Emosi dari layar bisa terbawa
Emotional contagion adalah penularan emosi yang membuat seseorang ikut merasakan suasana emosional yang ia temui, termasuk melalui konten media sosial yang ditonton berurutan. Istilah ini membantu menjelaskan mengapa suasana hati dapat berubah meski tidak ada peristiwa baru dalam kehidupan pribadi. Konten sedih, menghibur, atau memancing amarah bisa menghadirkan nada emosi yang berbeda dalam waktu singkat. Saat satu video berakhir, unggahan berikutnya mungkin membawa perasaan yang berlawanan, sehingga pengalaman scrolling terasa seperti naik turun. Dokter Aditya Surya Pratama menyebut perubahan cepat ini sebagai emotional contagion atau penularan emosi secara kilat. Ini bukan berarti setiap unggahan otomatis mengubah perasaan semua orang. Namun, paparan beruntun dapat membentuk suasana yang kita rasakan saat layar ditutup. Karena itu, emosi media sosial layak diperhatikan sebagai bagian dari pengalaman digital, bukan dianggap selalu mencerminkan keadaan hati yang sesungguhnya.

Mengapa malam terasa lebih emosional?
Scrolling malam hari bisa terasa lebih intens karena berlangsung setelah otak menjalani aktivitas seharian. Menurut penjelasan Aditya, bagian prefrontal cortex yang berperan dalam logika dan kontrol emosi dapat mengalami kelelahan pada malam hari. Ketika kemampuan mengatur respons melemah, seseorang bisa lebih sensitif dan lebih mudah larut dalam konten yang ditonton. Ini salah satu alasan perubahan suasana hati terasa mendadak, bukan bukti bahwa seseorang kurang kuat menghadapi emosi. Pola konten juga ikut berperan: algoritma dapat menyajikan video singkat dengan intensitas emosi tinggi secara berturut-turut. Perpindahan cepat dari cerita lucu ke kisah menyedihkan atau memancing reaksi memberi sedikit ruang untuk menata perasaan. Kombinasi waktu, kelelahan, dan aliran konten membuat pengalaman malam berbeda dari melihat satu unggahan secara terpisah.

Tarikan untuk terus menggulir
Perubahan emosi bukan satu-satunya hal yang membuat sesi malam terasa sulit dihentikan. Video pendek menghadirkan mekanisme intermittent rewards: setiap usapan layar membawa kemungkinan menemukan konten yang lucu, menarik, atau menyedihkan, tetapi hasilnya tidak diketahui sebelumnya. Ketidakpastian itu dikaitkan dengan pelepasan dopamin dalam penjelasan Aditya. Maka, keinginan untuk melihat satu unggahan lagi bisa muncul bahkan ketika perasaan mulai terasa campur aduk. Di sini, persoalannya bukan menyalahkan diri sendiri karena terus menggulir, melainkan memahami bahwa format dan urutan konten ikut membentuk pengalaman. Kesadaran ini penting agar perubahan suasana hati tidak langsung dianggap sebagai gambaran utuh tentang diri atau kehidupan. Pada akhirnya, scrolling malam hari bukan aktivitas yang otomatis buruk, tetapi perpaduan lelah dan konten beremosi tinggi patut disikapi dengan sadar.






