Serenify membawa kepedulian emosional ke desain aplikasi
Aplikasi kesehatan mental remaja adalah layanan digital yang membantu anak muda mengenali keadaan emosional, membangun kebiasaan sehat, dan mengakses dukungan awal, tanpa menggantikan penilaian tenaga profesional. Serenify memperlihatkan bagaimana gagasan itu dapat diterjemahkan menjadi rancangan yang dekat dengan kebutuhan pengguna. Tim mahasiswa Sistem Informasi Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI)—Mochammad Rayhan, Oktavia Citra Ramadani, dan Nur Ika Widiafani—meraih Juara 1 kategori UI/UX INSYFEST 2026. Babak final berlangsung daring pada 18 Oktober, sedangkan pemenang diumumkan pada 21 Oktober. Aplikasi ini menawarkan konsultasi psikolog, AI Chat, pencatatan suasana hati, serta skrining dengan PHQ-9. Kombinasi tersebut berguna sebagai pintu masuk untuk memahami kondisi diri, tetapi batasnya harus jelas: hasil skrining bukan diagnosis dan tidak menggantikan bantuan profesional. Di tengah tren inovasi teknologi mental health, kemenangan ini menegaskan bahwa rancangan yang empatik sama pentingnya dengan fitur yang canggih.
Behavix mengajak remaja memahami pola perilaku
Jika Serenify berangkat dari pemantauan emosi, Behavix menyasar regulasi diri dan risiko perilaku seksual kompulsif. Tim lintas disiplin Universitas Airlangga meraih medali perak di International Science and Invention Fair ke-8; presentasi berlangsung 15 Oktober 2026 dan penghargaan diumumkan dua hari kemudian. Sebelum merancang platform intervensi perilaku ini, tim mengumpulkan masukan dari sekitar 300 responden dan melakukan wawancara di dua sekolah di Lamongan. Check-in harian, jurnal, pelacakan progres, dan rekomendasi personal dirancang agar pengguna dapat mengenali kebiasaan, bukan sekadar menerima instruksi. Pendekatan tersebut lebih menjanjikan daripada nasihat satu arah, tetapi kerahasiaan dan keamanan data tetap harus menjadi syarat utama. Behavix berbentuk aplikasi web progresif dan tim berencana menyempurnakannya, mempertimbangkan persetujuan etik, serta mengupayakan ketersediaan di Google Play. Tim juga menegaskan platform ini adalah dukungan awal, bukan pengganti psikolog. Sikap hati-hati itu penting agar kompetisi inovasi kesehatan tidak berhenti pada penghargaan, melainkan menghasilkan layanan yang bertanggung jawab.

Mind-Visualizer menguji pendekatan untuk kecemasan akademik
Tekanan belajar, kurikulum, dan ujian menjadi sasaran Mind-Visualizer, aplikasi berbasis situs web karya Jihan Adila dan Wawa Annaisa Ridda dari MAN 1 Banda Aceh. Keduanya masuk 30 besar nasional Olimpiade Madrasah Indonesia bidang Riset. Aplikasi ini memadukan visualisasi geometri, audio-visual interaktif, latihan pernapasan, dan ruang terapi mandiri dengan pendekatan terapi perilaku kognitif. Dalam uji kuasi-eksperimen terhadap 60 siswa dengan kecemasan akademik sedang hingga tinggi, skor rata-rata kelompok eksperimen turun dari 41,33 menjadi 24,73 setelah menggunakan aplikasi; hasil uji statistik menunjukkan perbedaan signifikan. Angka itu layak diperhatikan, tetapi bukan bukti bahwa aplikasi akan memberi hasil sama bagi semua remaja: pengujian dilakukan pada satu madrasah dan melibatkan jumlah peserta terbatas. Bersama Serenify dan Behavix, karya ini menunjukkan bahwa inovasi kesehatan mental kini tumbuh dari kampus hingga sekolah. Tantangan berikutnya bukan hanya meraih pengakuan, melainkan menguji manfaat, menjaga privasi, dan memastikan pengguna tahu kapan mereka perlu mencari bantuan profesional.






