiap hari, termasuk dari media sosial. Kunci utama mengajarkan perawatan diri adalah menanamkan bahwa merawat tubuh adalah bentuk self-love, bukan tuntutan tampil sempurna. Jelaskan bahwa mandi, menjaga kebersihan, makan bergizi, tidur cukup, dan olahraga adalah cara menjaga tubuh tetap sehat dan nyaman, bukan proyek mengubah bentuk tubuh agar sesuai standar ideal. Hindari komentar yang menilai penampilan tubuh anak, seperti “kurusan”, “gendutan”, atau mengeluh tentang tubuh sendiri di depan mereka, karena cara orang tua berbicara tentang tubuh bisa memengaruhi cara anak memandang dirinya sendiri. Tekankan bahwa penampilan tubuh anak boleh berubah, tetapi nilai dirinya tetap sama. Pujian pun sebaiknya diarahkan ke usaha, kepribadian, dan kemampuan, bukan hanya fisik, agar kepercayaan diri anak bertumpu pada hal yang lebih kokoh.

  1. Ajak anak ngobrol santai tentang tubuh dan kesehatan, mulai dari kebiasaan sehari-hari seperti mandi, sikat gigi, makan, dan tidur, lalu tekankan bahwa semua itu dilakukan karena tubuh mereka berharga dan layak dirawat.
  2. Saat mengajarkan kebiasaan baru (misalnya olahraga atau skincare dasar), jelaskan manfaatnya bagi kesehatan dan kenyamanan, bukan untuk terlihat lebih kurus, cantik, atau tampan di mata orang lain.
  3. Perhatikan cara Anda mengomentari tubuh, baik tubuh anak maupun tubuh sendiri; hentikan kebiasaan mengkritik bentuk tubuh dan ganti dengan bahasa yang menghargai fungsi dan kekuatan tubuh.
  4. Berikan pujian yang tulus pada kepribadian, kemampuan, dan kerja keras anak, sehingga kepercayaan diri anak tumbuh dari hal-hal yang bisa mereka kembangkan, bukan dari penampilan tubuh yang sering di luar kendali.
  5. Bangun rutinitas perawatan diri yang sederhana dan konsisten, sambil mengingatkan bahwa tujuan kita bukan membuat penampilan sempurna, tetapi menjaga tubuh tetap sehat dan nyaman untuk melakukan hal-hal yang mereka sukai.
Panduan Orang Tua Membangun Body Image Sehat pada Anak

Merespons Anak yang Membandingkan Tubuhnya dengan Teman

Ketika anak mulai berkata, “Aku gendut,” atau “Kenapa aku paling pendek di kelas?”, jangan langsung panik. Membandingkan diri dengan teman adalah bagian dari perkembangan sosial, tetapi orang tua perlu hadir ketika perbedaan fisik membuat anak merasa dirinya kurang berharga. Kesalahan yang sering terjadi adalah buru-buru menyanggah dengan kalimat seperti, “Ah, kamu nggak gemuk, kok!” atau “Jangan ngomong gitu, kamu tuh cantik.” Respons seperti ini bisa membuat anak merasa tidak didengar. Sebelum memberi solusi, dengarkan dulu isi pikiran dan perasaan mereka. Bisa jadi yang ingin disampaikan bukan sekadar soal ukuran tubuh, melainkan rasa takut tidak diterima teman. Psikolog anak dan peneliti body image menjelaskan bahwa orang tua punya peran penting dalam membantu anak membangun persepsi tubuh yang sehat dengan cara berbicara yang lebih peka. Percakapan terbuka sejak awal akan membuat anak tahu bahwa ia punya tempat aman untuk bercerita ketika mulai tidak nyaman dengan dirinya.

Panduan Orang Tua Membangun Body Image Sehat pada Anak

Dampingi Remaja Menghadapi Kecemasan Body Image Saat Pubertas

Saat pubertas, penampilan tubuh anak berubah cepat: tinggi badan, berat, bentuk tubuh, kulit, dan rambut bisa berganti dalam waktu singkat. Tidak semua anak yang membandingkan tubuhnya sedang mengalami masalah body image, namun orang tua perlu waspada ketika pembicaraan soal tubuh makin sering dan mulai memengaruhi perilaku, misalnya anak terus mengatakan dirinya gemuk, jelek, atau tidak menarik. Fokuskan obrolan pada kemampuan, minat, dan karakter, bukan penampilan tubuh anak. Tekankan bahwa penampilan bukanlah segalanya dan bahwa rasa percaya diri tidak muncul hanya karena diminta, tetapi tumbuh dari pengalaman merasa didengar dan diterima. Jika anak masih tidak nyaman dengan bentuk tubuhnya, beri pengertian dengan lembut, misalnya, “Gapapa kalau kamu belum suka bentuknya, tapi kami tetap bangga dan percaya sama kemampuan kamu.” Dengan pendampingan yang tepat, anak akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri dan menghargai dirinya sendiri, meski penampilan tubuhnya tidak sesuai standar ideal di sekitarnya.

Panduan Orang Tua Membangun Body Image Sehat pada Anak

Menangkal Pengaruh Negatif Media Sosial dan SkinnyTok

Konten tentang bentuk tubuh, makanan, dan olahraga sangat mudah ditemukan anak dan remaja di media sosial. Salah satu tren yang perlu diwaspadai adalah SkinnyTok, yang menampilkan tubuh sangat kurus, diet ketat, dan standar penampilan yang sulit dicapai. Konten seperti ini bisa membuat body image anak terganggu karena mereka terus membandingkan penampilan tubuh dengan standar yang tidak realistis dan mulai menganggap tubuh kurus sebagai ukuran keberhasilan atau nilai diri. Orang tua tidak cukup hanya melarang; pertama-tama cari tahu dulu tren apa yang anak lihat, siapa yang mereka ikuti, dan mengapa konten itu menarik bagi mereka. Perhatikan perubahan cara mereka melihat tubuh, makanan, atau olahraga setelah sering melihat konten semacam itu. Daripada hanya melarang, ajarkan anak berpikir kritis: tanyakan apakah foto memakai filter, mengapa orang memilih foto terbaik untuk diunggah, dan bagaimana perasaan anak terhadap dirinya setelah melihat konten tersebut. Media sosial pengaruh anak bisa besar, tetapi dengan dialog yang jujur dan sikap kritis, orang tua dapat membantu anak membangun self-esteem remaja yang lebih tahan terhadap standar penampilan yang tidak sehat.

Panduan Orang Tua Membangun Body Image Sehat pada Anak

Kuybeli memperoleh komisi saat Anda berbelanja melalui tautan kami, tanpa biaya tambahan untuk Anda.

You May Also Like

Comments
Tulis sesuatu...
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!